DPR Minta Pemerintah Bentuk BUMN Khusus ‘Panas Bumi’

SELASA, 25 OKTOBER 2016

JAKARTA — Pimpinan DPR RI dan Komisi Energy telah menyepakati Pembentukan BUMN Khusus dengan cara melebur beberapa anak usaha BUMN di bidang panas bumi, yakni Pertamina Geothermal Energi, PT.PLN Geothermal Energy, dan PT. Geo Dipa Energi.
Anggota Komisi VII DPR RI, Satya Widya Yudha menilai, pengembangan energi panas (Geothermal) bumi selama ini masih sulit karena dikerjakan oleh BUMN yang memiliki lingkup kerja yang luas, seperti PT.Perusahaan Listrik Negara
Komisi VII, jelas dia, dalam hal ini juga telah berupaya untuk memisahkan dari industri industri yang tidak bergerak di bidang tersebut. Jadi, dengan adanya BUMN Khusus, maka PT. PLN (Persero) tidak lagi mengurusi panas bumi, tapi secara khusus mengurusi kelistrikan.
“Kita menyimpulkan bahwa akan lebih baik dan merekomendasikan kepada pemerintah agar BUMN yang sudah ada yakni Geothermal dijadikan satu,” kata Satya di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Selasa, (25/10/2016).
Dikatakan, penyatuan ketiga perusahaan BUMN tersebut, diharapkan bisa mengembangkan energi panas bumi. Sebab, potensi panas bumi di Indonesia mencapai 29 Giga Watt. Sedangkan yang telah termanfaatkan baru sekitar 5 persen atau sebesar 1.500 Mega Watt.
“Kita ingin PT. PLN tetap mengembang diri sebagai perusahaan yang membangkitkan listrik. Sementara yang mensuplai energi primernya biarkan dari perusahaan seperti Geothermal, Itu yang menjadi ide dasarnya, jangan sampai dicampur dengan yang lain,” imbuhnya.
Untuk itu, Pimpinan DPR RI bersama pimpinan komisi, dan juga Satya Widya Yudha sebagai ketua Kaukus Ekonomi Hijau (KEH) meminta pemerintah supaya BUMN disatukan agar bisa diberi kemudahan apabila dilakukan investasi Geothermal di Indonesia.
“Menurut hemat saya akan menjadi langkah yang tepat dari pemerintah kalau nanti dijalankan, sehingga pengembangan Geothermal bisa kita harapkan berkembang dengan baik. Karena cadangan yg terbukti Hampir sekitar 27 ribu MW sementara instol kapasitinya 1500 MW. Jadi masih banyak cadangan panas bumi yang belum dimaksimalkan,” Tuturnya
Satya mengakui, permasalahan yang mendasar di dalam pengembangan Geothermal tersebut yakni mengenai harga dan juga resiko eksplorasi yang kadang tidak begitu menguntungkan.
“Itu yang menjadi fokus kami di Komisi VI akan mencari formula supaya pengembangan Geothermal akan mendapat perhatian khusus pada sisi hulunya, sehingga bisa menghasilkan uap, lantas dikonversikan menjadi energi panas, dan menjadi listrik. Maka perbaikan tipe internal di hulu dapat perhatian,” tutupnya.

Jurnalis  Adista Pattisahusiwa  Editor  ME. Bijo Dirajo  Foto  Adista Pattisahusiwa

Lihat juga...