RABU, 2 MARET 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Ebed De Rosary
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Ebed De Rosary
MAUMERE—Pater Bernard Rahu, SVD Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Kabupaten Sikka provinsi NTT (Nusa Tenggara Timur) yang diberitakan Koran Harian Umum Republika tanggal 24 Februari 2016 tidak benar dan tanpa data.
Dalam berita berjudul “Menristekdikti: 103 Perguruan Tinggi Swasta Telah Ditutup” disebutkan. STFK Ledalero Nita, Maumere termasuk salah satu sekolah yang ditutup. Pengecekan ini bisa dilihat di website Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDPT) atau dengan mengakses daring forlap.dikti.go.id.
“Aktifitas perkuliahan seperti biasa, disini berita itu dianggap berita sampah, orang tidak menganggap berita itu benar,” ujar Pater Bernard kepada wartawan, Rabu (2/3/2016) di kampus STFK Ledalero .
Dikatakan Pater Bernard, dalam berita tersebut ditulis sumbernya dari pangkalan data. Bernard mempertanyakan pangkalan data mana yang dijadikan sumber. Ia menegaskan, STFK Ledalero baru saja menempati peringkat ke-133 dari 3.320 perguruan tinggi di Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 492.a/M/Kp/VIII/2015 tentang Klasifikasi dan Pemeringkatan Perguruan Tinggi di Indonesia tahun 2015.
| Perkuliahan di kampus STFK Ledalero di ruang kelas di lantai 2. |
“Peringkat ini kan sesuai pangkalan data. Atas dasar apa berita itu benar, kita baru dapat rangking resmi dari Dikti masa kampusnya ditutup,” tanya Bernard.
Bernard mengakui, dirinya sudah memerintahkan Pater Kanis untuk menghubungi media Republika guna memberitahukan bahwa apa yang diberitakan salah dan harus minta maaf serta membuat pengumuman resmi di media.
“Kita percaya diri cukup kuat dan orang yang tahu STFK pasti menganggap berita itu tidak benar. Kami merasa terganggu karena harus melayani telepon dari pihak lain yang menanyakannya. Tidak mungkin ada SK terkait penutupan STFK, informasi ini sama sekali tidak benar,” ungkapnya.
Peter menjelaskan, untuk perguruan tinggi di NTT dari sekitar 80 perguruan tinggi UNDANA (Universitas Nusa Cendana) berada di peringkat satu sementara STFK berada di peringkat dua. Kualitas manajemen UNDANA skornya 2,3 sementara STFK 2,4. Undana juga ada kualitas penelitian dan publikasi. Hal ini menurut Pater Bernard masuk akal karena STFK tidak pernah memenangkan hibah kompetensi nasional untuk penelitian.
Umumnya tema-tema penelitian kata Pater Bernard, berkaitan dengan sains dan teknologi sedangkan tema-teman filsafat dan teologi tidak pernah diangkat dalam penelitian. Jika ditinjau dari 200 perguruan tinggi di Indonesia, STFK berada di peringkat 6 untuk Kopertis wilayah VIII.
“Jadi tidak buruk-buruk amat sampai kampus ini harus ditututp. Jadi saya tegaskan sekali lagi, berita itu tidak benar dan kami anggap berita sampah,” Pungkas Pater Bernard.
Beberapa mahasiswa dan dosen yang ditemui Cendanan News di kampus STFK Ledalero mengakui bahwa mereka sudah membaca berita tersebut dan tidak mempercayainya. Bahkan mereka dengan tertawa menyebutkan berita itu jelas tidak benar dan tidak berdasar.Perkuliahan pun tetap berjalan seperti biasa.
KETERANGAN FOTO
Foto 1 : Pater Bernard Rahu,SVD Ketua STFK Ledalero.
Foto 2 : Sekertariat STFK Ledalero, Maumere, Flores
Foto 3 : Perkuliahan di kampus STFK Ledalero di ruang kelas di lantai 2.
Foto 4 : Kampus STFK Ledalero Maumere