Titiek Soeharto Pastikan Kebutuhan Petani Tercukupi

SENIN, 28 MARET 2016
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Koko Triarko 

YOGYAKARTA — Titiek Soeharto meninjau lahan persawahan di pedukuhan Tegal Parang, Tawangsari, Pengasih, Kulonprogo, Senin (28/3/2016). Lahan persawahan itu dikelola oleh Gabungan Kelompok Pertanian Sari Raharjo. Dalam kunjungan itu, terungkap berbagai kendala pertanian yang dihadapi oleh para petani.
Memberikan bantuan alat PH Meter
Salah satu kendala tersebut adalah masih kurangnya ketersediaan pupuk organik dan masih dibutuhkannya bantuan traktor kecil. Terhadap keluhan tersebut, Titiek Soeharto mengatakan, jika pihaknya akan mengupayakan semua kebutuhan petani, demi peningkatan produktifitas pertanian. 
“Berbagai bantuan tersebut, antara lain bisa diupayakan melalui APBN maupun APBD Provinsi DIY,”sebut Titiek yang didampingi oleh Wakil Bupati Kulonprogo, Sutedjo, Kepala Dinas Pertanian Kulonprogo, Bambang Tri Budi Harsono, dan sejumlah Muspika setempat, Senin (28/3/2015).
Sementara itu, Pengurus Gapoktan Sari Raharjo Desa Tawangsari, Gunarjo mengatakan, bantuan alat pertanian berupa traktor kecil tersebut dibutuhkan untuk menjangkau lahan persawahan tegalan atau lahan yang berteras. Sedangkan  kebutuhan pupuk organik yang masih kurang, karena selama ini hanya diperoleh dari 10 ekor sapi yang dipelihara oleh anggota kelompok. 
“Karena itu, kami mengharapkan adanya tambahan sapi, guna memenuhi kebutuhan pupuk organik”, katanya.
Dalam kesempatan itu, Gunarjo sempat menyampaikan kerinduannya terhadap Pak Harto. Menurutnya, selama pemerintahan Pak Harto, semua kebutuhan sandang dan pangan sangat diperhatikan, salah satunya dengan adanya program Panca Tani. Demikian pula dengan aspek pendidikan, dengan adanya Beasiswa Supersemar. 
“Selain itu, lapangan pekerjaan juga terbuka luas”, ungkapnya.
Gapoktan Sari Raharjo terdiri dari 15 Kelompok Pertanian dan 4 Kelompok Perikanan. Ada pun luas lahan persawahan mencapai 74 Hektar yang tersebar di 13 pedukuhan. Dengan sumber air dari Sungai Pening dan Waduk Sermo, kebutuhan air selama ini tak menjadi masalah. Namun demikian, adanya serangan hama pada musim tanam pertama tahun ini, membuat hasil panen padi sedikit menurun. 
“Tapi, dalam kondisi normal, produktifitas padi di tempat kami mampu menghasilkan sekitar 7 hingga 8 Ton Gabah Basah per Hektarnya”, kata Gunarjo.
Sementara itu diakhir kunjungannya, Titiek Soeharto menyempatkan diri memberikan bantuan berupa 13 alat PH Meter, yang berguna untuk mengukur tingkat keasaman tanah. Dari tingkat keasaman tanah tersebut, akan bisa ditentukan seberapa banyak pupuk urea dan pupuk kimia lainnya yang diperlukan, sehingga tidak menimbulkan penggunaan pupuk yang berlebih. 
Lihat juga...