Catatan buat Maulana Ainul Asry (Maulana Karmin)
Sejak Rabu, 8 Juni 2016 lalu, betapa muram suasana alam baka kakek Lafran Pane, Karnoto Zarkasyi, Dahlan Husein, Siti Zainah (istri Dahlan Husein), Maisaroh Hilal (Cucu KH.A.Dahlan di Singapura), Soewali, Yusdi Ghozali, Mansyur, M. Anwar, serta Hasan Basri.
Betapa pedih suasana ruh para pendiri HMI tersebut melihat ungkapan Maulana Ainul Asry alias Maulana Karmin (Pengurus HMI Ciputat periode 2016-2017), dalam gelaran diskusi bertajuk ‘Melihat Masa Depan Marxisme, Komunisme, dan Sosialisme’ di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Maulana Karmin (selanjutnya saya sebut Si Karmin saja), pemuda Islam dari Medan ini (berdasar pengakuannya di Facebook), terang-terangan tanpa ragu menyatakan, bahwa Komunisme dan Marxisme sejalan dengan Islam.
“Secara ideologis, kami tidak mempermasalahkannya, karena juga tidak bertentangan dengan Islam, bahkan memiliki kesamaan dengan ajaran Islam, hanya saja yang dilarang di Indonesia adalah bentuk komunisme sebagai organisasi politik,” ujar si Karmin.
Saya jadi berandai, bagaimana reaksi Almarhum Nurkholis Majid mengetahui ungkapan Si Karmin?
Mungkin saja, ungkapan si Karmin ini akan menjadi kesedihan panjang Kakanda Sulastomo (Ketua Umum HMI pada saat pecah pengkhianatan G30 S PKI tahun 1965), Kakanda Akbar Tanjung, Kakanda Mahfud MD, semua alumni maupun anggota HMI saat ini. Khawatirnya, Logika Sesat yang dibangun Si Karmin, akan membuat para Alumni HMI dari seluruh Indonesia akan menyatakan Si Karmin ini sebagai Kader Gagal, Kader Sesat, Kader Khianat, ataukah Kader Murtad?
Letak Logika Sesat Si Karmin
Mari kita selami kecamuk benak bocah ini melalui buku harian Karmin di dunia maya. Dalam Blog pribadinya yang beralamat di //maulanakarmin.wordpress.com/2016/06/11/menegakkan-benang-basah/
Karmin bahkan menyimpulkan, hubungan Islam dan komunisme-marxisme di Indonesia amatlah harmonis. Bagi Karmin, komunisme berperan membentuk kesadaran nasional. Ia berpendapat, sikap alergi pada komunisme, marxisme, atau sosialisme, adalah serpihan zaman Orde Baru.
Sikap konyol Si Karmin ini, barangkali karena ia belum tahu, bahwa musuh PKI bukan hanya orde baru yang dipimpin pertama kali oleh Jenderal Soeharto. Para aktivis Partai Masyumi juga menyimpan kemarahan kepada komunis sejak 1960. Dendam kepada komunis juga membakar dada aktivis Partai Murba binaan Tan Malaka dan Sayuti Melik yang digulung karena keculasan manuver Aidit dan kawan-kawan PKI di pemerintahan Orde Lama.
Karmin Membela Komunis Gara-Gara Syafii Ma’arif
Setelah saya telusuri, Si Karmin mempunyai sikap demikian, karena menjadi ma’mum pikiran Buya Ahmad Syafii Maarif. Menurut Karmin, Buya mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu mengatakan, jika masih mempersoalkan komunisme-marxisme, lebih baik hidup di zaman Orde Baru saja.
Si Karmin menjadi mati-matian membela Karl Marx dan komunismenya gara-gara Buya. Padahal, komunis di Indonesia ini adalah pembantai Umat Islam dan TNI.
Apakah Buya Syafii Ma’arif adalah pendukung dosa-dosa PKI sejak 1945 hingga 1968?
Jawabannya, kita biarkan menjadi urusan para ulama Muhammadiyah sekarang.
Puji syukur, dalam diskusi tersebut, Ricky Fatmajaya, mewakili Gema Pembebasan, yang dengan lantang dan argumentatif, menolak jika Komunisme disamakan Islam.
“Meskipun Islam mengajarkan tetang keadilan, kehormatan, kesamarataan, tapi bukan berarti Islam bisa disatukan dengan komunisme. Karena paham Sosialisme, Marxisme, dan Komunisme itu meniadakan Tuhan, beda dengan Islam yang percaya akan adanya Tuhan,” ujar Ricky.
Awal Mula Benih Komunis Si Karmin
Jika para khalayak pembaca melihat Facebook Maulana Ainul Asry alias Si Karmin pada 19 Desember 2011, benih semangat Atheisme dalam dirinya sudah mulai bertunas.
Lihatlah statusnya yang mengatakan, “Salam. Apakah Tuhan itu ada?”
Selanjutnya ia berujar lagi, “Tidak pernah ada tuhan! Yang ada hanyalah Tuhan.”
Berbagai gejala pemikiran Si Karmin di masa lalu, sangat berbanding lurus dengan pembelaan membabi-buta Karmin terhadap komunisme pada 8 Juni 2016 lalu. Jika memang Karmin ingin memeluk komunisme secara sempurna, dan sudah tidak bisa kita nasehati lagi, kita tunggu kesempurnaannya dalam mencontoh para Komunis terdahulu di Indonesia maupun dunia. Maka, sebaiknya, kami menyemangatimu dan menyorongkanmu ke jurang gelap dengan konsep narasi “Logika Terbalik” di bawah ini.
Dorongan Bagi Karmin Menjadi Komunis Sejati dengan “Logika Terbalik”
Maulana Karmin, kami seluruh bangsa Indonesia pencinta Pancasila sangat menunggu keberanianmu dalam menyaingi gelora semangat komunisme Muso di Madiun tahun 1948 yang membuat slogan Puisi khas PKI : Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati.
Kami menunggu Karmin bisa lebih dahsyat dalam membuat bobrok bangunan pondok pesantren, langgar dibubarkan, dan santri dibantai di luar ukuran kemanusiaan.
Kami menunggu Karmin menyiapkan lubang-lubang yang lebih banyak untuk membantai para kyai dan santri.
Sebagaimana Musso, Karmin harus lebih sempurna dalam mencontoh Stalin yang menghancurkan seluruh Agama. Jika Josef Stalin membantai 42 juta manusia bangsanya sendiri demi tegaknya komunisme, apakah Karmin ingin melampaui jumlah yang dibikin Stalin?
Karmin, akankah engkau setangguh Lenin dalam mengamalkan ajaran dari Karl Marx, bahwa agama hanyalah candu?
Karena kekerasan menjadi ciri khas dalam pelaksanaan rejim Komunis di dunia. Rejim Komunis yang anti Tuhan menggunakan segala cara untuk menumbangkan lawan-lawan politiknya. Dari kalimat Marx dan Lenin inilah, Musso melaksanakan pembantaian di Madiun dan menciptakan jargon : Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati.
Karmin, resapilah kalimat Karl Marx (1818-1883), “Bila waktu tiba, kita tidak akan menutup-nutupi terorisme kita. Kami tidak punya belas kasihan dan kami tidak meminta dari siapa pun rasa belas kasihan. Bila waktunya tiba, kami tidak mencari-cari alasan untuk melaksanakan teror. Cuma ada satu cara untuk memperpendek rasa ngeri mati musuh-musuh itu, dan cara itu adalah teror revolusioner.”
Marx juga berpesan, jauh ke lubuk hati Karmin, “eksistensi Tuhan tidak masuk akal. Tuhan adalah konsep yang menjijikkan. Pendek kata, aku menaruh dendam kepada Tuhan. Agama adalah narkoba bagi masyarakat. Menghujat agama adalah syarat utama dari semua hujatan.”
Jika ingin menjadi Komunis sejati, Karmin silakan menghayati ayat-ayat keji komunis dari Vladimir Ilich Ullyan Lenin (1870-1924) yang mengatakan:
“Saya suka mendengarkan musik yang merdu, tetapi di tengah-tengah revolusi sekarang ini yang perlu adalah membelah tengkorak, menjalankan keganasan dan berjalan dalam lautan darah. Dan tidak jadi soal bila ¾ penduduk dunia habis, asal yang tinggal ¼ itu Komunis. Untuk melaksanakan Komunisme, kita tidak gentar berjalan di atas mayat 30 juta orang.”
Sampaikan kepada kawan-kawanmu HMI, Lenin juga menganggap setiap ide tentang Tuhan adalah semacam infeksi berbau busuk.
“Matilah agama dan hiduplah Atheisme! Kita harus memperlakukan agama dengan bengis…kita harus memerangi agama. Inilah A.B.C. Materialisme dan A.B.C. Marxisme.” tandas Lenin.
Sebagai aktivis muslim HMI, Karmin silakan mengamalkan kitab sucinya Lenin dan Stalin, yaitu buku Manifesto Komunis karya Zagladin. Menurut Zagladin, kalimat kunci palu arit yang pondasinya materialisme mutlak di seluruh jagat raya adalah, “Mencapai tujuan dengan menghalalkan berbagai cara.”
Ada 18 ayat-ayat keji Zagladin yang harus diamalkan Karmin jika ingin sempurna sebagai komunis, yaitu berdusta, memutar balik fakta, memalsukan dokumen, memfitnah, memeras, menipu, menghasut, menyuap, intimidasi, bersikap keras, membenci, mencaci maki, menyiksa, memperkosa, merusak, menyabot, membumihanguskan, membunuh, dan membantai.
Karmin barangkali gembira mempelajari pemerintahan Lenin pasca revolusi Bolshewik (1917-1923), Lenin memerangi agama dengan membunuh 28 uskup dan 1.200 pendeta. Sampai akhir masa berkuasanya, Nikita Kruschev juga membunuh 50.000 pendeta bangsanya sendiri. Bahkan, di tahun 1921, di Kongres Soviet ke -10, Lenin mengumumkan dengan sangat senang dan bangga, telah berhasil melenyapkan rakyat muslim dalam invasi tahun itu.
Para pendiri bangsa Indonesia menunggu keberanian Karmin meniru Stalin ketika membakar 10.000 gereja, hingga hanya tersisa 1.000 buah. Sedangkan 30.000 masjid yang berdiri di Soviet juga diluluhlantakkan Stalin, hingga hanya tersisa 450 buah saja.
Bahkan, Karmin bisa mempelajari kondisi negara Komunis lain, yaitu Kamboja. Bahkan, Jenderal Purnawirawan Ryamizard Ryacudu, Menteri Pertahanan RI sekarang, pernah melihat masjid di Kamboja yang diubah Khmer Merah menjadi kandang babi (pada tahun 2004).
Kepada Si Karmin yang sedang memimpin HMI Ciputat, kita harus menyampaikan, dalam studi RJ Rummel mengenai Berapa Banyaknya Rezim Komunis Membunuh Manusia?, yang selesai pada tahun 1993 (dua tahun sesudah ideologi komunisme bangkrut di berbagai negara), terdapat 120 juta lebih nyawa yang dibantai di 76 negara sejak 1917 hingga 1991. Sebuah jumlah yang melebihi jumlah korban Perang Dunia I dan II. Banjir darah tiga kali lipat dari sumpah pembantaian Lenin.
Barangkali, ketika Karmin ingin menjadi komunis, bayangkanlah 500.000 rakyat Rusia yang dibantai Lenin (1917-1923), 6.000.000 petani Kulak Rusia dibantai Stalin (1929), 40.000.000 lebih warga Soviet dibantai Stalin (1925-1953), 50.000.000 penduduk Rakyat Cina dibantai Mao Tsetung (1947-1976), 2.500.000 rakyat Kamboja dibantai Pol Pot (1975-1979), 1.000.000 rakyat Eropa Timur diberbagai Negara dibantai rejim Komunis setempat dibantu Rusia Soviet (1950-1980), 150.000 rakyat Amerika Latin dibantai rejim Komunis di sana, 1.700.000 rakyat berbagai Negara di Afrika dibantai rejim Komunis, dan 1.500.000 rakyat Afganistan dibantai Najibullah (1978-1987).
Gelorakanlah komunisme dalam dadamu, Karmin. Sebagaimana tahun 1947 hingga 1976, Mao Tse Tung dan Daeng Xiao Ping bergelora melakukan pembantaian 50 juta jiwa terhadap rakyatnya sendiri. Sebagaimana yang tergambar dalam buku “9 Komentar Mengenai Partai Komunis”, yang terbit tahun 2005.
Buku itu, niscaya akan berbicara gamblang kepada Karmin, tentang metode “basmi total”, metoda “membabat rumput sampai ke akarnya” (membunuh tuan tanah, berikut anggota keluarga seluruhnya), dan menghasut massa agar saling membunuh.
Saat Mao memimpin Tiongkok, dalam masa kelaparan karena kegagalan program partai komunis “Lompatan Jauh ke Depan”, rakyat komunis Mao ada yang tega memakan bayi sendiri (kanibalisme).
Buku itu juga akan menceritakan kepadamu peristiwa lain, yaitu di salah satu sekolah di Tiongkok, di depan murid-murid, tentara pengeksekusi Mao memenggal 13 kali pada 13 kepala yang kemudian berjatuhan ke tanah.
Anak-anak sekolah itu menjerit. Lalu, para pengurus partai komunis datang membedah tubuh korban, mencabut jantung, lalu dimasak untuk pesta.
Karmin bisa belajar tentang aplikasi praksis komunisme dari buku itu, yakni kisah tiga orang anti komunis yang ditelanjangi dan dilempar ke dalam tong besar, lalu direbus sampai mati.
Bahkan, ada seorang ayah anti komunis dikuliti hidup-hidup, dimasukkan kuali dalam keadaan setengah hidup, direbus, lalu dituangi cuka, dan asam. Sementara, si anak laki-lakinya diharuskan menonton sampai ayahnya betul-betul mati.
Di wilayah lain di Tiongkok, ada kisah seorang janda pemilik tanah yang disiram satu teko air mendidih oleh tetangganya sendiri. Tetangganya itu dipaksa melakukan itu oleh pengawal merah.
Tidak diceritakan berapa belas atau berapa puluh teko air mendidih itu. Beberapa hari kemudian, janda malang itu mati sendirian di kamarnya, dengan tubuhnya yang dikerubungi belatung.
Segeralah miliki buku itu, Karmin. Karena terdapat peristiwa pembunuhan bayi paling brutal sepanjang sejarah peradaban manusia.
Karmin bisa membayangkan, bagaimana si pembunuh menginjakkan kakinya di kaki kanan bayi. Lalu, kaki kiri bayi ditarik sekuat tenaga, hingga bayi itu sobek menjadi dua bagian. Tentu, darah dan anggota organ dalamnya berhamburan ke mana-mana. Itulah praktik komunisme Mao dengan metode basmi total.
Pemahaman Islam Setengah Matang dalam Diri Karmin
Saya Haqqul Yaqin, Si Karmin ini tahu, bahwa Islam jauh lebih baik daripada komunisme. Ia sempat menyatakan, salah satu prestasi terbesar Nabi Muhammad SAW, yaitu membebaskan perbudakan dan mengangkat derajat hidup manusia.
Suatu hal yang terjadi ratusan tahun sebelum perjuangan Abraham Lincoln di Amerika, Nelson Mandela di Afrika, Mahatma Gandhi di India, bahkan juga Soekarno dan kawan-kawan di Indonesia.
Tapi, kenapa dia harus membela Marx yang membenci Agama itu?
Bagi saya secara pribadi, Karl Marx hanyalah seorang plagiat dari keluhuran nilai Kesalehan Sosial Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, khususnya Abu Bakar AshShiddiq.
Barangkali, saat itu, sebelum menulis buku Das Kapital, Karl Marx tergetar dengan kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang sangat dermawan. Sebab, sebelum Karl Marx begitu pongah berbicara tentang kelas proletar, Abu Bakar dan para sahabat dermawan lainnya sudah jauh lebih dahulu menjadi pembela kaum lemah dan membantu dengan ikhlas kepada kaum miskin.
Bukan tidak mungkin, Karl Marx terperangah dengan kedermawanan sahabat Abu Bakar RA yang telah sangat masyhur. Ada dua peristiwa yang menjadi bukti pengorbanan Abu Bakar. Pada dua peristiwa ini, Abu Bakar RA telah menyumbangkan seluruh hartanya.
Pertama, saat Abu Bakar berhijrah, Asma’ RA, putri beliau pernah bertutur, “Saat hijrah menemani nabi Muhammad SAW, Abu Bakar menyerahkan seluruh hartanya yang berjumlah sekitar 5000 atau 6000 dirham.”
Sedangkan peristiwa ke dua, saat penggalangan dana untuk perang Tabuk. Pada waktu itu, Rasulullah SAW mengajak para sahabatnya untuk berinfak fi sabilillah. Abu Bakar RA menyumbangkan seluruh hartanya. Pengorbanannya membuat Rasulullah SAW takjub.
“Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?” tanya Rasulullah SAW.
“Saya masih menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka,” jawab Abu Bakar.
Padahal, Umar Bin Khatab RA hanya menyumbangkan setengah dari hartanya. Ketika menyaksikan pengorbanan Abu Bakar RA dalam jihad tersebut, Umar bergumam, “Demi Allah, aku tidak pernah mampu mengalahkan Abu Bakar dalam kebaikan.”
Saya telah menceritakan gelegar kisah berdarah komunisme secara lengkap kepadamu, Karmin. Sebagai mahasiswa ‘Ulumul Siyasah UIN Syarif Hidayatullah, kamu memiliki potensi menjadi Kyai dan Ulama. Kamu tentu masih akran dengan Salawat Nabi dan untaian mutiara kata dalam Kasidah-Kasidah Barzanji.
Entahlah, Maulana Karmin. Rasanya, sangat tidak masuk akal, ketika banyak orang beranggapan, kamu tersesat dalam komunisme.
Namamu saja Maulana. Artinya, tentu sangat mulia. Sungguh saya akan dosa besar, jika menganggapmu sebagai komunis sejati yang menyusup ke dalam Islam dan HMI Ciputat, lantas merusak Islam dari dalam! (Thowaf Zuharon)
![]() |
| Thowaf Zuharon Penulis Buku Ayat-Ayat Yang Disembelih |