YOGYAKARTA — Di zaman penjajahan Belanda dan Jepang beras menjadi sebuah hal yang langka, dan ubi garut menjadi sebuah makanan pengganti. Tidak kecuali bagi mendiang Presiden Ke-2 RI, Soeharto, ketika masih keluar masuk hutan memimpin perang gerilya.
Besarnya peran ubi garut sebagai komoditi pangan alternatif, Titiek Hediati Soeharto dalam kunjungan kerja (kunker) sebagai Wakil Ketua Komisi IV DPR RI di Dusun Ngajaran, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul, Jumat (29/7/2016), meminta agar warga lebih memberdayakannya agar bernilai jual tinggi.
Generasi sekarang memang sudah tak lagi banyak yang mengenal ubi garut. Terlebih bagi mereka yang tinggal di perkotaan. Garut dianggap makanan wong ndeso (orang desa -red) yang sama sekali tidak menarik dan ketinggalan zaman. Sebelum diketahui potensinya, garut bahkan seringkali dibasmi karena menjadi sarang nyamuk penyebab penyakit malaria. Namun, sejak tahun 1998 warga Dusun Ngajaran yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Subur telah membudi-dayakan ubi garut sebagai komoditas pangan berupa emping yang ternyata cukup mahal harganya.
Ketua Poktan Subur, Kasdiyo mengatakan, tanaman garut hanya bisa tumbuh pada saatnya, yaitu di saat pergantian musim dari kemarau ke musim penghujan. Ketika sudah saatnya panen, batang dan daunnya akan rubuh sendiri seperti layu. Pertumbuhan garut tidak bisa direkayasa dan hanya bisa tumbuh dan berbuah setahun sekali. Namun, garut yang hanya bisa tumbuh setahun sekali itu ternyata cukup sepadan dengan nilai rupiah yang dihasilkan.
“Setelah diolah menjadi emping, harga perkilogramnya sebesar enam puluh hingga tujuh puluh ribu rupiah,” ujar Kasdiyo.
Melihat potensi tersebut, Titiek Soeharto dalam kunjungannya meminta agar warga bisa lebih mengembangkan budi daya garut dan lebih mengemasnya dengan baik agar bisa semakin bersaing dengan beragam produk ekonomi kreatif lainnya. Titiek yang dalam kesempatan itu juga melakukan panen garut, mengaku sangat terkesan dengan produk olahan sederhana berbahan ubi garut tersebut, yang selama ini dianggap kurang bernilai jual.
Di Dusun Ngajaran, ada sekitar lahan garut seluas 6 Hektar dengan total panen dalam setahun sebanyak 6,5 Ton. Tak ada kendala dalam penanaman ubi garut itu, selain hama tikus yang seringkali menyerang jika jarak tanam ubi garut terlalu rapat. Sementara dalam hal penjualan, banyak pedagang dari sekitar Yogyakarta yang secara rutin membelinya.
Sementara potensi lain yang dimiliki Dusun Ngajaran adalah sumber air berupa sendang atau telaga kecil yang bernama Sendang Ngajaran. Debit airnya mampu menghasilkan 5 liter air perdetik, dan kini telah dimanfaatkan sebagai sumber air pam dengan jumlah pelanggan sebanyak 200 orang. Namun karena berbagai peralatan masih sederhana, warga berharap agar Titiek Soeharto bisa memberikan solusi bagi pengembangannya.
Tak hanya dari potensi sumber air, keberadaan Sendang Ngajaran juga berpotensi untuk dibuat sebagai obyek wisata alam. Kondisi geografis Dusun Ngajaran yang berupa perbukitan dan masih perawan, memang potensial dikembangkan sebagai desa wisata. Karena itu, Titiek Soeharto langsung meminta kepada anggota dewan DPRD Bantul dan Kota Yogyakarta serta Kepala Dinas Pertanian Dan Kehutanan Bantul dan perangkat desa setempat yang turut dalam kunjungan kerja tersebut, untuk segera memikirkan dan merealisasikan harapan warga Dusun Ngajaran.
“Garut bisa menjadi komoditas pangan alternatif yang tinggi nilai jualnya, kalau dikemas lebih bagus dan lebih dipromosikan lebih luas lagi,” pungkas Titiek.