Sambut Gerhana Matahari Total, Warga Solo Gelar Kirab Hasil Bumi

MINGGU, 6 MARET 2016
Jurnalis : Harun Alrosid/ Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Harun Alrosid

SOLO — Ratusan warga Solo Minggu pagi berjalan sekitar 800 meter dalam rangka kirab hasil bumi untuk menyambut gerhana matahari, yang terjadi pada 9 maret 2016 nanti.
Kirab hasil bumi
Kirab dengan sebutan Kala Hayu Perkawinan Alam Raya menyajikan proses dan sesaji budaya gerhana matahari. Yang dibawa antara lain sajian hasil bumi yang dibentuk gunungan dan dimeriahkan dengan tarian rakyat. Seperti tarian Topeng Ireng khas Kabupaten Boyolali, dan tarian Roro Bloyoh.
“Kita ingin mengembalikan mitos terdahulu, dewa jahat yang memakan waktu itu sebenarnya tidak ada,” ujar ketua panitia kirab Yunanto kepada Cendana News di Jalan Slamet Riyadi, Minggu (6/3/2016).
Disebutkan, gerhana matahari merupakan fenomena perkawinan alam antara matahari dan rembulan yang terjadi melalui proses waktu panjang. 
“Gerhana matahari total ini hanya terjadi sekitar 230 tahun sekali,” terangnya.
Wisatawan asing yang ikut dalam kirab hasil bumi
Kirab hasil bumi diikuti lebih dari 180 orang yang terbagi 8 kelompok. Masing-masing kelompok menampilkan karya terbaiknya sebagai wujud suka cita menjelang fenomena alam yang sangat langka.
“Pesan yang ingin kami sampaikan agar masyarakat lebih menyayangi lingkungan dan melihat bumi dengan kondisi lebih baik,” ungakpnya.
Sementara itu Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo yang membuka jalannya kirab bumi itu menekankan, gerhana matahari bukan fenomena menakutkan, namun bagian kehidupan. 
“Oleh karena itu kita menyikapinya dengan gembira,” tambahnya.
Kirab hasil bumi menyambut gerhana matahari sendiri berlangsung meriah. Ratusan warga Solo, anak-anak maupun dewasa, bahkan turis manca negara ikut memeriahkan Kirab itu. Peserta Kirab ada juga yang membawa lesung, kentongan, serta ada yang membawakan dengan tarian-tarian.
Lihat juga...