KH Hasyim Muzadi: HAM di Indonesia Harus Di-Pancasila-kan

RABU, 1 JUNI 2016

YOGYAKARTA — Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Kyai Haji Hasyim Muzadi, menegaskan jika saat ini Indonesia berada dalam situasi perang persepsi yang mengancam dasar dan falsafah Pancasila. Berbagai persoalan muncul dan dimasukkan dengan bungkus Hak Asasi Manusia (HAM), sehingga paham yang bertentangan dengan agama dibela secara intelektual seperti halnya fenomena Lesby, Guy, Biseksual dan Trans Gender (LGBT).

Tokoh besar Nahdlatul Ulama, Kyai Haji Hasim Muzadi, dalam orasi budaya bertajuk Pembudayaan Pancasila dalam Kongres Pancasila Ke VIII di Balai Senat Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Rabu (1/6/2016), mengemukakan, saat ini negara dalam situasi perang persepsi yang mengancam tegaknya dasar dan falsafah negara, Pancasila. Berbagai paham baru dari negara-negara Barat masuk sebagai salah satu bentuk kejahatan transnasional. Dan, Pancasila pun, kata Kyai Hasyim, masih belum menjadi hukum di negara ini, melainkan baru sekedar menjadi konstitusi. Akibatnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Lima Sila Pancasila belum bisa dilakukan dengan baik.
Sila Pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, katanya, saat ini pun seakan sudah berganti menjadi ‘Keuangan yang maha esa”. Hal ini, menurutnya, sebagaimana tampak di semua bidang kehidupan. Uang, katanya, masih menjadi penguasa. Di bidang politik, uang bahkan sudah berbicara sejak dari tingkat bawah. Hal ini masih diperparah dengan tidak adanya standarisasi antara politikus atau negarawan, sehingga siapa pun yang mempunyai uang bisa duduk di parlemen. “Doktor atau profesor, belum tentu bisa terpilih sebagai anggota dewan karena kalah uang”, tegasnya.
Sementara itu, ancaman dari luar juga datang dalam bentuk yang lain. Tidak hanya terorisme, melainkan juga narkoba. Bahkan, Kyai Hasyim mengatakan, jika narkoba sesungguhnya lebih berbahaya dari terorisme karena jumlah korban yang jauh lebih besar. Kyai Hasyim menyatakan, saat ini tercatat sebanyak 56 Juta orang di Indonesia sudah terkena narkoba. Namun demikian, narkoba juga menjadi ancaman yang sulit diberantas, karena dua alasan yang salah satunya adalah uang. Narkoba, kata Kyai Hasyim, di samping mematikan juga menawarkan uang yang berlimpah. “Uang sudah menjadi penguasa di semua bidang, sehingga sangat sulit untuk menegakkan Sila Ketuhanan YME”, tegasnya.
Di samping ancaman yang nyata bisa dilihat, lanjut Kyai Hasyim, saat ini pun negara harus menghadapi war perception atau perang persepsi. Hak Asasi Manusia digunakan sebagai kendaraan untuk memasukkan ideologi-ideologi yang tidak sesuai dengan Pancasila. Misalnya, LGBT, Komunisme dan sebagainya. HAM, ujar Kyai Hasyim, menjadi lini utama dari perang persepsi. Melalui isu-isu kemanusiaan yang sebenarnya justru membawa kemerosotan kemanusiaan, berbagai paham yang bertentangan dengan Pancasila dimasukkan.
HAM, kata Kyai Hasyim, bahkan keberadaannya dilundungi oleh Amnesty Internasional, yang menurutnya mempunyai dua kuasa. Yaitu, HAM itu sendiri dan Amnesty. Padahal, menurut Kyai Hasyim, HAM yang selama ini ada dan dipahami adalah HAM yang sudah dikendalikan oleh hegemoni persepsi imperialisme ekonomi. “Bukan HAM yang berdasarkan Pancasila. Karena itu, saya minta HAM yang masuk ke Indonesia ini harus di-Pancasila-kan”, tegasnya.
Kyai Hasyim mengatakan lagi, berbagai paham dari barat seperti HAM yang selama ini banyak dipahami generasi muda, harus di-Pancasila-kan, salah satu caranya adalah tidak boleh melanggar agama, tidak melanggar Undang-undang Dasar 1945 dan seterusnya. Islam, tegas Kyai Hasyim, juga agama lainnya sudah menerima Pancasila sebagai ideologi negara. “Karenanya, tidak ada alasan sedikit pun utntuk mempersoalkan Pancasila”, pungkasnya. (koko)
Lihat juga...