RABU, 13 APRIL 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Miechell Koagouw
JAKARTA — Pemerintah RI mencanangkan program Wonderful Indonesia (kunjungan wisatawan mancanegara atau disebut Wisman) dan Pesona Indonesia (wisatawan nusantara atau disebut Wisnus) di awal tahun 2016 dengan target 12 juta kunjungan wisman serta 260 juta pergerakan Wisnus di Tanah Air.
![]() |
| Peluncuran Promosi Wisata Festival Pesona Mentawai dan Tour De Banyuwangi yang dibawah garapan Bidang Promosi Wisata Buatan |
Mengacu data yang dikeluarkan Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Puskompublik Kemenpar RI) bulan Januari 2015 menunjukkan jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai kurang lebih 785.000 orang. Tepat bulan Januari 2016, jumlah tersebut meningkat sebesar kurang lebih 814.000 Wisman. Artinya ada persentase pertumbuhan kunjungan wisman ke Indonesia kurang lebih sebesar 3,6 persen terhitung mulai Januari 2015 sampai dengan Januari 2016.
Menyikapi program pariwisata nasional berikut target percepatan pertumbuhan menuju peningkatan jumlah kunjungan wisata yang signifikan, maka Kementerian Pariwisata RI (Kemenpar RI) melaksanakan beragam acara tematik wisata skala nasional dan internasional di tiap-tiap daerah atau provinsi seluruh Indonesia. Kelangsungan serta kesuksesan terkait event tersebut merupakan ranah dari Bidang Promosi Wisata Buatan Kemenpar RI.
Kepala Bidang (Kabid) Promosi Wisata Buatan Kemenpar RI, Hendri Karnoza mengatakan, butuh sinergi yang baik agar semua acara promosi wisata sukses terlaksana, dan yang lebih penting adalah tercapainya target yang diinginkan. Sejauh ini belum ada kendala yang dirasakan langsung oleh Kemenpar RI khususnya Bidang Promosi Wisata Buatan dalam melaksanakan setiap acara promosi wisata, namun tetap saja harus memperhitungkan kemungkinan munculnya kendala dikemudian hari.
“Kami dari Kemenpar RI sudah membuka pintu selebar-lebarnya sebagai fasilitator bagi semua daerah atau provinsi agar mereka bisa melakukan promosi wisata. Akan tetapi kami juga harus mengetahui sejauh mana kesiapan daerah untuk menggunakan fasilitas promosi wisata dari kami,” jelas Hendri Karnoza kepada Cendana News di ruang kerjanya, Selasa (12/4/2016).
Ada tiga misi dari Bidang Promosi Wisata Buatan Kemenpar RI dalam memfasilitasi promosi wisata bagi setiap daerah, yakni :
1. Mempromosikan (secara tidak langsung) tagline Pariwisata Indonesia yaitu Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia.
2. Memfasilitasi arena pesta rakyat di daerah tersebut.
3. Turut menggerakkan perekonomian di daerah.
Menelaah misi dibalik promosi wisata diatas, maka ada target yang jelas untuk mengukur sejauh mana perkembangan atau hasil yang dicapai. Hitungan targetnya tentu saja bermain dengan angka acuan awal kunjungan wisnus serta wisman ke daerah bersangkutan. Sebagai contoh, data awal hasil kunjungan wisman dan wisnus Festival Jailolo di Halmahera barat tahun 2015, tercatat angka 20.147 ribu kunjungan wisnus dan 305 wisman. Dan untuk mengukur seberapa besar pergerakan ekonomi yang di terima Jailolo dari sisi kunjungan wisnus maka angka 20.147 ribu tinggal dikalikan dengan Rp.800.000.
” Rp.800.000 itu adalah hitungan pengeluaran per orang wisnus saat berkunjung ke Jailolo, Halmahera Barat. Itulah angka yang menghasilkan output angka pergerakan ekonomi disana saat event pariwisata berlangsung. Dan berdasarkan hitungan itulah maka kami bisa memberikan target kepada mereka jika mereka ingin mendapat fasilitas promosi wisata lagi kedepannya,” lanjut Hendri lagi.
” Jailolo Halmahera barat sudah melempar bola kepada kami dengan target kunjungan 500 orang wisman dan 17 ribu orang wisnus untuk tahun 2016. Akan tetapi kami masih berpegang kepada target total kunjungan keduanya 30 ribu orang. Kita lihat saja kedepannya,” imbuhnya.
Perhitungan target berdasarkan angka dan data itu sangat menentukan untuk mengukur sejauh mana program tersebut memberikan hasil positif, atau minimal berjalan dengan baik. Akan tetapi harus juga diperhatikan kesiapan berbagai kelengkapan infrastruktur daerah juga. Bagaimana daerah tersebut dapat memberikan fasilitas hotel yang memadai bagi wisman dan wisnus, bagaimana akses menuju ke daerah tersebut berikut akses ke masing-masing tujuan wisata, dan berbagai hal lainnya.
Bagaimana cara Kemenpar RI khususnya Bidang Promosi Wisata Buatan menghindari kemungkinan adanya praktek permainan dari pelaku pariwisata tertentu yang hanya ingin menggunakan dana Kementerian untuk menjalankan hajat pribadinya. Hal ini turut menjadi pertimbangan Hendri Karnoza beserta seluruh tim yang bekerja dibawahnya. Salah satu cara yang diterapkan adalah, menetapkan standarisasi ruang lingkup promosi acara wisata. Maksudnya adalah Kemenpar RI khususnya Bidang Promosi Wisata Buatan hanya akan memberi fasilitas kerjasama promosi jika acara tersebut bersifat nasional dan internasional. Apabila hanya bersifat regional daerah saja maka tidak akan ada dukungan promosi.
“Pertimbangannya begini, saya ambil contoh misalnya Festival Pesona Mentawai 2016 nanti, bagaimana daerah bersangkutan bisa mendatangkan wisnus dari pulau sulawesi, jawa, kalimantan, dan lainnya. Itu baru masuk kategori bahwa acara tersebut layak kami fasilitasi, ujar Hendri lagi.
“Karena jika cakupan acara tersebut hanya regional daerah saja, jadinya kan ‘4L’, alias ‘lu lagi lu lagi’ yang dateng. Gak fair lah jika acara seperti itu difasilitasi,” pungkasnya sambil tertawa.
Ibarat peluru dan senjata, begitulah pembagian kerja dalam sebuah departemen baik kementerian maupun institusi swasta. Dan sebagai bagian dari Kemenpar RI, maka Bidang Promosi Wisata Buatan dapat diibaratkan sebuah peluru. Yaitu benda yang melesat menuju target sasaran. Otomatis pihak yang menarik pelatuk harus memiliki strategi sebelum memuntahkan peluru. Pertanyaannya adalah bagaimana jika peluru tidak tepat mengenai sasaran yang diinginkan? apakah kesalahan ada di peluru, pelatuk, atau orang yang menarik pelatuk tersebut? Ini yang harus selalu dijaga dan diperhatikan kedepannya. Caranya adalah ketiganya harus menjaga sinergi dengan sebaik-baiknya.