Masjid Gedhe Mataram Kotagedhe, Tonggak Sejarah Peradaban Islam Pasca Demak Bintoro

SENIN, 13 JUNI 2016

YOGYAKARTA — Masjid Gedhe Mataram Kotagedhe Bantul, merupakan masjid besar pertama yang dibangun ketika peradaban Islam mulai berkembang pesat dengan berdirinya Kerajaan Mataram Hadiningrat pada tahun 1578 Masehi. Hingga kini, masjid itu masih tegak berdiri. Keberadaannya dilestarikan sebagai bukti sejarah peradaban bangsa ini.

Bagian depan Masjid Gedhe Mataram
Secara administratif, Masjid Gedhe Mataram Kotagedhe berada di Dusun Sayangan, Jagalan, Banguntapan, Bantul. Letaknya berdampingan dengan Makam Raja-raja Mataram Kotagedhe. Setiap hari, masjid itu tak pernah sepi pengunjung. Terlebih pada Bulan Ramadhan ini. Banyak orang sengaja datang untuk solat berjamaah di masjid itu.
Komplek Masjid Gedhe Mataram
Masjid Gedhe Mataram berada di tengah pemukiman warga Dusun Sayangan. Keberadaannya dikelilingi oleh pagar tembok keliling setinggi 2,5 Meter. Babad Momana menyebut Panembahan Sebopati membangun masjid itu  pada tahun 1511 Jawa atau 1589 Masehi. Masjid yang bersejarah itu pernah terbakar pada tahun 1919 Masehi, dan selesai diperbaiki lagi pada tahun 1923.
Ciri khas masjid peninggalan Panembahan Senopati itu antara lain ada pada bentuk bangunannya yang beratap tajug tumpang tiga pada bagian bangunan utama yang disebut liwan, dan limasan pada bagian atap serambinya. Komplek Masjid Gedhe Mataram memiliki tiga pintu gerbang berbentuk paduraksa yang merupakan perpaduan arsitektur Hindu. Sementara itu, di halaman depan masjid terdapat bangsal pecaosan di sebelah utara dan selatan, juga berdiri tegak sebuah tugu prasasti Sunan Paku Buwono X yang pada salah satu sisinya diberi jam dinding. Tugu prasati itu merupakan pertanda jika Sunan PB X juga pernah memugar masjid tersebut.
Gapura Paduraksa Masjid Gedhe Mataram

Secara umum, Masjid Gedhe Mataram terdiri dari lima bagian utama. Yaitu, kuncung yang merupakan akses utama menuju bagian dalam masjid, Jagang atau parit atau semacam kolam dangkal di depan serambi yang berfungsi sebagai batas suci, Serambi Bawah dan Atas yang disangga oleh delapan tiang saka kayu, Bangunan Induk yang terdiri dari Bangunan Utama beratap tumpang susun tiga disangga tiga tiang saka dan Bangunan Pawestren atau ruang solat bagi para muslimah, dan Tempat Wudhu yang berada di sisi utara masjid. 
Prasasti Sunan PB X di halaman Masjid
Sebagai bangunan tua, Masjid Gedhe Mataram Kotagede telah mengalami beberapa kali perbaikan. Pada tahun 1796, perbaikan dilakukan dengan menambah emperan masjid. Tabun 1856 dilakukan perbaikan atap sirap, penambahan emperan dan tempat wudhu yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Tahun 1926 perbaikan dilakukan dengan membangun pagar keliling yang dilakukan oleh Sunan PB X. Tahun 2002 dilakukan rehabilitasi bangunan utama masjid dan pada tahun 2003 dilakukan penambahan bangunan.
Jika melihat bentuk dan arsitektur bangunannya tersebut, barangkali Masjid Gedhe Mataram tak begitu terasa spesial. Pasalnya, sebagai masjid khas Jawa, ada sejumlah masjid besar lain di Yogyakarta yang juga berarsitektur khas Jawa. Misalnya, Masjid Ploso Kuning, Masjid Jami Mlangi dan banyak lagi. Namun jika menyimak lebih jauh sejarahnya, betapa Masjid Gedhe Mataram itu menyimpan banyak kisah besar dimulainya peradaban Islam pasca zaman Demak Bintoro dan Pajang Hadiningrat. (koko)
Lihat juga...