SELASA, 3 MEI 2016
AMBON – Ratusan siswa di Desa Negeri Lima, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, belajar di tenda pengungsian yang dibangun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Penderitaan anak sekolah itu dirasakan sejak tahun 2013 hingga sekarang. Hampir 4 tahun lamanya guru mengajar dalam tenda, tanpa perhatian pemerintah.

Sedikitnya 400 siswa harus belajar di tenda pengungsian, akibat sekolah mereka terkena bencana alam, jebolnya DAM Wae Ela, pada tanggal 25 Juli 2013.
Pantauan Cendana News Senin (2/5/2016), bertepatan dengan peringatan Hari Pendidkkan Nasional (Hardiknas), ratusan siswa-siswi di empat sekolah yaitu SD Negeri 1 SD Negeri 2, SD Ii, KabuNPRES dan satu Sekolah Taman Kanak (TK), di Desa Negeri Lima itu, masih tetap menggunakan tenda pengungsi untuk proses belajar-mengajar seperti sekolah-sekolah dan para siswa-siswi lainnya.
Sebanyak 11 tenda berukuran 9 x 5 meter itu, tampak dipergunakan oleh para guru dan para siswa-siswinya untuk proses belajar mengajar.
Tiga tahun berjalan (2013-2016), ratusan siswa-siswi dan para guru di SD Negeri 1 SD Negeri 2 dan SD Inpres dan TK, kadang kala harus diliburkan ketika musim penghujan, karena air hujan atau banjir melanda tenda-tenda yang dibangun oleh BNPB tersebut.

“Sementara gedung sekolah kami sudah selesai dibangun. Tapi belum diserahkan oleh pemerintah. Kami tetap menjalankan proses belajar-mengajar seperti sekarang. Mau biking bagimana lai (Habis mau bagaimana lagi), bencana alam Agustus 2013 sudah menghilangkan sekolah kami. Sekolah darurat pakai tenda ini sudah berjalan kurang lebih tiga tahun,” ungkap salah satu guru dengan sedikit dialeg Ambon saat ditemui Cendana News, Senin (2/5/2016).
Ratusan siswa-siswi dan puluhan guru/staf pegwai yang awalnya tidak nyaman, kini mereka tampak adaptatif atau menyatu dengan tenda-tenda (sekolah darurat), juga lingkungan alam terbuka untuk menempuh pendidikan.
Tiga SD dan satu gedung TK di Negeri Lima sudah selesai dibangun, namun belum juga dipakai atau diserahkan oleh pemerintah kepada pihak sekolah untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
“Kami hanya berharap pemerintah segera menyerahkan sekolah-sekolah yang sudah selesai dibangun itu, agar kami dapat menggunakannya seperti sebelum adanya bencana alam,” harapnya.
(Samad Vanath Sallatalohy)