SMA Santa Maria Tumbuhkan Cinta Nusantara

SABTU, 30 APRIL 2016
SURABAYA —  Pagelaran seni budaya 2016 yang ditampilkan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Santa Maria, Surabaya, Jawa Timur, menjadi perhatian. Sebanyak 12 karya seni yang dipentaskan. 
Santa Maria dalam memberikan wawasan kecintaan terhadap nusantara dituangkan dengan cara musik dan tari. Sejak kelas X (sepuluh),  semester pertama para murid diajarkan mengenai seni budaya,  melalui seni musik dan tari. Hingga saat murid-murid menginjak kelas XI (sebelas) diberi tugas untuk membuat karya,  baik dari seni musik maupun tari.

Para murid bebas berkreasi sesuka hati,  asalkan tetap menjunjung kaidah rasa cinta seni budaya. Hal ini dibuktikan dengan 12 karya siswa,  dengan rincian 6 karya tari dan 6 karya musik.

Tema yang diambil pada tahun ini Pagelaran Seni Budaya 2016 dengan judul ‘Kreasi Tanpa Batas’ di SMA Santa Maria, Surabaya. Sebanyak 150 siswa hadir sebagai peserta yang berasal dari siswa kelas XI.

Guru Seni Tari SMA Santa Maria, Eva Dianita Dengah menjelaskan meski anak-anak mengeluhkan tidak siap untuk tampil dan tidak tahu ingin menampilkan apa. Namun semua itu terbayarkan ketika dua tahun setelah segala keruwetan, terbukti para murid siap tampil dengan optimal.

“Anak-anak mempertunjukkan kebolehannya mulai dari seni teaterikal, drama, tari, musik kontemporer dan seterusnya. Selain itu juga ada yang senang  karate, basket juga bisa dipadukan dengan musik,” jelasnya kepada Cendana News, Sabtu (30/4/2016).

Para murid ini sebelum ditugaskan membuat karya seni, mereka dikelompokkan berdasarkan minat dan bakat. Ada dua jenis yang disediakan yakni tari atau musik. Setiap anak tidak boleh menentukan sendiri harus berdasarkan keputusan para guru dalam melihat perkembangan murid.

“Setelah terbagi kedalam kelompok, anak-anak diajari membuat konsep. Bagaimana proses latihan hingga eksplorasi gerak,” terangnya.

Dengan adanya pembelajaran seni budaya yang melibatkan langsung terhadap anak-anak, diharapkan nantinya para anak didik ini, pertama memiliki rasa cinta kepada budaya sendiri dan kedua belajar bekerja sama dengan cara telaten dan sabar karena ini kerja tim bukan individu.

“Semua hasil karya seni para siswa kami padukan dengan musik dan tari, sehingga timbul sebuah harmonisasi yang luar biasa,” pungkasnya. (Charolin Pebrianti)

Lihat juga...