SELASA, 2 AGUSTUS 2016
YOGYAKARTA — Kepala Sekolah Menengah Pertama dan Atas (SMP SMA) Kesatuan Bangsa Dua Bahasa (Bilingual Boarding School) di Argomulyo, Sedayu, Bantul, Ahmad Nurani, menganggap aneh Pemerintah Turki yang menuding 9 Sekolah Kesatuan Bangsa di Indonesia terlibat dalam jaringan Fethullah Gulen Terrorist Organization (FETO) yang dipayungi oleh Yayasan Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association (PASIAD) di Indonesia.

Meski sejak berdirinya pada tahun 2011 Sekolah Kesatuan Bangsa di Bantul memang pernah menjalin kerjasama dengan PASIAD, namun sejak dikeluarkannya Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan RI Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Kerjasama Penyelenggaraan dan Pengelolaan Pendidikan oleh Lembaga Pendidikan Indonesia, maka kerjasama dengan PASIAD sejak 1 November 2015 dihentikan, karena PASIAD merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM/NGO) dan bukan Lembaga Pendidikan Asing.
Kecuali itu, selama menjalin kerjasama dengan PASIAD, para guru asal Negara Turki tak pernah mengajarkan paham politik tertentu, apalagi paham yang dianut oleh Fetullah Gulen.
“Sekolah kami tidak berafiliasi kepada kepentingan politik manapun, dan menjalankan pendidikan sesuai kurikulum yang berlaku di Indonesia”, tegas Ahmad, saat menggelar pertemuan bersama perwakilan Yayasan Pendidikan Kesatuan Bangsa Mandiri, Orangtua atau Wali Siswa dan awak media di sekolah setempat, Selasa (2/8/2016).

Lebih jauh, Ahmad menjelaskan, Sekolah Kesatuan Bangsa bernaung di bawah yayasan lokal di Indonesia dan pengelolaannya tidak melibatkan unsur dari luar negeri. Yayasan Pendidikan Kesatuan Bangsa Mandiri yang didirikan oleh H. Probosutedjo, saat ini diketuai oleh Prof. DR. H. Suharyadi, M.Si, dan dalam pelaksanaan belajar mengajar bekerjasama dengan guru asing sesuai peraturan, guna mencetak generasi muda yang cerdas di bidang science atau ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia dan berkepribadian bangsa yang mulia, berbudi pekerti luhur dan saling menghargai antar sesama.
Di Sekolah Kesatuan Bangsa, kata Ahmad, para siswa berasal dari berbagai daerah, latar belakang budaya, suku dan agama, sehingga para siswa sejak dini telah diajarkan untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain tanpa ada deskriminasi. Karenanya, Ahmad mengatakan, jika kecurigaan Pemerintah Turki terhadap 9 lembaga Sekolah Kesatuan Bangsa turut terlibat dalam FETO yang melakukan kudeta di Turki pada bulan Juli lalu sebagai sangat tidak berdasar dan aneh.
Sementara itu, selama bekerjasama dengan PASIAD, Ahmad mengatakan, banyak prestasi telah diraih oleh anak didiknya. Selama tiga tahun terkahir, katanya, siswa sekolah yang dipimpinnya selalu menjadi sekolah dengan jumlah peserta terbanyak yang menyabet medali dalam ajang Olimpiade Science Nasional (OSN) maupun olimpiade science berkelas internasional. Karenanya, meski ada tudingan yang dirasa memang sempat membuat resah itu, Ahmad mengatakan, kerjasama dengan pihak asing dengan mendatangkan guru-guru dari negara lain, terus akan dilanjutkan.

“Sekolah kami tetap mengacu pada kurikulum di Indonesia. Hanya ada beberapa pelajaran yang disampaikan dalam bahasa asing (Inggris) dan sejumlah siswa berada di asrama dengan pengawasan Pembina Asrama”, jelasnya.
Sementara terkait tudingan Pemerintah Turki yang dirasa merugikan dan mencemarkan nama baik, perwakilan Yayasan Pendidikan Kesatuan Bangsa Mandiri, Gatot Nugroho menyatakan, pihaknya akan menyesuaikan dengan Pemerintah Indonesia. Bahwa, sudah disampaikan melalui Menteri Luar Negeri, Sekretaris Kabinet dan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan, jika Pemerintah Indonesia tidak akan menanggapi tuduhan Pemerintah Turki.
“Ini sudah menjadi masalah antar negara, dan yang penting bagi kami adalah mengkondisikan situasi. Negara saya rasa sudah cukup melindungi kami sebagai warga negara dengan pernyataan tidak akan menanggapi tuduhan Pemerintah Turki tersebut”, pungkasnya. (koko)