Masjid Agung AT-TIN di Taman Mini Indonesia Indah
RABU, 20 APRIL 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Rustam / Sumber Foto : Miechell Koagouw
JAKARTA- Masjid Agung AT-TIN yang dibangun Yayasan Ibu Tien Soeharto berkedudukan di Jalan Raya Taman Mini, Pintu 1 Taman Mini, Kelurahan Pinang Ranti, Jakarta Timur. Masjid ini berdiri di atas tanah seluas 70.000 meter persegi, berdaya tampung total di dalam dan luar sampai 10.850 orang jamaah.
Lahan parkir masjid yang mampu menampung 100 hingga 150 unit sepeda motor, 350 hingga 400 unit mobil pribadi dan minibus, serta 8 hingga 10 unit bus berukuran besar.
Masjid termegah ini berada di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Rancangan Masjid Agung AT-TIN dikerjakan oleh Fauzan Noe‘man dan Prof.Dr.Ir. Ahmad Noe‘man.
Berdasarkan prasasti, Masjid Agung AT-TIN diresmikan Presiden kedua Republik Indonesia HM.Soeharto, tepatnya hari Minggu, 26 Desember 1999. Nama Masjid diambil dari salah satu Surah Al-Quran Wahyu ke-27 yang di terima Nabi Muhammad SAW. Nama AT-TIN memiliki arti buah manis dan lezat dengan manfaat yang besar baik saat buah itu matang maupun sebelum matang.
Masjid Agung AT-TIN memiliki empat kubah menara kecil di tiap sudut mengelilingi kubah utama dengan lafadz ALLAH di puncaknya. Bagian depan Masjid terdapat kolam air mancur dengan keramik hijau muda. Bangunan Masjid Agung AT-TIN sebagian besar mengambil bentuk lekukan anak panah yang maknanya bahwa manusia sudah hakikatnya tak henti untuk terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, sambil selalu mengucap syukur atas segala nikmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Bentuk anak panah tersebut bisa disaksikan jelas pada bangunan koridor yang mengelilingi masjid. Koridor ini selaian berfungsi sebagai akses menuju bangunan utama, juga sesekali digunakan sebagai solusi menampung jamaah yang beribadah pada acara-acara tertentu.
Prasasti Masjid AT-TIN
Disamping itu, dengan adanya koridor juga menghindari kerusakan taman akibat terinjak oleh pengunjung atau jamaah. Untuk menambah kesakralan, maka disepanjang langit-langit selasar koridor, dipasang pengeras suara tersembunyi dalam jarak tertentu, agar jamaah atau pengunjung dapat mendengar dengan jelas suara penceramah maupun pembacaan ayat suci Al-qur’an di waktu tertentu.
Taman adalah salah satu daya tarik tersendiri saat pertama kali memasuki area Masjid Agung AT-TIN. Taman Masjid Agung AT-TIN dipenuhi berbagai jenis tanaman, seperti pohon palem, tanaman merambat dan rerumputan. Taman dibuat sedemikian rupa, hingga sekilas nampak seperti padang rumput yang terpetak-petak dengan jalan setapak. Di area taman terdapat stupa-stupa air mancur berbentuk bunga sedang mekar. Stupa air mancur ini bisa digunakan sebagai tempat wudhu.
Setelah melewati tiga pintu masuk utama berukuran besar, langsung menuju ruang shalat utama di lantai satu melalui dua undakan dan sebuah eskalator di sisi kanan. Selain itu, demi kenyamanan jemaah penyandang disabilitas maupun jamaah usia lanjut, maka diberikan sebuah jalur khusus yang bisa diakses baik berjalan kaki maupun menggunakan kursi roda.
Setelah sampai dilantai satu, terlihat sebuah bedug raksasa mengisi ujung kiri pintu masuk ruang shalat utama yang terbuat dari kayu jati murni. Tiga di bagian mihrab Masjid AT-TIN, posisi mimbar yang tinggi tepat berada di tengah mihrab, tempat yang agak tidak begitu lazim, karena biasanya berada di sebelah kanan tempat imam. Ornamen di dalam ruangan ini didominasi bentuk elok ujung anak panah yang mengarah ke atas.
Ornamen bagian dalam kubah Masjid AT-TIN terlihat anggun dengan lampu kristal di tengahnya. Garis konsetrik di bawah kubah adalah lempengan baja yang di sekelilingnya terdapat susunan kaca patri biru, hijau, kuning, dan merah. Sinar matahari ke dalam ruangan dengan melewati kaca patri menghasilkan komposisi bias warna yang elegan. Simbol-simbol anak panah yang menghiasi kaca patri turut menambah elok pencahayaan.
Beranjak naik ke balkon ruang shalat utama, jamaah akan melihat dan melewati bentuk lampu dinding yang melekat pada pilar utama dengan kombinasi warna dan bentuknya yang menarik. Jika dicermati, Masjid Agung AT-TIN tidak terlalu banyak menonjolkan ornamen kaligrafi, selain pada lingkaran kubah bagian dalam ruangan shalat utama. Hanya ukiran ayat-ayat suci Al-Qur’an berwarna hijau muda tampak megah mengelilingi sisi dalam kubah Masjid.
Masjid Agung AT-TIN memiliki berbagai fasilitas pendukung seperti warung makan, ruang rekreasi dilengkapi layar LED TV, ruang internet, perpustakaan, rumah dinas Imam Besar, mess muazin, rumah penjaga, ruang kegiatan, dan ruang kelas. Karena fasilitasnya terbilang lengkap, maka Masjid Agung AT-TIN sering menyelenggarakan kegiatan seperti diskusi tematik, kuliah Ahad Duha berbentuk cermah dan diskusi, pengajian tafsir Al-qur‘an (Tafsir Jalalain) setiap Minggu pagi pukul 08.00 hingga 11.00 WIB, pengajian karyawan, seminar keagaman, tabligh akbar, dan berbagai peringatan hari besar Islam.
Taman Masjid Agung AT-TIN
Kegiatan remaja, pemuda, hingga dewasa turut memberi warna tersendiri bagi Masjid Agung AT-TIN. Mulai kegiatan jurnalistik dan fotografi dalam bentuk Majalah dinding (Mading), Lembaga Amil Zakat, Lembaga Umroh dan Haji Khusus, Koperasi bagi seluruh karyawan pengurus serta pengelola Masjid, sampai panitia penyelenggara akad nikah sekaligus resepsi bagi semua pasangan muslim yang ingin melangsungkan pernikahan di Masjid Agung AT-TIN. Selain itu, untuk memudahkan jamaah mengikuti ibadah shalat Jumat, maka pengelola sudah merilis melalui Mading berupa jadwal Khotib, Imam, dan Bilal untuk periode satu tahun.
Masjid Agung AT-TIN dipimpin oleh Imam Besar DR.H.M.Maftuh Basyuni, mantan kepala rumah tangga Kepresidenan di era pemerintahan Presiden Kedua Republik Indonesia HM.Soeharto dan mencapai karier tertinggi beliau sebagai Menteri Agama RI ke-20 di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Masjid Agung AT-TIN Yayasan Ibu Tien Soeharto merupakan wujud nyata, bagaimana konsep pembangunan berkesinambungan yang menyeluruh itu mampu menyentuh setiap sisi kehidupan manusia yang ada di dalamnya. Dalam hal ini, Masjid Agung AT-TIN adalah sebuah wujud pembangunan yang menyentuh sisi religi masyarakat.
Sekarang tinggal bagaimana para penerus bangsa menyikapi wujud nyata pembangunan yang sudah ada, sambil mengisi pembangunan bagi kepentingan rakyat, demi mewujudkan era tinggal landas yang lama tidak pernah digaungkan lagi di negara ini.
Lihat juga...