CATATAN JURNALIS—Sebagai wilayah penghasil batu, Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan Lampung Selatan mampu menghasilkan jutaan kubik batu. Berada di kaki Gunung Rajabasa, sebagian warga memanfaatkan potensi tersebut sebagai sumber penghasilan. Pantauan Cendana News, sebagian dari penambang tradisional ini sudah menggunakan alat modern untuk memecah batu, sebagian lagi masih menggunakan tenaga manusia, dan tidak sedikit dari tenaga pemecah batu tersebut adalah kaum perempuan.
![]() |
| Juminah |

Memiliki suami yang juga bekerja sebagai buruh lepas, tentunya penghasilan Juminah sebagai pemecah batu sangat berarti bagi kehidupan keluarganya. Itu sebab, Juminah tak mempedulikan betapa beratnya pekerjaan yang harus ia lakoni. Meski berusaha kuat, Juminah mengaku tetap saja sesekali ia harus berhenti kerja karena sakit yang ia rasakan karena tak jarang tangannya harus menjadi “sasaran empuk” ketika palu dan batu beradu.
“Ini bukan pekerjaan yang saya inginkan, tetapi inilah pekerjaan yang sekarang ini menopang kebutuhan keluarga kami. Dan saya tidak mau anak-anak saya melakukan pekerjaan ini, maka mereka harus sekolah dan mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik. Saya tidak mau anak saya mengalami sakit-sakit seperti yang saya alami, tangan saya ngilu, perih dan kadang dada saya juga sakit,” jelas Juminah dengan tegar.
Juminah, bersama sang suami merupakan perantau asal Jawa Tengah yang mengaku pindah ke Lampung karena ingin memperbaiki nasib. Karena tak memiliki modal maka mereka tidak bisa menjadi petani walau sekedar di lahan yang disewa. Maka, menjadi buruh adalah pilihan satu-satunya. Buruh apa saja.
Suami Juminah, kadang menjadi buruh muat batu bata yang akan dikirim ke luar desa. Pekerjaan memuat batu bata dan genteng yang bisa dikerjakan rata rata satu jam ia memperoleh uang sebesar Rp25ribu-Rp30ribu. Jika muatan bata di tobong (lokasi pembakaran batu bata) sedang sepi, pekerjaan memuat batu split di buklit bukit batu menjadi pilihan lainnya.’
Setiap hari ada truk bermuatan batu yang dikirim ke kecamatan lain untuk bangunan atau proyek jalan, suami Juminah biasa membawa serok dan lalu bekerja sebagai buruh bongkar muat batu.
Setelah berkisah tentang pekerjaan dan suaminya, Juminah mulai mengkisahkan tentang buah hati kebanggaannya, sang anak yang rata rata bersekolah di lokasi yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah harus berangkat ke sekolah melewati Sungai Way Pisang yang dihubungkan dengan jembatan gantung terbuat dari bambu. Ia berharap anaknya bisa menyelesaikan sekolahnya agar bisa memperoleh pekerjaan layak.Untuk itu, seberapapun yang ia dan suaminya mampu peroleh, mereka tak lupa menabung demi terpenuhinya kebutuhan pendidikan anak-anaknya.
Menurut Juminah, anak perempuannya yang duduk di bangku sekolah menengah pertama terkadang sepulang sekolah menemani dirinya di tempat pemecahan batu namun ia hanya mengizinkan sang anak mengawasi adik-adiknya yang bermain. Sesekali, ia izinkan anaknya untuk membantu menyiapkan batu yang hendak ia pecah, tetapi membantu memecah batu, Juminah tetap konsisten melarang anak-anaknya melakukannya.
Perihal keselamatan kerja, Cendana News menanyakan kepada Juminah tentang perlunya menggunakan masker atau penutup hidung. Karena pecahan batu sangat berbahaya jika masuk hidupng atau mata, menjawab hal ini, Juminah hanya tersenyum dan menyampaikan belum membutuhkan masker.
Dari pekerjaan berat yang ia lakoni, Cendana News menanyakan mengenai penghasilan yang ia peroleh. Juminah menjelaskan, satu kubik batu pecahan yang sudah siap angkut bisa dijual dengan harga diatas satu juta, namun untuk satu kubik batu ia hanya memperoleh uang sebesar Rp250ribu-Rp300ribu.
—
Pekerja perempuan seperti Juminah-yang bekerja sebagai buruh lepas dengan upah tak menentu masih banyak dilakoni warga pedesaan di Lampung. Minimnya modal menjadi salah satu penyebab bagi mereka untuk memiliki kesempatan menjadi petani atau nelayan.