JAKARTA — Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Gerindra Heri Gunawan menilai Rencana pemerintah Jokowi-JK yang akan memangkas anggaran sebagai langkah penghematan dari sejumlah kementerian dan lembaga dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016 hanyalah akal akalan.
Menurut Heri, Kebijakan tersebut tidak efektif dalam rangka mewujudkan APBN yang terdesain dan terlaksana dengan baik (well performed and designed).
“Sebab, jika kita baca realisasi anggaran kementerian/lembaga TA 2015, seluruhnya di bawah Pagu yang telah ditetapkan. Artinya, mayoritas kementerian/lembaga tidak optimal dalam melaksanakan anggaran belanjanya untuk TA 2015,”tegas heri di Gedung Nusantaraa I, Senayan, Jakarta, Senin (13/06/2016).
Heri Menyebut realisasi anggaran belanja di Kementerian Keuangan hanya sebesar 83,95% dari Pagu anggaran belanja sebesar Rp33,7 tirilun. Dengan kata lain, ada sisa anggaran sebesar Rp5,4 triliun yang tidak terlaksana.
Dikatakan, meski tidak optimal melaksanakan anggaran TA 2015, namun, Kementerian Keuangan justru mendapat batas atas (Pagu) anggaran belanja sebesar Rp39,4 triliun atau naik Rp5,7 triliun dari TA 2015.
Padahal, Per 7 Juni 2016, anggaran itu baru terlaksana 30,96%.
Dia memaparkan, Skema penyusunan anggaran seperti yang dicontohkan pemerintahan, itu terjadi di semua kementerian/lembaga, Pagu belanja kementerian/lembaga dalam TA 2015 sebesar Rp795,5 triliun hanya terealisasi sebesar 725,6 triliun.
“Nah, Sehingga hal ini terkesan Muncul bahwa selama ini penyusunan anggaran hanya asal jadi-jadian alias copy-paste,” ungkapnya
Lebih lanjut, heri menyampaikan skenario tersebut, Yang penting pagunya ditetapkan setinggi mungkin dulu, terlaksana atau tidak, itu belakangan. Ini kan tak tik penyusunan anggaran yang buruk alias tidak jelas sasaran dan indikatornya.
Langkah-langkah penghematan dan pemotongan belanja kementerian/lembaga dalam desain anggaran semacam itu, kata heri, hanya akan jadi akal-akalan pemerintah semata.
Dijelaskan, Akal-akalannya tersebut, Dengan menetapkan langkah-langkah penghematan dan pemotongan anggaran dari pemerintah seolah-olah sedang pro rakyat untuk meraih simpati publik.
“Padahal, yang terjadi sebenarnya adalah pemerintah gagal melaksanakan anggaran belanjanya secara optimal sesuai target untuk sebesar-sebesarnya kepentingan publik,” pungkasnya
Oleh sebab itu, sambungnya, langkah penghematan dan pemotongan anggaran di APBN-P 2016 itu agar gak terkesan Akal akalan, hanya bisa efektif jika penyusunan anggaran di kementerian/lembaga dilaksanakan dengan ‘well-designed’ sehingga menjadi well-performed.(Adista Pattisahusiwa)