JUMAT, 05 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Foto: Henk Widi
LAMPUNG — Setelah sebelumnya seorang warga di radius 30 meter dari Sekolah Dasar Negeri Tetaan terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), pihak Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) rawat inap Kecamatan Panengahan Lampung Selatan melakukan langkah pencegahan dengan melakukan pengasapan (fogging).
![]() |
| Murid perhatikan proses pengasapan di SDN Tetaan |
Salah satu petugas medis dari Puskesmas rawat inap Kecamatan Panengahan, Indah mengungkapkan, selain satu penderita DBD yang sudah dirawat di desa tersebut satu orang warga lain mulai terjangkit penyakit DBD. Menyebarnya penyakit DBD yang menjangkit warga Tetaan membuat pengasapan dilakukan di perumahan warga tanpa kecuali sekolah dasar.
“Secara kebetulan lingkungan sekolah berada di dekat perkampungan warga sehingga kita lakukan antisipasi dengan melakukan pengasapan ke kelas kelas serta ruang guru yang kita kuatirkan menjadi sarang nyamuk,”ungkap Indah saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (05/02/2015)
Ia mengungkapkan, lokasi sekolah yang berada di dekat selokan dan memiliki kebun tersebut memiliki potensi menjadi tempat bersarangnya nyamuk penyebar penyakit DBD. Selain itu upaya sekolah selain pengasapan juga dilakukan gotong royong membersihkan lingkungan.
Siswa SD Tetaan yang saat proses pengasapan sedang melakukan kegiatan belajar segera mengemasi perangkat belajar sebelum pengasapan dilakukan. Sebanyak 225 siswa berdasarkan data pihak sekolah belum ada indikasi terkena penyakit DBD meski dua warga di lingkungan sekolah dinyatakan positif terjangkit DBD dan dirawat di Puskesmas.
Sementara itu, jumlah penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Lampung Selatan terus bertambah. Sesuai data yang tercatat pada Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat selama Januari 2016 ditemukan 133 kasus penderita DBD yang tersebar di sebanyak 17 kecamatan. Saat ini Dinkes setempat berstatus siaga menangani kasus DBD.
“Kasus itu terjadi hampir di setiap kecamatan di Lamsel, Namun syukurlah sampai hari ini tidak ada laporan korban yang meninggal ataupun kritis,” ungkap Kabid Pemberantasan Penyakit dan Pengawasan Lingkungan (P2PL) Dinkes Lampung Selatan, Kristi Endarwati.
Kristi mengungkapkan, wabah DBD diprediksi bakal terjadi hingga Maret mendatang, mengingat cuaca yang masih belum stabil. Datangnya musim penghujan di sejumlah wilayah di Lampung Selatan yang belum merata pun menjadi salah satu faktor mulai mewabahnya penyakit DBD.
“Kemungkinan akhir Maret baru kembali normal. Artinya, intensitas atau jumlah serangan DBD kemungkinan akan menurun,” terang nya.

Upaya pencegahan terus dilakukan dengan menggiatkan sosialisasi bahaya DBD kepada warga dan bagaimana cara pencegahannya. Langkah pencegahan biasa disebut PSN, yakni dengan melakukan tiga M (menguras, menutup, mengubur).
“Kemudian untuk penanggulangannya kita masih mengandalkan fogging fokus bagi daerah atau desa yang sudah terjangkit,” jelas Kristi.