Kraton Yogyakarta, Keagungan dan Wujud Pengabdian Luhur di Tanah Jawa

SELASA, 15 MARET 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo /  Sumber Foto: Miechell Koagouw

JAKARTA TMII — Di Provinsi Bali kita mengenal Kota Singaraja sebagai ‘kota pendidikan’, namun di Pulau Jawa, julukan ‘kota pelajar’ disandang abadi oleh Daerah Istimewa Yogyakarta (DI Yogyakarta atau DIY). Hal ini didukung dengan berdiri kokoh Universitas Gajah Mada sejak tahun 1949, dimana ketokohan Gajah Mada sebagai pencetus proses bersatunya seluruh nusantara dimaknai dengan bersatunya berbagai suku serta etnis seluruh nusantara di Kota Yogyakarta untuk menimba ilmu bersama-sama sebagai pelajar dan mahasiswa ataupun pekerja seni.
Bangunan utama Anjungan DI Yogyakarta di Taman Mini Indonesia Indah
Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan Daerah Istimewa (setingkat provinsi) di Indonesia sebagai peleburan Negara Kesultanan Yogyakarta dan Negara Kadipaten Paku Alaman. Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di bagian selatan Pulau Jawa, berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia. Memiliki luas 3.185,80 KM2 serta terdiri atas satu kotamadya, dan empat kabupaten, yang terbagi lagi menjadi 78 kecamatan, dan 438 desa kelurahan dengan adat istiadat dan kebudayaan keraton yang sangat kental.
Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) mengambil bentuk Rumah Adat Mataram (Keraton Mataraman) sebagai bangunan induknya. Pada dasarnya, rumah adat ini dibagi menjadi tiga bagian dan diantaranya adalah bagian depan yang disebut sebagai Pendopo Agung atau Bangsal Kencono. Difungsikan sebagai tempat menerima tamu dan melangsungkan pementasan kesenian. Pendopo agung berupa bangunan tanpa dinding dengan empat Soko Guru (tiang utama) yang didukung tiang-tiang pembantu disekelilingnya. 
Semua tiang tersebut terbuat dari kayu berukir, dengan corak ragam hias yang berasal dari alirang Hindu, Budha dan Islam. Seperangkat Gamelan Jawa yang digelar diruangan ini, yakni Kyai Shanti Mulyo (Laras Pelog) dan Kyai Rajah (Laras Slendro) menambah megah suasana pendopo agung.
Bagian tengah bangunan disebut Pringgitan, berasal dari kata ringgit yang artinya wayang kulit. Di tempat ini biasanya digelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, sebuah kesenian asli khas masyarakat Jawa atau dikenal sebagai kesenian Adi Luhung. Diantara pendopo agung dan Pringgitan, terdapat ruangan yang cukup luas bernama Longkangan, berfungsi sebagai tempat latihan kesenian, yang akan ditampilkan di Pendopo Agung pada hari-hari tertentu sesuai agenda acara pengelola anjungan.
Bagian dalam rumah adat Mataram disebut Dalem Ageng, yang dalam istilah Keraton Yogyakarta dinamakan Bangsal Proboyekso. Ruangan ini diisi dengan berbagai benda atau replika antik, atara lain: tempat tidur kuno yang terbuat marmer, yang merupakan peninggalan Sultan Hamengkubuwono ke V. Selain itu, terdapat pula benda-benda dari istana Paku Alaman, antara lain : Tombak Pusaka Kyai Garuda Temanten, keris pusaka berluk (pamor ‘beras wutaha’) yang bernama Kyai Jangkung Pacar. Konon, pusaka yang bernilai tinggi ini dibuat oleh seorang empu ternama, R. Ng. Kariyocurigo, pada masa pemerintahan Sri Pakualam tahun 1840.
Di ruangan ini terdapat pula Pasarean Tedeng, berupa sebuah balai-balai kuno, tempat dimana Sri Sultan Hamengkubuwono IX dilahirkan. Bagian lain Dalem Ageng ini yaitu Senthong Tengah (pasareyan tengah) untuk tempat pemujaan kepada Dewi Sri, yang dalam mitos Hindu dianggap sebagai Dewi Kesuburan, kesejahteraan dan juga Dewi Padi. 
Senthong berbentuk tempat tidur kuno berpenutup cinde dan konon merupakan peninggalan pangeran Dipenogoro. Di tempat inilah, upacara ‘Tampa Kaya , yaitu sebuah upacara simbolis pemberian nafkah hidup dari suami kepada isteri dalam sebuah perkawinan adat.
Diorama upacara ‘pondonganan’
Diorama Upacara ‘Pondonganan’ lengkap dengan busana adat tradisional pengantin Paes Agung keraton yogyakarta dapat disaksikan di ruangan ini. Ritual pernikahan agung yogyakarta ini dilakukan hanya jika mempelai wanita adalah keturunan atau putri Sultan. Hal menarik lainnya adalah miniatur prajurit Keraton Yogyakarta yang ternyata memiliki nama masing-masing, yakni prajurit Daheng, prajurit Nyutro, dan prajurit Prawirotomo. 
Prajurit Daheng adalah prajurit ‘asing’ keraton yogyakarta yang menurut sejarah berasal dari suku Bugis Makasar yang kemudian karena murah hati nya Sri Sultan Keraton Yogyakarta membuat mereka betah dan akhirnya menjadi satuan prajurit elit yang mengabdikan jiwa raga untuk Keraton Yogyakarta. Mereka akhirnya menetap serta beranak cucu di Yogyakarta hingga saat ini.
Di zaman kolonialisme Belanda, Yogyakarta terdapat sekolah-sekolah yang dibangun pemerintah Belanda sebagai tempat menimba ilmu bagi anak-anak orang Belanda di sana dilebur dengan anak-anak kaum ningrat atau bangsawan Keraton Yogyakarta. Eupa bentuk bangunan diabadikan oleh pengelola anjungan DI Yogyakarta di sisi kanan bangunan anjungan utama sebagai wahana memorial sejarah pendidikan yang harus diketahui oleh masyarakat luas.
Basis pergerakan ekonomi di Yogyakarta bertumpu pada geliat petani dengan sawah dan ladangnya, kerajinan tangan asli Yogyakarta, dan beragam hal lainnya yang terus mewakili perputaran ekonomi daerah yang dikenal paling mengalami dampak serius dalam erupsi Gunung Merapi dan Gunung kelud ini. 
Jika pengunjung sudah selesai mengabadikan dalam bentuk dokumentasi semua benda baik replika, asli, maupun miniatur di dalam anjungan, maka jangan lupa untuk singgah di toko cinderamata kerajinan tangan asli masyarakat Yogyakarta yang berada tepat di pintu belakang atau pintu keluar anjungan.
Miniatur seragam prajurit Daheng
Dari anjungan Provinsi Aceh sampai Daerah Istimewa Yogyakarta, perjalanan pengunjung Taman Mini Indonesia Indah akan membawa satu kesan besar, yaitu betapa luar biasa keragaman adat istiadat, budaya, suku, etnis, serta agama yang ada di Indonesia, sehingga dapat difahami konsep wawasan nusantara pencetus TMII yakni Ibu Tien Soeharto yang menyimpulkan bahwa budaya Indonesia bukan budaya Eropa, bukan budaya Jazirah Arab, serta bukan budaya Ras Kuning, akan tetapi Budaya Indonesia.
Lihat juga...