SELASA, 19 JULI 2016
MAUMERE—Pemerintah provinsi NTT telah menyurati pemerintah pusat guna meminta dibangun koordinasi dengan negara Malaysia dan Philipina agar dilakukan latihan dan patroli bersama guna menjaga perairan laut di wilayah yang sering terjadi penyanderaan.
![]() |
| Gubernur NTT Drs.Frans Lebu Raya (kiri) |
Demikian disampaikan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya kepada wartawan Selasa (19/7/2016).Dikatakan Lebu Raya, Pemprov NTT juga memberikan dukungan moril kepada pemerintah pusat guna melakukan upaya pembebasan ketiga sandera asal NTT.
“Kami sudah menyurati pemerintah pusat setelah memastikan ketiga sandera warga NTT yang ditahan kelompok teroris asal Philipina,” ujarnya.
Pemprov NTT juga telah melakukan rapat koordinasi tingkat provinsi dan sejak awal sudah meminta Bupati Flotim untuk menyampaikan kepada keluarga ketiga sandera terkait keluarganya yang sedang disandera.
![]() |
| Yasinta Pusaka Koten isteri WNI korban penyanderaan Emanuel Arakian Maran. |
Karena persoalan ini antar negara maka pemerintah provinsi mempercayakan kepada pemrintah pusat dalam lakukan berbagai cara demi membebaskan sandera. “Kami memberikan dorongan dan dukungan sebagai langkah diplomasi terkait pembebasan ketiga warga NTT yang disandera,” tegasnya.
Lebu Raya percaya bahwa sandera asal NTT yang ditahan bisa dibebaskan karena berkaca pada pembebasan sandera asal Indonesia sebelumnya. Dirinya juga yakin, berkat komunikasi dan diplomasi yang baik hal ini pasti akan terkabul.
Saat awal mengetahui ada WNI asal NTT yang disandera, langkah pertama yang dilakukan yakni memastikan kebenaran informasi dan kebenaran dokumen ketiga sandera. Setelah ditelusuri, ternyata memang ditemukan ketiga WNI ini memiliki dokumen resmi.
“Mereka bekerja secara legal di kapal nelayan asal Malaysia. Sebenarnya mereka ada 7 orang tapi yang 4 dilepas karena kemungkinan 4 orang tidak memiliki dokumen sehingga bila disandera penyandera tidak bisa melakukan klaim ke negara asal sandera,” paparnya.
Ketiga sandera saat ini dipastikan berada di tangan para penyandera di sebuah wilayah negara Philipina. Komunikasi antara pemerintah pusat dan pihak penyandera terus dilakukan agar penyandera bisa membaskan ketiga WNI asal Desa Laton Liwo, Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur ini. (Ebed De Rosary)
