Mengenang Jasa Bapak Pendidikan di Museum Dewantara Kirti Griya

SENIN, 2 MEI 2016
YOGYAKARTA — Tak banyak orang yang mengetahui, jika di Komplek Sekolah Tamansiswa di Yogyakarta terdapat Museum Dewantara Kirti Griya. Museum tersebut adalah bekas rumah Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan dan Pahlawan Nasional, yang telah berjasa besar di bidang pendidikan.


Museum Dewantara Kirti Griya, berada di Jalan Tamansiswa Nomor 31,Yogyakarta. Museum itu berisi benda-benda peninggalan milik Ki Hajar Dewantara. Mulai dari kamar pribadi Ki Hajar Dewantara, koleksi buku-buku berbahasa Belanda dan banyak lagi. Bahkan, bangunan museum itu juga merupakan rumah peninggalan Ki Hajar Dewantara. 
Berada di museum tersebut pengunjung bisa menyaksikan berbagai koleksi foto Ki Hajar Dewantara bersama tokoh lain saat itu, ketika masih berjuang di jalur kebudayaan dan pendidikan. Di museum itu, juga disimpan sebuah mortil tua milik Belanda, yang dahulu ditembakkan ke arah rumah kediaman Ki Hajar Dewantara, namun meledak di halaman rumah.
Museum Dewantara menyimpan banyak bukti sejarah lahirnya lembaga pendidikan yang pertama di Indonesia, yaitu Tamansiswa. Lembaga pendidikan kaum pribumi itu didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada tahun 1922. Dengan semangat membangun karakter generasi muda saat itu agar sesuai dengan jati dirinya sendiri, Ki Hajar Dewantara menerapkan konsep dasar pendidikan yang terkenal dengan istilah Tri Kon. Yaitu, Konsentris, Konvergen dan Kontinyu. 
Artinya, pendidikan diselenggarakan sesuai budaya bangsa sendiri, dengan tidak menolak budaya asing namun mengkonvergen atau menyaring dan memilah budaya asing itu dan pelaksanaannya dilakukan secara berkesinambungan.
Ketua Harian Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ki Raden Suharto, saat ditemui Senin (2/5/2016) mengatakan, dunia pendidikan tanah air tidak terlepas dari peran Ki Hajar Dewantara, yang semula bernama Raden Mas Soewardi Suryaningrat, cucu Sri Paduka Paku Alam III. 
Atas peran besarnya itulah tanggal kelahirannya kemudian diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Menurutnya, dalam konsep pendidikan yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara, ada tiga hal pokok yang menentukan keberhasilan pendidikan. Yaitu, sinkronisasi antara lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat.
Namun demikian, kata Ki Suharto, melihat kondisi sekarang, masyarakat kurang mendukung pendidikan. Hal Ini terlihat dari banyaknya kasus pelajar yang terlibat minuman keras dan narkoba. Padahal, lanjutnya, jika meihat dari faktor pendidikannya, pendidikan selalu memberikan pendidikan yang baik. Namun, pengaruh globalisasi dan pengaruh-pengaruh dari luar membuat pendidikan sekarang menjadi kurang baik.
“Lembaga Tamansiswa didirikan pada tahun 1922 sebagai wadah pendidikan manusia untuk belajar hidup dan berjiwa merdeka, cerdas dan berbudi luhur serta soleh”, pungkasnya. (Koko Triarko)
Lihat juga...