Manisnya Kakao Gunungkidul Bisa Panen Sepanjang Musim

SENIN, 30 MEI 2016

YOGYAKARTA — Berbagai upaya memajukan pertanian saat ini terus digalakkan. Tanah kering atau yang minim sumber air, pun kini tidak lagi menjadi alasan. Dengan jenis komoditas yang tepat, lahan minim sumber air juga bisa menghasilkan rupiah yang tidak sedikit jumlahnya.
Salah satu komoditas perkebunan yang bisa dibudidayakan di lahan kering atau minim sumber air adalah Kakao. Buah yang selama ini menjadi bahan utama pembuatan coklat itu ternyata juga bisa dipanen sepanjang musim. Kendati ada masanya panen raya, namun pohon kakao bisa terus berbuah selama dirawat dengan baik dan benar. Karenanya, sejak tahun 1988 warga Dusun Putat, Patuk, Gunungkidul, sudah menanam kakao sebagai sumber penghasilannya.
Ditemui Senin (30/5/2016), salah satu petani kakao Dusun Putat, Slamet Raharjo mengatakan, awal-mula warga desa Putat menanam kakao itu karena pada tahun 1988 mendapat bantuan bibit kakao dari Pemerintah. Karena dianggap mampu memberi penghasilan, pohon kakao terus dibudidayakan hingga sekarang. Seiring perkembangannya, jumlah warga yang menanam kakao semakin banyak, dan kemudian dibuat kelompok yang diberi nama Nhudi Luhur. Hingga kini, tercatat ada 90 orang yang menjadi anggotanya.
Menurut Slamet, saat ini ada sebanyak 12.000 poho­n kakao yang ditanam di luas lahan kurang lebih 12.000 Hektar. Setiap minggu sekali, hasil pemetikan b­uah kakao dikumpulkan di kelompok untuk d­ifermentasi dan dijemur. Sementara untuk menjaga stabilitas harga, selama ini Kelompok Ngudi Luhur hanya menjualnya kepada satu mitra saja. 
“Dengan harga jual Rp. 7.500 per ­kilogram basah dan Rp. 29.000 perkilogram kakao kering, para petani kakao mengaku cukup diuntungkan,”sebutnya.
Slamet mengatakan, hasil budidaya kakao yang selama ini cukup bisa menambah penghasilan warga, tidak lepas dari peran dinas terkait. Melalui berbagai pelatihan dari Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Gunungkidul, kata Slamet, para petani kakao semakin bisa meningkatkan hasil dan mengatasi berbagai kendala. 
“Kami juga mendapat pendidikan melalui program Sekolah Lapang Pengendalian Hama­ Terpadu (SLPHT), sehingga semakin mampu menjaga kualitas kakao”, pungkasnya.
[Koko Triarko] 
Lihat juga...