Gunung Anak Krakatau Status Waspada Wisatawan Dihimbau Tak Mendekat

KAMIS 8 DESEMBER 2016

LAMPUNG-Kondisi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang ada di Selat Sunda perbatasan Provinsi dan Provinsi Banten hingga saat ini masih dalam level II atau waspada. Menurut Andi Suardi, petugas pengamatan Gunung Anak Krakatau di pos pengamatan Desa Hargo Pancuran Lampung Selatan kondisi tersebut terpantau terjadi hingga minggu ketiga bulan November. Dominasi kegempaan (seismik) vulkanik dangkal dengan intensitas fluktuatif diakui oleh petugas pengamatan tercatat rata rata di bawah 100 kegempaan per hari. Pada Oktober tercatat aktivitas kegempaan mencapai 72 kegempaan per hari sementara pada November tercatat rata rata 88 kegempaan per hari.
Gunung Krakatau terlihat dari pesisir pantai Rajabasa.
Andi juga mengungkapkan pengamatan secara visual aktivitas gunung di tengah laut tersebut bisa diamati menggunakan alat khusus berupa teropong. Dalam kondisi visibilitas yang baik aktivitas magmatik gunung di Selat Sunda tersebut bahkan bisa diamati dengan menggunakan mata telanjang sehingga bisa terlihat arah asap yang membubung berdasarkan arah angin berhembus. Meski demikian pada kondisi tertentu akibat pengaruh cuaca visibilitas terganggu akibat mendung dan terlihat samar atau tak terlihat sama sekali.
“Jika kondisi cerah visibilitasnya tinggi kita bisa melihat gugusan kepulauan Krakatau mulai dari Rakata besar, Anak Krakatu serta pulau pulau di sekitarnya namun jika mendung sama sekali tidak terlihat bahkan meski menggunakan teropong,”ungkap petugas pengamatan Gunung Anak Krakatau Andi Suardi, Kamis (8/12/2016). 
Selain pengamatan secara visual, pemantauan aktifitas Gunung Anak Krakatau juga dilakukan dengan menggunakan alat pendeteksi gempa (seismograf) yang ada di kantor pengamatan tersebut. Alat pendeteksi gempa tersebut mencatat perkembangan aktivitas harian yang selanjutnya akan dicatat dibuku register khusus untuk dilaporkan ke bagian pencatatan aktivitas gempa di Jawa Barat karena pengamatan gunung di Lampung tersebut berada di bawah kendali kantor vulkanologi dan mitigasi bencana geologi di Bandung.
Pemantauan tersebut ungkap Andi dilakukan dengan menggunakan satelit dimana beberapa alat dengan sumber daya tenaga surya diletakkan di sekitar pal 7 lereng Gunung Anak Krakatau. Data tersebut selanjutnya diteruskan ke kantor pengamatan dan terkoneksi ke kendali kantor vulkanologi dan mitigasi bencana geologi di Bandung. Ia mengungkapkan hingga saat ini aktivitas gunung tersebut belum mengganggu aktivitas masyarakat yang ada di sekitar jangkauan gunung dan juga bagi kegiatan nelayan. Namun ia menghimbau agar nelayan lebih berhati hati dan waspada.
Berdasarkan data, menurut Andi kegempaan Gunung Anak Krakatau mengalami penurunan drastis sejak Desember 2011 hingga status aktivitas gunung tersebut diturunkan dari level III (Siaga) menjadi level II (Waspada) pada Januari 2012. Letusan cukup besar terjadi pada 2 September 2012 dengan kolom asap kelabu mencapai tinggi 1000 meter diikuti dengan letusan strombolian dan diakhiri dengan leleran lava yang mengalir ke arah Tenggara dan Baratdaya. Letusan pada 2013 pada akhir Maret dan pertengahan Mei hingga saat ini pada 2016 status Gunung Anak Krakatau ditetapkan dalam level II (Waspada).
Sebelumnya pihak Badan Geologi Kementerian Sumber Daya Mineral RI menghimbau agar warga yang tinggal di wilayah pantai Banten maupun Lampung dihimbau untuk tenang dan jangan mudah percaya pada isu isu terjadinya erupsi yang berpotensi tsunami. Masyarakat yang mendapatkan informasi tidak benar tersebut bahkan telah disosialisasikan untuk melakukan konfirmasi ke nomor telepon (022) 72722626 atau (0254) 651449.
Terkait kondisi Gunung Anak Krakatau yang ada di Selat Sunda tersebut sejumlah masyarakat di Pulau Sebesi Lampung bahkan terlihat tak pernah kuatir. Sebagai pulau yang terdekat dengan gugusan Kepulauan Krakatau sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani dan nelayan.
Aktivitas vulkanik gunung berapi yang ada di tengah laut tersebut terakhir mengalami letusan cukup keras pada  2012 namun peristiwa letusan tersebut bagi masyarakat Pulau Sebesi justru menjadi pertanda bagus karena aktivitas magmatik yang dimuntahkan melalui kawah dan kubah gunung berapi tersebut membuat aktivitas gunung normal.
“Kalau asap setiap hari terlihat dari Pulau Sebesi terutama dalam kondisi cuaca cerah bahkan dari pesisir Rajabasa namun kami justru kuatir jika selama bertahun tahun Krakatau tidak mengeluarkan letusan letusan kecil,”ungkap Sobri warga Pulau Sebesi saat dihubungi melalui saluran telepon.
Andi Suardi petugas pengamatan Gunung Krakatau di Desa Hargo Pancuran Lampung Selatan.
Kondisi perairan di sekitar Gunung Krakatau yang menghadap langsung ke Samudera Hindia mengakibatkan sebagian nelayan enggan melakukan aktivitas melaut di sekitar gunung tersebut. Sobri bahkan mengakui masyarakat nelayan sengaja tidak melakukan aktivitas melaut di sekitar Kakatau bukan karena takut meletus atau Tsunami melainkan kondisi perairan tersebut yang berhadapan dengan laut lepas kerap berubah sewaktu waktu dengan kondisi gelombang yang tidak bersahabat. Beberapa wisatawan yang sudah terlanjur datang sebagian sengaja menikmati keindahan alam di sekitar Pulau Sebesi yang menawarkan spot untuk menyelam (diving) dan snorkeling.
Terkait larangan mendekati wilayah Krakatau Kepala Baali Konservasi Sumber Daya Alam (BLSDA) Bengkulu-Lampung Teguh Ismanto mengungkapkan larangan wisatawan mendekati Krakatu lebih karena saat ini kawasan tersebut dilarang untuk kegiatan selain kegiatan pendidikan dan penelitian. Ia bahkan menegaskan secara resmi status kawasan cagar alam dan laut Kepulauan Krakatau dikelola oleh BKSDA Bengkulu melalui seksi konservasi wilayah III Lampung dan di bawah Direktorat Jenderal
KSDA Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Selain untuk kegiatan penelitian dan pendidikan, pembatasan juga dilakukan karena saat ini status cagar alam laut dan kepulauan Krakatau masih dalam tahap pembahasan dan kajian untuk diusulkan menjadi Taman Wisata Alam (TWA). Meski demikian usulan tersebut masih dibahas oleh instansi terkait.
Wisatawan dari luar negeri yang akan mengunjungi Krakatau.
 Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Lihat juga...