SABTU, 14 MEI 2016
LAMPUNG — Warga beberapa desa di Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung diantaranya Desa Klaten, Desa Pasuruan, sejak setahun terakhir tak pernah menikmati aliran air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang berada di wilayah setempat. Akibatnya warga terpaksa membeli air untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Sudah hampir setahun air PDAM tidak mengalir entah karena apa yang pasti tanpa ada pemberitahuan dan sudah tak pernah menikmati air bersih dari PDAM yang ada di Sindangsari,” terang Fikri warga Desa Klaten Kecamatan Penengahan kepada Cendana News, Sabtu (14/5/2016).
Ia mengungkapkan, kondisi bak penampungan milik PDAM Tirta Jasa unit IKK Penengahan bahkan sudah tak terawat dan ditumbuhi oleh rumput liar. Selain itu sering digunakan sebagai lokasi pertandingan burung berkicau akibat sudah tak berfungsi dengan baik.
PDAM yang sudah berdiri sejak berpuluh puluh tahun tersebut sebelumnya mampu mengaliri ratusan pelanggan yang berada di wilayah Kecamatan Penengahan meski menerapkan sistem bergiliran. Meski menerapkan sistem bergiliran warga kerap menjumpai aliran air sangat keruh dan kotor.
“Pernah mengalir sebelum akhirnya tak mengalir hingga kini namun airnya sangat kotor sehingga kami terpaksa membeli air bersih dari tangki”terang Fikri.
Meski tak lagi berfungsi sejumlah warga masih memanfaatkan sumber mata air yang tak lagi dimanfaatkan oleh PDAM dengan menggunakan selang yang dipasang secara mandiri. Pemasangan selang kemudian mengalirkan ke rumah rumah warga dilakukan tanpa berlangganan.
Selama pasokan masih mengalir, warga mengaku masih sempat membayar biaya berlangganan kepada PDAM sebesar Rp30 ribu perbulan. Meski sudah tak berfungsi instalasi pipa besi dan pipa PVC berikut meteran pencatat debit air masih terpasang di rumah warga.
Warga yang sudah tak menikmati aliran air bersih sejak setahun mengaku tidak mengetahui persis waktu PDAM akan mengoperasikan air bersih yang ada di bawah kaki Gunung Rajabasa tersebut. Sebagian warga akhirnya membuat sumur bor dan sumur permukaan sebagai sarana untuk memperoleh air sementara sebagian warga lain terpaksa membeli air bersih dan ada yang mengambil sendiri dari tempat penjualan air bersih.
“Ini baru saja membeli air sejak awal tahun baru 2015 saya sudah membeli air dari pedagang air yang keliling menggunakan mobil tanki,” ungkap Sodikin warga Jatisari.
Sodikin mengaku membeli air bersih rata rata kapasitas 1.000 liter dengan harga Rp75.000,- yang digunakannya untuk keperluan memasak dan air minum. Sementara untuk kebutuhan mencuci dan mandi masih bisa dipenuhi dari sumur permukaan yang diakuinya kini kondisinya sudah cukup kotor.
Penjual air bersih yang biasa mengantarkan air bersih ke rumah warga, Samad mengungkapkan, setiap hari puluhan warga membeli darinya yang mengambi air bersih dari mata air di Desa Palembapang serta sumber mata air lain.
“Kalau ada yang pesan biasanya langsung menelpon dan akan segera saya kirimkan dengan menggunakan mobil dari rumah di Palembapang,”kata Samad.
Samad menyebutkan, kebutuhan akan air bersih saat ini meningkat meski bukan musim kemarau karena banyak warga yang awalnya bergantung pada pasokan air PDAM tak lagi bisa menikmati aliran air bersih. Sebagai penjual air yang sering dipanggil, ia mengakui rata rata dalam sehari ada 10 warga membeli air untuk keperluan sehari hari.
Harga sebesar Rp.75 ribu untuk air ukuran 1.000 liter diakuinya untuk jarak dekat. Sementara untuk beberapa daerah di tempat yang lebih jauh ia mematok harga di atas Rp.100ribu per 1.000 liter karena menyesuaikan jarak dan biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk kendaraan pengangkut air.
Selain persoalan keruhnya air yang didistribusikan ke warga mampetnya saluran pipa PDAM, kondisi debit air dari tempat penampungan air yang dimiliki PDAM Tirta Jasa unit IKK Penengahan diduga menjadi penyebab tak beroperasinya pendistribusian air bersih tersebut.
Permasalahan lainnya, yaitu warga yang melapor ke Kantor PDAM tidak segera ditindak lanjuti. Bahkan warga sudah berulang kali melaporkan mengenai saluran air yang mampet.
“Bolak-balik lapor di Kantor PDAM, tapi tidak ditanggapi. Petugas yang mengontrol meter PDAM juga tidak mau menyampaikan keluhan hingga akhirnya tidak beroperasi,” kata Sodikin.
Sementara itu, informasi dari sumber yang tak mau disebut namanya dan tinggal di dekat kantor PDAM menyebutkan, berbagai persoalan intern dan kerusakan pada instalasi pipa diduga menjadi penyebab tidak beroperasinya PDAM. Selain itu pipa-pipa dan kran terbuat dari tembaga yang dimiliki kerapkali hilang dicuri orang yang letaknya di kaki Gunung Rajabasa.
“Bisa jadi karena biaya operasional lebih tinggi dan juga pemasukan kurang sehingga PDAM ini berhenti beroperasi serta faktor intern lain juga kita tidak tahu yang pasti konsumen tak lagi mendapat jatah air bersih,”ungkap sumber tersebut.

Pantauan Cendana News, selain kondisi kantor milik PDAM Tirtajasa yang sebagian bangunannya rusak, halaman kantor tempat warga biasa membayar biaya langganan air bersih pun terlihat tak terawat dengan ditumbuhi rumput liar dengan kondisi pagar tertutup rapat dan digembok.
[Henk Widi]