KAMIS, 11 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Charolin Pebrianti
SURABAYA — Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dengan memakai konsep Liquefied Natural Gas (LNG) yang dicanangkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menerangi Provinsi Papua kini sudah dalam tahap membuat rancangan. Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) yang ikut didalamnya berharap Perguruan Tinggi (PT) yang ada di Papua juga dilibatkan.
![]() |
| Wakil Rektor IV ITS, I Ketut Buda Artana |
“Perguruan Tinggi yang ada di Papua juga harus dilibatkan, supaya nantinya bisa bersinergi dengan baik,”sebut Wakil Rektor IV ITS, Prof. I Ketut Buda Artana saat ditemui Cendana News di Ruang Sidang 1 Rektorat ITS, Kamis (11/2/2016).
Dikatakan, kalau PT di Papua belum mampu, maka ITS siap menjadi asisten dan mendukung serta mendorong agar nantinya mereka bisa mandiri.
” ITS siap mendorong agar agar nantinya mereka bisa mandiri,” tegasnya.
Dikatakan, Papua butuh listrik secepat mungkin demi menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020. Diharapkan RUPTL segera terlaksana paling cepat 2017 dan selambat-lambatnya 2020.
“ITS akan bekerja keras agar kerjasama ini bisa segera terealisasi,” pungkasnya.
Ketut juga menambahkan, pihaknya berharap teknologi LNG dapat diterapkan di berbagai daerah di wilayah timur Indonesia. Namun harus didukung dengan kesiapan pemerintah dalam storage, jalan, dan pipa gas juga diperlukan untuk melancarkan pengiriman ke pembangkit listrik.
“Konsep LNG ini diharapkan segera didistribusikan tidak hanya di Papua namun juga bisa untuk Indonesia Timur lainnya,” terang W
LNG berkonsep memberikan bantuan aliran listrik dengan cara didistribusikan dengan menggunakan kapal mini. Dimana sebelumnya sudah diuji coba dengan kesiapan gas di Papua yang memadai, tapi juga diseimbangkan dengan penggunaan gas dan minyak untuk proyek listrik ini.