SELASA, 2 AGUSTUS 2016
YOGYAKARTA — Sosok Fethullah Gulen bagi siswa Sekolah Kesatuan Bangsa di Sedayu, Bantul, memang tidak asing. Kendati secara resmi tidak ada pelajaran tentang sosok yang kini dianggap teroris oleh Pemerintah Turki itu, namun buku-buku dan majalah yang mengupas sosok Fethullah Gulen bisa diakses di perpustakaan sekolah setempat.
![]() |
| suasana belajar mengajar di Sekolah Kesatuan Bangsa Yogyakarta |
Seorang Siswi Kelas 8 Sekolah Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School di Sedayu, Bantul, Keisa Hanafi (13), ditemui Selasa (2/8/2016), mengaku tahu sosok Fethullah Gulen dari sebuah majalah yang ada di perpustakaan sekolahnya. Sejauh yang diketahui dari majalah itu, Fethullah Gulen adalah salah satu pendiri PASIAD (Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association/Asosiasi Solidaritas Sosial Ekonomi Pasific), yang bekerjasama dengan sekolahnya. Kecuali itu, Keisa mengatakan jika Fethullah Gulen juga seorang penulis novel dan sastrawan.
Karenanya, Keisa menganggap Pemerintah Turki terlalu berlebihan dengan meminta ditutupnya Sekolah Kebangsaan di Indonesia. Apalagi, di sekolah itu tidak ada pelajaran politik apa pun.
“Kami belajar seperti siswa pada umumnya. Hanya mungkin bedanya kami pakai bahasa asing”, ujarnya.
Keisa yang berasal dari Purworejo, Jawa Tengah dan bercita-cita menjadi dokter, selama ini mengaku senang dan nyaman bersekolah dan tinggal di asrama Sekolah Kesatuan Bangsa. Kendati pada awalnya pilihan sekolah itu datang dari kedua orangtuanya, namun setelah merasakan sendiri Keisa mengaku cocok.
![]() |
|
Keisa Hanafi, Siswi Kelas 8 SMP Sekolah Kesatuan Bangsa Yogyakarta
|
Sementara terkait buku dan majalah mengenai sosok Fethullah Gulen, Kepala Sekolah Menengah Pertama dan Menengah Atas Sekolah Kesatuan Bangsa di Sedayu, Bantul, Ahmad Nurani menjelaskan, selama ini pihak sekolah tidak pernah secara resmi mengajarkan tentang sosok Fethullah Gulen. Namun sebagai ulama dan tokoh terkenal, katanya, wajar jika kemudian buku-buku dan majalah di perpustakaannya juga mengupas ketokohan Gulen.
“Di perpustakaan kami, memang ada banyak buku yang mengupas sosok penting yang dianggap inspiratif. Tidak hanya tokoh dari negara asing, namun juga dari Indonesia seperti Gus Dur, Soekarno dan Soeharto”, jelasnya.
Ahmad mengatakan, semua koleksi perpustakaan bebas diakses selama dalam koridor pengawasan guru. Berkait buku atau majalah yang menceritakan sosok Fethullah Gulen, pun Ahmad menegaskan jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Selain karena buku yang mengupas sosok Gulen disajikan dalam bahasa asing dan bahkan dalam terjemahannya dengan tata bahasanya yang sulit dicerna siswa, juga tidak ada yang salah dengan paham Gulen.
“Fethullah Gulen itu ulama Islam aliran Sunni, mazabnya Khanafi dan banyak mengupas tentang spiritualitas Islam. Ini tidak aneh dan tidak ada yang salah. Di Indonesia pun banyak”, pungkasnya. (koko)
