RABU, 8 JUNI 2016
YOGYAKARTA — Menghadapi arus mudik dan balik lebaran, PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi VI Yogyakarta mulai melakukan berbagai langkah antisipatif timbulnya gangguan kriminalitas. Pengamanan akan melibatkan unsur kepolisian dan Brigade Mobil, selain itu personel keamanan dari internal kereta api seperti Polisi Khusus (Polsus) diturunkan.

Manajer Humas DAOP VI Yogyakarta, Eko Budiyanto, dihubungi Rabu (8/6/2016) mengatakan, sebanyak 220 personel keamanan, 160 orang Polisi Khusus, 200 personel Brigade Mobile Jawa Tengah dan 113 personel Brigade Mobile DI Yogyakarta telah disiapkan untuk menghadapi arus mudik dan balik di musim lebaran tahun ini.
“Terhitung mulai 24 Juni hingga 18 Juli 2016, Brigade Mobil akan dikerahkan untuk menjamin keamanan rel perlintasan kereta api. Di setiap stasiun kecil, minimal akan ditempatkan 4 personil keamanan dan di stasiun besar akan ditempatkan sebanyak16 personel. Sementara itu, di wilayah operasi DAOP VI keseluruhan ada 32 stasiun,”sebutnya.
Tak hanya menyiapkan personel keamanan, DAOP VI Yogyakarta juga melakukan berbagai antisipasi dari kemungkinan aksi pelemparan batu yang di beberapa kawasan masih saja terjadi. Antisipasi pelemparan batu yang membahayakan dilakukan dengan mengganti kaca gerbong kereta dengan kaca yang mampu meredam benturan keras lemparan batu.
Dikatakan Eko, kaca yang ada di bagian gerbong lokomotif kini telah diberi ram besi dan kacanya diganti dengan kaca polikarbonat yang bisa meredam lemparan batu. Sementara kaca gerbong penumpang diganti dengan kaca akrilik kualitas bagus setebal 10 Milimeter.
Pelemparan batu, kata Eko, menjadi perhatian khusus DAOP VI Yogyakarta, mengingat masih seringnya terjadi tindakan iseng pelemparan batu yang dilakukan aleh anak-anak. Pekan kemarin, katanya, pihaknya bahkan baru saja mengamankan tiga anak kecil yang kedapatan melempar kereta api yang sedang melintas di daerah Sentolo, Wates, Kulonprogo. Namun karena masih di bawah umur, pihaknya hanya memberi peringatan kepada orangtua ketiga anak tersebut.
“Pelemparan batu terparah juga pernah terjadi dan mengakibatkan seorang masisnis kami buta seumur hidup”, pungkasnya.
[Koko Triarko]