Cara Guru dan Orangtua Menumbuhkembangkan Animo Anak Kunjungi Museum

RABU, 13 APRIL 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo /  Sumber Foto: Miechell Koagouw

JAKARTA — Tercatat, jumlah museum yang ada di wilayah DKI Jakarta sampai dengan Kepulauan seribu adalah sekitar 40 Museum yang terbagi menjadi : Jakarta Pusat 13 museum, Jakarta Utara 1 museum, Jakarta Barat 4 museum, Jakarta Selatan 12 museum, Jakarta Timur 4 museum, ditambah kawasan wisata Kota Tua 5 museum dan Kepulauan Seribu 1 museum. Angka ini belum ditambah dengan 15 museum yang ada di kawasan wisata budaya Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Jadi total keseluruhan Museum di kawasan Jakarta sampai Kepulauan seribu dan TMII adalah 55 museum dengan Taman Mini Indonesia Indah bertengger diurutan pertama mengoleksi jumlah museum terbanyak dari masing-masing wilayah yang ada.
Evi Ongko (blazer biru), guru SMA Terpadu PAHOA bersama dua anak didiknya di Museum Nasional, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta
Dari uraian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa jumlah museum di Jakarta sudah memadai bagi masyarakat untuk mempelajari sejarah perjuangan, perkembangan budaya, eksistensi seni, serta peninggalan dan situs-situs sejarah milik bangsa Indonesia. Akan tetapi pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa besar animo masyarakat untuk mengunjungi museum-museum tersebut. Sebuah pertanyaan menarik dari fenomena tentang jumlah museum dan animo masyarakat untuk mengunjungi museum.
SMA Terpadu PAHOA merupakan Sekolah nasional plus trilingual atau menggunakan tiga bahasa dalam proses belajar sehari-hari, yaitu Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Sekolah yang berdiri sejak 115 tahun lalu di Indonesia ini memiliki konsep stimulasi sendiri untuk menumbuhkan animo mengunjungi museum bagi anak-anak didiknya. Bukan sekedar perkunjungan dalam rangka study tour saja, melainkan mengunjungi museum karena memang ingin mendalami sejarah bangsanya sendiri yakni Bangsa Indonesia. 
Salah satu museum yang sering dikunjungi rombongan SMA PAHOA adalah Museum Nasional yang bertempat di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Dan Cendana News yang ada di lokasi kebetulan bertemu dengan rombongan study tour SMA PAHOA dan melakukan sedikit perbincangan dengan guru pendamping.
Evi Ongko, salah satu guru pendamping SMA Terpadu PAHOA mengajar kelas 11 dan 12. Bersama 6 orang guru pendamping lainnya ia membawa total 75 murid yang terbagi atas 65 murid jurusan IPS dan 10 murid jurusan Bahasa. Program kunjungan ke museum ini rutin diadakan sejak anak didik ada di bangku kelas 10 sampai kelas 12. Kunjungan ke museum merupakan salah satu cara mengembangkan beberapa mata pelajaran yang mereka berikan, yaitu Sejarah, Antropologi, Geografi, dan Sosiologi.
Masih menurut Evi Ongko, SMA Terpadu PAHOA memiliki filosofi sendiri untuk menumbuhkembangkan animo murid-murid mengunjungi museum, yakni filosofi “melihat dan merasakan”. Maksudnya adalah, dengan memberikan pengalaman bagi siswa untuk melihat langsung, bersentuhan langsung, maka siswa dapat merasakan bagaimana suasana menyaksikan peninggalan-peninggalan sejarah. Dari sini akan meninggalkan kesan didalam fikiran dan hati seumur hidupnya. Hal ini diyakini menambah warna pendidikan bagi anak didik serta selangkah lebih maju kedepan dalam konteks konsep pendidikan remaja. Apalagi sekarang adalah jaman dimana kebebasan media elektronik dan internet yang terkadang kurang menghadirkan didikan positif bagi remaja.
” Internet dan media elektronik juga penting, akan tetapi intinya adalah bagaimana meninggalkan kesan selamanya bagi anak didik itu lebih penting. Dengan melihat maka dia akan kagum, dan dengan merasakan maka akan tumbuh rasa memiliki sekaligus mencintai,” jelas Evi kepada Cendana News.
“Selain kunjungan ke museum, membaca buku juga akan menambah wawasan anak didik. Akan tetapi kadang mereka bosan dengan buku, maka kunjungan ke museum bisa menjadi salah satu cara cerdas untuk mencerdaskan mereka,” lanjutnya.
Novia Santi (hijab kuning) orangtua murid dari SD Negeri 09 Kayu putih Pulomas, Jakarta.Banyuwangi yang dibawah garapan Bidang Promosi Wisata Buatan
Salah satu orangtua murid dari sekolah berbeda menyatakan pendapat yang kurang lebih sama dengan guru SMA Terpadu PAHOA. Novia Santi, seorang ibu muda ditemui Cendana News di sela-sela waktu istirahat SD Negeri 09 Kayu putih Pulomas, Jakarta. Ia berpendapat bahwa mengunjungi museum merupakan cara mumpuni memperkenalkan budaya dan sejarah bangsa kepada seorang anak. Akan tetapi hendaknya proses itu dimulai semenjak anak masih duduk di bangku sekolah dasar. Pertimbangannya adalah, saat mulai beranjak besar maka sang anak sudah mendapatkan dasar akan rasa memiliki sekaligus mencintai bangsanya sendiri. Terutama untuk anaknya yang masih berusia 9 tahun dan duduk di bangku kelas empat sekolah dasar.
“Perkembangan elektronik dan internet sekarang ini cukup merisaukan kami para orangtua, karena justru lewat media elektronik dan internet anak-anak acapkali mendapatkan hal-hal negatif,” jelas Santi.
“Contohnya caci maki kasar dan kata-kata tidak baik lainnya, bahkan sampai menghina lambang negara dan Pancasila, Sangat buruk jika sejak kecil sudah menyaksikan hal-hal seperti itu, nanti mereka akan menganggap itu hal biasa. Makanya harus dimulai dengan membawa anak ke museum, agar dia mengenal lebih dekat bagaimana bangsa dan negaranya. Peran orangtua penting untuk mengarahkan ini, karena hakikat pendidikan itu bukan dari sekolah akan tetapi berawal dari rumah,” pungkasnya.
Harapan kedepan dari Evi Ongko dan Novia Santi adalah sama, yakni dengan mengenalkan sejarah bangsa di museum kepada anak sedari dini sampai beranjak remaja akan membantu perkembangan diri mereka menjadi manusia Indonesia yang berkepribadian kuat serta berguna bagi orang lain yang ada disekitarnya.
Museum memiliki peran penting dalam pelestarian peradaban suatu bangsa. Disamping itu museum juga dapat menjadi salah satu instrumen dalam mendatangkan wisatawan baik domestik maupun internasional. Pengelolaan museum dengan sebaik-baiknya akan membuat pengunjung merasa nyaman. Guru dan Orangtua murid sudah memiliki usaha dan harapan besar akan eksistensi museum selama ini, tinggal bagaimana pemerintah pusat maupun daerah mewujudkannya dengan terus mempertahankan sekaligus lebih meningkatkan kualitas museum serta pelayanannya.
Lihat juga...