Bermula dari Iseng Memperbaiki Sepatu, Kini Jadi Bisnis Beromset Puluhan Juta

SENIN, 15 JANUARI 2016
Penulis : Koko Triarko / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Koko Triarko

CATATAN JURNALIS—Seringkali sebuah kreatifitas secara tak terduga membuahkan hasil luar biasa. Dan, ini yang dialami seorang mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Gilang Pratama. Hanya bermula dari iseng memperbaiki sepatunya sendiri, kini ia membuka usaha jasa perbaikan  sepatu dengan omset puluhan juta.

Memperbaiki warna sepatu yang sudah mulai kusam
Bermula dari pengalaman pribadi memiliki sepatu kesayangan yang telah lusuh, Galih mencoba mencari cara untuk membersihkan dan mengkilapkannya lagi. Maklum, tidak semua jenis sepatu itu anti air dan bisa begitu saja dicuci dengan air dan sabun. 
Maka, dengan kreatifitasnya ia kemudian menemukan sebuah formula tersendiri untuk bisa mengkilapkan lagi sepatu yang sudah lusuh. Bahkan, dalam perkembangannya kemudian, ia juga melakukan servis ringan seperti menjahit dan mengelem sepatu. Tidak dinyana, dari kreatifitasnya itu banyak teman yang tertarik memperbaiki sepatu ke tempatnya, sehingga Galih pun membuka usaha memperbaiki sepatu.
Galih yang masih duduk sebagai mahasiswa Semester X Jurusan Fotografi ISI Yogyakarta, lalu sengaja membuka usahanya di kawasan kampus di daerah Mrican Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Sehingga, hampir semua pelanggannya merupakan mahasiswa dan pelajar serta anak-anak muda. Usaha kreatif yang dirintisnya sejak setahun lalu itu, pun kini mampu memberinya penghasilan Rp. 10-15 Juta perbulan.
Dengan dibantu lima tenaga kerja, Galih yang ditemui Minggu (14/2/2016) mengatakan, dalam sehari rata-rata ia menerima order sebanyak 20-an pasang sepatu. Ada pun kerusakannya bermacam-macam. Ada yang hanya butuh pengeleman, dijahit atau dikilapkan lagi warna sepatu seperti aslinya. Dan, inilah salah satu keunggulan jasa perbaikan sepatu milik Galih, yaitu mampu mengkilapkan lagi beragam jenis sepatu yang sudah lusuh. 
Untuk itu, ia memiliki ramuan pewarna tersendiri yang didatangkan dari Tiongkok. Namun demikian, zat perwarna asal Tiongkok itu sekaligus juga menjadi kendala karena harganya yang mahal. Berbagai cara untuk menyiasati perwarna import sudah dilakukan. Misalnya, dengan menggunakan zat pewarna alami. Namun, hasilnya tak bisa optimal dan pengeringannya lebih lama.
Sementara itu, Galih mematok tarif jasanya sebesar Rp. 35-60 Ribu untuk jasa pencucian sepatu. Sedangkan untuk jahit dan pengeleman ulang sebesar Rp. 30-40 Ribu dan untuk pewarnaan sepatu sebesar Rp. 80-150 Ribu. Dengan tarif dan jumlah pesanan memperbaiki sepatu yang tidak tentu tersebut, Galih mengaku setiap bulannya mampu mendapatkan penghasilan sebesar Rp. 10-15 Juta.
Lihat juga...