![]() |
| Kondisi mess pekerja perkebunan kelapa sawit Pohara |
Sekilas, jika dihitung, upah 75 ribu nampah besar. Tetapi setelah Cendana News mendatangi perkebunan tersebut, upah 75 ribu bukanlah upah yang cukup bagi para pekerja karena upah tersebut sudah termasuk uang makan dan uang transportasi.
Untuk menuju lokasi perkebunan, pekerja harus menempuh jarak 10 kilometer dari jalan poros (jalan utama). Pantauan Cendana News yang datang ke lokasi pada Senin (31/5/2016), jalanan sangat berbahaya karena terlalu curam dan kanan kiri jurang, terlebih lagi jika musim hujan tiba, jalanan sangat licin.

Untuk tempat istirahat bagi pekerja, perusahaan membangun mess di lokasi perkebunan. Tetapi mess tersebut sangat tidak layak huni bahkan lebih mirip kandang sapi.
Mess tidak dilengkapi air bersih untuk MCK. Kebutuhan air murni mengandalkan air hujan, yang itu artinya jika kemarau tiba, maka mess sama sekali tidak memiliki persediaan air. Jika pekerja butuh air bersih, maka pekerja harus membeli air dengan jarak tempuh yang sangat jauh.
Tidak hanya air, dapur pun tidak disediakan oleh perusahaan, sehingga pekerja harus membeli makan dengan jarak tempuh 20 kilometer (PP).
Kondisi seperti ini mendorong para pekerja untuk melakukan protes guna menuntut kenaikan upah layak, dan aksi tersebut pernah dilakukan pada tahun lalu (2015) yang membuahkan pemecatan kepada pekerja yang dianggap sebagai dalang aksi.
Kepada Cendana News, salah satu pekerja mereka yang tidak berkenan disebut namanya karena takut dipecat, menceritakan bahwa pada tahun 2014, kondisi pekerja sedikit lebih baik karena pada waktu itu sistem pengupahan tidak ada penerapan pemotongan gaji/upah. Tetapi sejak berubah yang menjabat kursi pimpinan, maka berubah juga sistem pengupahan di perkebunan tersebut.
Tetapi, walaupun pada masa itu tidak ada pemotongan gaji, tetapi tetap saja dirasa masih kurang karena pekerja tidak diberikan asuransi.
“Sudah sering pegawai BPJS datang dan menawarkan asuransi untuk semua pekerja, tetapi pimpinan hanya memutuskan pegawai tetap saja yang berhak atas BPJS,” jelasnya, dengan berkali-kali meminta kepada Cendana News untuk tidak dipublikasikan baik wajah maupun namanya.
Ketika Cendana News menanyakan mengapa tidak ada upaya untuk mencari pekerjaan yang baru, hampir semua pekerja yang Cendana News temui menyampaikan takut kehilangan pekerjaan sehingga kehilangan sumber penghasilan yang mereka andalkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Bisa dilihat, di sini sebagian besar pekerja adalah perempuan, ada yang belum menikah tetapi banyak yang sudah menikah, mana cukup uang segitu untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” keluhnya.
Mengenai medan tempuh yang sangat berbahaya, ia menjelaskan bahwa sebagian besar pekerja menggunakan kendaraan roda dua, yang tidak punya kendaraan, ada truk yang siap mengangkut pekerja dari “bawah” menuju ke perkebuhan. Dengan medan yang begitu membahayakan, tentu sangat besar resiko yang harus ditanggung para pekerja jika truk yang mereka naiki tergelincir.