KAMIS, 3 MARET 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Sumber Foto: Henk Widi
LAMPUNG — Pasca gempa berkekuatan 7,8 skala Richter di Kepulauan Mentawai dengan kedalaman 10 meter dan adanya peringatan dini Tsunami sempat menimbulkan kepanikan. Selain itu, masyarakat pesisir Lampung Selatan juga mewaspadai aktifitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang ada di Perairan Selat Sunda pemisah Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.
![]() |
| Gunung Anak Krakatau |
Seorang warga Desa Kunjir Kecamatan Rajabasa, Ahmad (45) menyebutkan, meski ada kepanikan, namun ia bersama keluarga lebih memilih untuk bertahan di rumah, namun tetap meningkatkan kewaspadaan.
“Kita tetap waspada akan adanya kemungkinan bencana, apalagi warga Lampung Selatan yang sangat banyak berada di pinggir laut dan berdekatan dengan Gunung Anak Krakatau,”ungkap Ahmad.
Disebutkan, bentuk kewaspadaan, dia dan warga pesisir selalu mengamati aktifitas Gunung Anak Krakatau secara visual. Berdasarkan data hingga kini Gunung Anak Krakatau (GAK) masih dinyatakan dalam status waspada (level II). Hal tersebut bisa terlihat dari data seismograf yang berada di desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.
Menurut Andi Suardi, petugas pos pantau hal tersebut justru sangat bagus karena letusan GAK merupakan aktifitas normal untuk memuntahkan material vulkanik yang ada di dalam kaldera gunung api yang berada di Selat Sunda tersebut. Andi mengungkapkan, kegempaan sebagai akibat aktifitas vulkanik GAK memang selalu berubah-ubah.
”Aktifitas vulkanik Gunung Krakatau memang masih stabil dan selalu terpantau di seismograf aktifitas kegempaan dangkal yang cukup dominan, “ ujar Andi kepada media Cendananews.com Kamis (3/3/2016).

Ia menegaskan saat ini aktifitas kegempaan Gunung Anak Krakatau memang cukup fluktuatif, terlihat sepanjang bulan awal tahun 2016 ini, dari data harian kegempaan berada di kisaran 345, 453, 256, sehingga dirata-rata menurut Andi setiap harinya selama sebulan kegempaan mencapai 300-500 kegempaan.
Gunung yang pernah meletus dahsyat di tahun 1883 itu memang sangat fenomenal. Sehingga justru banyak wisatawan dari mancanegara, diantaranya dari Spanyol, Rusia dan Amerika yang berkunjung ke GAK. Kegempaan yang mencapai 300-500 perhari tersebut menyebabkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang berkedudukan di Bandung masih belum menurunkan levelnya dari Waspada ke level siaga.

Pos pantau GAK melaporkan aktifitas gunung tersebut dalam sehari kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamsel setiap hari pada pukul 09.00 WIB dan 20.00 WIB. Laporan tersebut menjadi bahan acuan untuk menentukan status GAK. Sehingga dalam status waspada ini nelayan maupun wisatawan dilarang memasuki area GAK dalam radius 2 Kilometer. Hal tersebut dimaksudkan untuk keselamatan, sebab dikuatirkan aktifitas sewaktu-waktu bisa berubah.