Peringati Sumpah Pemuda Dalam Semangat Pengamalan Pancasila

KAMIS, 27 OKTOBER 2016

JAKARTA — Hari Sumpah Pemuda yang jatuh tepat pada tanggal 28 Oktober setiap tahunnya diperingati oleh Gema Gong Pancasila (Gerakan Masyarakat Gotong Royong Pancasila) mulai tanggal 27-28 Oktober 2016 di Museum Kebangkitan Nasional, Jl. Abdulrachman Saleh Raya Jakarta Pusat.
Pembacaan Naskah Sumpah Pemuda
Acara Peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-88 tahun 2016 dimulai dengan upacara pembacaan Pancasila, Ikrar Sumpah Pemuda, dan Teks Proklamasi dan dilanjutkan dengan Dialog dan Seminar Nasional Kebangsaan Indonesia dengan mengangkat tema utama Keprihatinan Nasib Anak Bangsa Indonesia, dan sub tema Satu Tujuan Kita Tujuan Kita Satu.
Upacara Hari Sumpah Pemuda dihadiri oleh seluruh pengurus Majelis Gema Gong Pancasila, Kesultanan Jailolo, Kesultanan Gowa, Kepala Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas), perwaklan elemen masyarakat dari seluruh Indonesia, perwakilan komunitas-komunitas seni, dan beberapa sekolah yang berada di sekitar Muskitnas termasuk SMA 1 Budi Utomo, Jakarta Pusat.
Dalam sambutannya di tengah upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-88 di Jakarta, Pimpinan Majelis Gema Gong Pancasila, Wardi Jien, S.H. mengimbau seluruh elemen bangsa dari seluruh Indonesia untuk menempatkan Pancasila sebagai falsafah hidup masing-masing pribadi dan mengembalikan keaslian UUD 1945.
Masih menurut Wardi Jien, Gema Gong Pancasila memiliki 5 (lima) seruan bagi seluruh komponen bangsa melalui peringatan Hari Sumpah Pemuda, yaitu :
1. Setia dan cinta pada Pancasila (bukan Komunis, bukan Teroris, bukan ISIS).
2. Siap bersatu, rukun, bergotong royong, demi mewujudkan Indonesia berdaulat, adil dan makmur.
3. Bersama TNI/Polri mewujudkan keamanan dan ketertiban demi keutuhan NKRI (NKRI Harga Mati).
4. Siap berperang terhadap segala bentuk penyalahgunaan Narkoba.
5. Siap melawan dan memberantas korupsi.
Pemuda Indonesia harus bisa mengadopsi semangat dan perbuatan para pejuang atau pendahulu bangsa yang tetap setia terhadap kedaulatan bangsa Indonesia dan setia kepada falsafah hidup bangsa yakni Pancasila. Para generasi muda harus mampu menggali arti dari Pancasila itu sendiri dan menjabarkannya dalam perilaku sehari-hari.
Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan menjadikan perbedaan sebagai sebuah kekuatan yang menyatukan adalah salah satu wujud pengamalan Pancasila, mulai dari sila pertama hingga sila kelima.
Artinya adalah, dalam sila pertama, menjadi bangsa Indonesia yang percaya Tuhan dan memeluk agama berbeda tidak seharusnya saling menghina dan menyudutkan pemeluk agama berbeda dengan alasan apapun. Agamaku adalah agamaku, aku menyembah Tuhan dan begitu pula kamu, agamamu adalah agamamu, tapi walaupun berbeda kamu dan aku adalah saudara sebangsa, yaitu bangsa Indonesia.
Dengan pengamalan sila pertama dalam Pancasila seperti diatas, maka setiap elemen bangsa akan berlaku lebih beradab terhadap sesama saudara sebangsanya tanpa membedakan suku maupun agama yang dianut. Disinilah letak pengamalan sila kedua dari Pancasila. Jika sudah bisa menjadi bangsa yang beradab sesuai sila pertama dan kedua, maka tujuan murni dari sila ketiga dalam Pancasila akan tercapai yaitu Persatuan Indonesia.
Apabila menemukan permasalahan, maka sudah seharusnya diselesaikan dengan cara beradab dalam sebuah musyawarah untuk mencapai kata mufakat melalui lembaga-lembaga resmi yang memang mengatur atau mendapat mandat untuk menyelesaikan permasalahan. Ini menjadi pengamalan dari sila keempat Pancasila, yaitu Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
Setelah mampu mengamalkan sekaligus berperilaku seperti sila pertama hingga sila keempat dari Pancasila, maka pembangunan bangsa Indonesia dapat terlaksana dengan baik demi mewujudkan sila kelima dari Pancasila, yaitu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Rangkaian diatas adalah salah satu contoh mata rantai pengamalan Pancasila yang jika dilakukan oleh seluruh elemen bangsa Indonesia maka perjuangan untuk mengisi kemerdekaan yang sudah dicapai oleh para pendiri bangsa ini akan terlaksana dengan baik. Bagaimana jika semua hal yang dilakukan adalah bersendikan pengamalan dari Pancasila, maka bukan tidak mungkin negara ini akan menjadi negara dengan rakyat paling bahagia di dunia.
Para Undangan Acara peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-88, 28 Oktober 2016 di Museum Kebangkitan Nasional, sesaat sebelum acara dimulai
Sudah ada contoh sebuah bangsa atau negara yang sekarang menjadi negara dengan rakyat paling bahagia di dunia, yaitu Denmark. Apa rahasia mereka menjadi seperti itu, dan jawaban mereka adalah karena Pancasila, yang telah mereka pelajari, mereka teliti, dan terapkan dalam kehidupan berbangsa mereka sehari-hari. Lalu mengapa bangsa Indonesia yang sudah menginspirasi bangsa lain masih mau menepikan Pancasila dari sendi-sendi kehidupan bangsa ini.
Dengan Pancasila pula maka bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang menghargai budaya bangsa sendiri, sekaligus menjadikan budaya tersebut sebagai identitas.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...