SABTU, 11 JUNI 2016
YOGYAKARTA — Musim yang sulit diperkirakan, kini mulai dirasakan dampaknya oleh sejumlah petani kacang panjang di wilayah Sleman. Akibatnya, kacang panjang yang semestinya bisa dipanen sebanyak 30-an kali, hanya bisa dipanen sebanyak 10 kali. Belum lagi, tingginya intensitas hujan menimbulkan banyak hama ulat yang menyerang kacang.
![]() |
| Hasil panen kacang panjang |
Kondisi tersebut dialami oleh Marsinah, petani kacang panjang di Dusun Sangularan, Sumberejo, Tempel, Sleman, yang ditemui Sabtu (11/6/2016). Menurutnya, kacang panjang baik ditanam pada musim kemarau. Namun, karena musim kemarau kemarin juga masih banyak hujan, membuat tanaman kacang panjangnya banyak diserang hama ulat dan banci. Dua hama tersebut merusak kacang panjang, sehingga tidak bisa tumbuh besar dan panjang.
Guna mengatasi serangan hama ulat dan banci, Marsinah terpaksa harus lebih sering menyemprotnya dengan obat buah. Ini menjadi tambahan biaya produksi yang tidak sedikit, karena sejak masa tanam pada bulan Agustus lalu Marsinah juga sudah teramat sering memberi pupuk dan semprot hama. Sementara itu, musim hujan dan kemarau yang tidak tentu membuat masa tanam kacang panjangnya menjadi lebih pendek. Dari yang biasanya bisa petik sebanyak 30 kali, sekarang ini hanya bisa10 kali. “Ini karena melihat hasilnya sekarang, kacang sudah tidak tumbuh dan sebentar lagi akan memasuki musim panas”, katanya.
![]() |
| Marsinah memetik kacang |
![]() |
| Lahan kacang panjang Marsinah |
Selama dalam petik lima kali ini, Marsinah mengaku hanya mendapatkan hasil minim. Sekali petik, rata-rata hanya mendapat 55 Kilogram kacang panjang dengan luas lahan 1.400 meterpersegi. Hanya pada masa petik keempat saja Marsinah bisa mendapatkan sebanyak 300 Kilogram. Hasil panen yang minim ini, kata Marsinah, masih ditambah dengan harga jualnya yang menjelang lebaran ini justru tidak naik. Saat ini, katanya, harga jual kacang panjang hanya Rp. 3.000 Per Kilogram.
Namun demikian, Marsinah yang sudah pengalaman menjadi petani sejak kecil, sudah menyiasati hasil minim itu dengan cara tumpangsari. Marsinah menanam kacang panjang bersama cabe dengan jarak tanam yang rapat. Dengan cara ini Marsinah bisa menghemat ongkos pupuk dan semprot hama. Juga bisa mempercepat masa panen berikutnya, yaitu cabe. Begitu kacang panjang sudah tidak tumbuh, akan langsung dibabat. Lalu tanaman cabe yang ditanam bersama dengan kacang panjang tinggal menunggu berbuah. “Sekarang ini kalau tidak tumpangsari, petani rugi biaya pupuk dan semprot. Ini karena musim yang tidak tentu dan sulit diperkirakan”, pungkasnya. (koko)

