Juminah, Perempuan Tangguh Pemecah Batu Kaki Gunung Rajabasa

KAMIS, 11 FEBRUARI 2016
Penulis: Henk Widi / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Henk Widi

CATATAN JURNALIS—Sebagai wilayah penghasil batu, Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan Lampung Selatan mampu menghasilkan jutaan kubik batu. Berada di kaki Gunung Rajabasa, sebagian warga memanfaatkan potensi tersebut sebagai sumber penghasilan. Pantauan Cendana News, sebagian dari penambang tradisional ini sudah menggunakan alat modern untuk memecah batu, sebagian lagi masih menggunakan tenaga manusia, dan tidak sedikit dari tenaga pemecah batu tersebut adalah kaum perempuan. 

Juminah

Dalam melakukan pekerjaannya, para pekerja perempuan ini masih menggunakan alat sederhana seperti palu. Para pekerja perempuan ini tidak harus jauh-jauh ke kaki gunung untuk bekerja karena di desa tersebut sudah ada pemilik usaha penambangan batu bernama Solihin (40). Solihin dibantu istri Inayah (34) meyiapkan batu-batu gunung di halaman rumahnya lalu kemudian pekerja perempuan yang mayoritas adalah tetangga dekat bisa memulai pekerjaan sebagai pemecah batu di rumahnya. 
Menurut pengakuan Inayah kepada Cendana News, awalnya banyak yang tidak mau melakukan pekerjaan sebagai pemecah batu karena memang tergolong pekerjaan yang berat. Tetapi, desakan ekonomi maka kaum perempuan di sekitar rumahnya pun satu per satu bersedia bekerja sebagai pemecah batu sebagai pengisi waktu luang sekaligus mendapat penghasilan untuk meringankan beban suami dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. 
“Daripada menganggur, tidak punya penghasilan, lebih baik bekerja walaupun sebagai pemecah batu yang lazimnya dikerjakan oleh kaum pria,” demikian penjelasan Inayah.

Menjumpai Juminah (30), seorang ibu muda yang sudah memiliki tiga orang anak. Ia mengaku pekerjaan sebagai pemecah batu ia lakoni karena sempat terjadi kemarau panjang sehingga tak ada lagi pekerjaan di sawah atau kebun yang bisa ia lakukan maka ia pun mengisi waktu luangnya sebagai pemecah batu. 
Juminah harus bekerja mulai pukul 08.00 WIB, sadar akan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu, Juminah mengaku, setelah menyelesaikan kebutuhan anak-anaknya sekolah baru ia  berangkat kerja, tetapi ada salah satu anak yang selalu ia ajak bekerja karena ia tak mau anak-anaknya lepas dari pengawasannya selama ia bekerja yang mengharuskannya tetap ada di tempat kerja hingga pukul 16.00 WIB.
Juminah mengisahkan, jika musim tanam jagung tiba, ia bersama ibu-ibu muda lainnya bekerja sebagai buruh upah untuk menanam, memupuk serta memanen jagung. Akibat hujan tak kunjung tiba, ia pun kehilangan kesempatan jadi buruh upah. 
Bekerja sebagai pemecah batu, menurut Juminah, bukan hanya sekedar pekerjaan yang berat karena harus memecah batu, tetapi yang terasa paling berat adalah, ia harus melakukan semua itu dibawah sengatan matahari atau guyuran hujan. Tapi, jika guyuran hujan terlalu keras, ia pun memilih berteduh/ “Ada tempat berteduh yang dibuat suami saya Ahmad (44), terbuat dari terpal bekas, yang penting tidak kehujanan,” jelas Juminah.

Memiliki suami yang juga bekerja sebagai buruh lepas, tentunya penghasilan Juminah sebagai pemecah batu sangat berarti bagi kehidupan keluarganya. Itu sebab, Juminah tak mempedulikan betapa beratnya pekerjaan yang harus ia lakoni. Meski berusaha kuat, Juminah mengaku tetap saja sesekali ia harus berhenti kerja karena sakit yang ia rasakan karena tak jarang tangannya harus menjadi “sasaran empuk” ketika palu dan batu beradu.

“Ini bukan pekerjaan yang saya inginkan, tetapi inilah pekerjaan yang sekarang ini menopang kebutuhan keluarga kami. Dan saya tidak mau anak-anak saya melakukan pekerjaan ini, maka mereka harus sekolah dan mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik. Saya tidak mau anak saya mengalami sakit-sakit seperti yang saya alami, tangan saya ngilu, perih dan kadang dada saya juga sakit,” jelas Juminah dengan tegar.

Juminah, bersama sang suami merupakan perantau asal Jawa Tengah yang mengaku pindah ke Lampung karena ingin memperbaiki nasib. Karena tak memiliki modal maka mereka tidak bisa menjadi petani walau sekedar di lahan yang disewa. Maka, menjadi buruh adalah pilihan satu-satunya. Buruh apa saja.

Suami Juminah, kadang menjadi buruh muat batu bata yang akan dikirim ke luar desa. Pekerjaan memuat batu bata dan genteng  yang bisa dikerjakan rata rata satu jam ia memperoleh uang sebesar Rp25ribu-Rp30ribu. Jika muatan bata di tobong (lokasi pembakaran batu bata) sedang sepi, pekerjaan memuat batu split di buklit bukit batu menjadi pilihan lainnya.’

Setiap hari ada truk bermuatan batu yang dikirim ke kecamatan lain untuk bangunan atau proyek jalan, suami Juminah biasa membawa serok dan lalu bekerja sebagai buruh bongkar muat batu.

Setelah berkisah tentang pekerjaan dan suaminya, Juminah mulai mengkisahkan tentang buah hati kebanggaannya, sang anak yang rata rata bersekolah di lokasi yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah harus berangkat ke sekolah melewati Sungai Way Pisang yang dihubungkan dengan jembatan gantung terbuat dari bambu. Ia berharap anaknya bisa menyelesaikan sekolahnya agar bisa memperoleh pekerjaan layak.Untuk itu, seberapapun yang ia dan suaminya mampu peroleh, mereka tak lupa menabung demi terpenuhinya kebutuhan pendidikan anak-anaknya.

Menurut Juminah, anak perempuannya yang duduk di bangku sekolah menengah pertama terkadang sepulang sekolah menemani dirinya di tempat pemecahan batu namun ia hanya mengizinkan sang anak mengawasi adik-adiknya yang bermain. Sesekali, ia izinkan anaknya untuk membantu menyiapkan batu yang hendak ia pecah, tetapi membantu memecah batu, Juminah tetap konsisten melarang anak-anaknya melakukannya.

Perihal keselamatan kerja, Cendana News menanyakan kepada Juminah tentang perlunya menggunakan masker atau penutup hidung. Karena pecahan batu sangat berbahaya jika masuk hidupng atau mata, menjawab hal ini, Juminah hanya tersenyum dan menyampaikan belum membutuhkan masker.

Dari pekerjaan berat yang ia lakoni, Cendana News menanyakan mengenai penghasilan yang ia peroleh. Juminah menjelaskan, satu kubik batu pecahan yang sudah siap angkut bisa dijual dengan harga diatas satu juta, namun untuk satu kubik batu ia hanya memperoleh uang sebesar Rp250ribu-Rp300ribu.

Pekerja perempuan seperti Juminah-yang bekerja sebagai buruh lepas dengan upah tak menentu masih banyak dilakoni warga pedesaan di Lampung. Minimnya modal menjadi salah satu penyebab bagi mereka untuk memiliki kesempatan menjadi petani atau nelayan.

Lihat juga...