Tudingan Turki, Alumni dan Orangtua Siswa Sekolah Kesatuan Bangsa Yogyakarta Tenang Saja

SELASA, 2 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA — Tak hanya pihak sekolah, sejumlah alumni dan orangtua siswa Sekolah Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School di Sedayu, Bantul, juga merasa heran dengan tudingan Pemerintah Turki. Namun, orangtua siswa dan alumni mengaku tetap tenang dan tak percaya dengan tudingan Pemerintah Turki tersebut.

Selama ini, orangtua siswa Sekolah Kesatuan Bangsa menanggapi dingin tudingan Pemerintah Turki terkait kudeta Gulen di Turki. Mereka percaya, jika selama ini para siswa dididik dengan disiplin yang tinggi, dan selama ini pun orangtua siswa merasa anaknya memiliki budi pekerti yang baik dan solidaritas yang tinggi di antara sesama.
Salah satu orangtua siswa Sekolah Kesatuan Bangsa Yogyakarta, Emy Rohayati ditemui Selasa (2/8/2016), mengatakan, selama ini dan bahkan setelah ada tudingan Pemerintah Turki, Emy mengaku tetap tenang dan yakin jika anaknya, Muhammad Fauzan, yang kini duduk di bangku Kelas 10 Sekolah Menengah Atas Kesatuan Bangsa, dididik dengan baik dan benar dan selalu diawasi. Tiga tahun berada di sekolah itu, Emy mengaku anaknya bisa lebih mandiri, cerdas, sopan, dan bisa bergaul dengan berbagai kalangan.
Di sekolah tersebut, kata Emy, para siswa berasal dari beragam latar belakang, suku, agama dan kebudayaan, dan mereka diajarkan untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Karenanya, mendengar tudingan Pemerintah Turki, Emy mengaku hanya tertawa dan tetap yakin jika tuduhan tersebut tidak benar.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh orangtua siswa lainnya, Aryanto Sukoco, yang mengaku jika setelah menempuh pendidikan di Sekolah Kesatuan Bangsa Yogyakarta, anaknya yang kini duduk di Kelas XII menjadi jauh lebih dewasa dan perilaku dan kedisiplinannya berubah signifikan. Pihak sekolah juga dinilainya memiliki visi dan misi yang jelas dalam menghadapi persaingan dunia, serta mampu membentuk karakter siswa dan mampu menanamkan sifat saling toleransi antar sesama.
Sementara itu Alumni Angkatan 2 Tahun 2015 Sekolah Kesatuan Bangsa Yogyakarta, Ahmi Yofaniar Pratiwi (19), mengungkapkan, jika selama menempuh pendidikan di Sekolah Kesatuan Bangsa itu ia merasa sama sekali tak ada pelajaran politik apa pun. Juga tidak ada bedanya dengan sekolah lain, kecuali adanya penggunaan bahasa asing dalam penyampaian mata pelajarannya.
Ahmi yang kini sedang menempuh kuliah di Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Yogyakarta itu juga menyebut, guru-guru dari negara asing seperti dari Turki juga tidak hanya pintar mengajar. Namun, juga mampu memberikan contoh keteladanan dalam perilaku sehari-hari. Karenanya, ketika mendengar ada tudingan Pemerintah Turki, Ahmi mengaku heran dan terkejut. 
“Sama sekali tudingan itu tidak berdasar, dan selama saya menempuh pendidikan di Sekolah Kesatuan Bangsa tidak ada pelajaran politik”, ujarnya.
Kepala Hubungan Masyarakat Sekolah Kesatuan Bangsa, Ahmad Ihsan, menambahkan, jika sekolah selalu mengawsi dengan ketat perkembangan anak didiknya. Bahkan, selama di sekolah dan di asrama, para siswa tak dibolehkan menggunakan telepon seluler model sekarang yang ada kamera dan sambungan internetnya. 
“Siswa hanya dibolehkan menggunakan telepon seluler tanpa kamera dan jaringan internet, itu pun hanya boleh digunakan pada jam 15.00-18.00 WIB”, jelasnya.
Menurut Ihsan, para siswa hanya dibolehkan menggunakan internet melalui jaringan WIFI milik sekolah pada jam yang dibolehkan. 
“Dengan cara itu, siswa bisa dikontrol dan diawasi dari pengaruh negatif internet”, pungkasnya. (koko)
Lihat juga...