Demi Wajah Baru Malioboro, Juru Parkir Rela Prihatin Dulu

MINGGU, 10 APRIL 2016
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Koko Triarko 

CATATAN JURNALIS — Sepekan sudah para juru parkir Malioboro menempati zona parkir baru di Taman Parkir Abu Bakar Ali (ABA) I di ujung utara Malioboro. Karena masih baru, jumlah kendaraan yang parkir masih sangat sedikit. Bahkan, selama sepekan ini Juru Parkir (Jukir) hanya bisa mengantongi pendapatan sebesar 23.000 hingga 25.000 rupiah sehari. Sangat jauh dari pendapatan mereka ketika zona parkir berada di sisi timur Malioboro yang bisa mencapai 100.000 hingga 150.000 sehari.
Taman Parkir Abu Bakar Ali (ABA) I
Kendati sempat menolak pemindahan zona parkir dari sisi timur Malioboro ke Taman Parkir ABA I, kini juru parkir Malioboro telah semuanya sepakat. Sebanyak 95 Jukir telah siap bertugas di zona parkir baru ABA I. Namun, karena masih terhitung sepi, belum semuanya Juru Parkir yang bertugas. Hanya sekitar 50 hingga 60 Jukir yang saat ini bertugas. Demikian dikatakan Suradi, yang sejak tahun 1975 sudah menjadi jukir.
Dipindahnya zona parkir sisi timur Malioboro ke ABA I merupakan bagian dari program revitalisasi sumbu filosofi Kota Yogyakarta, dimulai dari Tugu Pal Putih, Keraton Yogyakarta dan Panggung Krapyak, yang menempatkan kawasan Jalan Malioboro sebagai garis imajinernya. Maka, dipindahnya zona parkir di sisi timur Malioboro merupakan upaya menonjolkan simbol-simbol filosofis di sepanjang sumbu atau garis imajiner Keraton Yogyakarta.
Setelah bersih dari parkir sepeda motor, kawasan sisi timur akan dibangun sebagai kawasan semi pedestrian. Beton jalan akan dirapikan agar ramah difabel, kursi taman akan ditambah dan dipercantik, demikian pula jumlah pepohonan juga akan ditambah sebagai paru-paru kota. Tak sekedar untuk paru-paru kota, Pemerintah Daerah DI Yogyakarta akan menanam pohon yang memiliki makna dalam khasanah budaya Keraton Yogyakarta.
Beberapa pohon bermakna itu antara lain, Pohon Gayam yang bermakna ayom ayem atau teduh dan menenteramkan, Pohon Asem yang bermakna sengsem atau menyenangkan, Pohon Kepel yang bermakna greget atau niat, yang diartikan dari kata kepel yang berarti genggaman tangan. Lalu, juga Pohon Sawo Kecik yang berarti sarwo becik atau serba baik.
Gambaran revitalisasi kawasan Malioboro memang disambut positif oleh masyarakat. Bahkan, sekarang pun dengan tidak digunakannya sisi timur Malioboro sebagai tempat parkir, pengunjung Malioboro mengaku senang. Berjalan-jalan di Malioboro menjadi lebih nyaman. Namun demikian, cukup terjal dan curamnya jalan naik dan menurun dari dan ke Tempat Parkir ABA I yang terdiri dari dua lantai dikeluhkan pengunjung. 
Ini sebagaimana dikatakan Astri Fadila, wisatawan Malioboro asal Kediri, Jawa Tengah, yang sedang menuntut ilmu di Yogyakarta. Astri mengaku takut memarkirkan sepeda motornya ke ABA I, karena jalan naiknya yang terlalu terjal. 
Hal demikian juga dibenarkan oleh Suradi, yang juga mengatakan, jika banyak ibu-ibu takut menaiki jalan naik ke Taman Parkir ABA I yang diakuinya memang terlalu tinggi atau terjal.
Suradi
Masih banyaknya pengendara wanita yang takut parkir di ABA I, menurut Suradi juga menjadi salah satu faktor belum maksimalnya jumlah pendapatan parkirnya. Selama sepekan ini, jumlah sepeda motor yang parkir di ABA I, menurutnya, baru mencapai sekitar 600-an sepeda motor. Masih jauh dari kapasitas ABA I yang diklaim mampu menampung sebanyak 2.800 sepeda motor. Tak pelak, penghasilan para Jukir pun menurun drastis. Namun demikian, untuk sementara ini, Suradi merasa agak terbantu dengan subsidi sebesar Rp. 50.000 dari Pemerintah Kota Yogyakarta, yang diberikan selama 2 bulan ke depan.
“Kami memang harus menerima kondisi dulu dan prihatin sementara dengan menurunnya penghasilan kami. Lagi pula, ini juga masih masa transisi perpindahan zona parkir. Mudah-mudahan ke depan tidak terlalu lama parkir ABA sudah ramai. Ditelateni dulu saja”, pungkasnya. 
Lihat juga...