SENIN, 15 FEBRUARI 2016
Penulis: Fahrul / Editor: Sari Puspita Ayu / Sumber foto: Fahrul
SUMENEP — Masjid Jamik Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, merupakan bangunan yang memiliki khas berbeda dengan bangunan di daerah ini pada umumnya, pasalnya masjid tersebut tak lain adalah bangunan hasil perbaduan arsitektur dari Negara China dan Eropa, sehingga banyak motif bangunan yang jarang berada di daerah setempat.

Pembangunan Masjid Jamik pada saat pemerintahan Pangeran Natakusuma (Asiruddin) sekitar tahun 1786 M, setelah ia selesai melaksanakan pembangunan keraton Sumenep, karena melihat kondisi masjid lama sudah sangat tidak memungkinkan untuk menampung para jamaah ketika hendak melaksanakan sholat Jumat, akhirnya masjid tersebut dirubah dan diperlebar.
Menurut Wakil Ketua Pengembangan Masjid Jamik Kabupaten Suemenep, Predi Hartono mengatakan, bahwa pada masa pemerintahan Raja Pangeran Natakusuma (Asiruddin) memerintahkan kepada arsitek bernama Law Piango untuk membangun masjid lama, sebab masjid tersebut sangat sempit, sehingga tidak bisa menampung jamaah yang banyak.
Predi menjelaskan Masjid Jamik dulu disebut masjid anyar (baru) kemudian kenapa ornamen arsitekturnya juga nampak kental dengan budaya China, karena memang arsiteknya dari China, sehingga raja itu memadukan antara arsitektur China dan Eropa.

Bangunan masjid itu sangat nampak memiliki ciri yang berbeda dengan bangun di daerah ini, sebab ketika dilihat dari pintu masuk di depan masjid bangunan tersebut sudah bernuansa China, sedangkan bangunan yang besar monomental kental dengan bangunan khas Eropa, sehingga bangunan masjid tersebut seperti perpaduan antara arsitektur China dan Eropa.
Menurut Predi, kalau dari arsitektur eropa yang nampak dari bangunan-bangunan yang besar monomental itu memang khas bangunan Eropa, untuk detil-detil ornamen gapura yang ada di dalam itu juga ada perpaduan dari China.
Masjid Jamik merupakan salah satu dari 10 masjid tertua di Indonesia, dengan kekhasan arsitekturnya membuat masjid tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sumenep. Sehingga bangunan yang ada masih utuh tanpa ada perubahan sama sekali.
Kepada Cendana News Predi Hartono memaparkan tentang filosofi yang ada pada Masjid Jamik tersebut. Menurutnya, pada bangunan masjid banyak mengandung filosofi, setiap lambang yang ada pasti ada filosofinya.

Dalam bangunan juga ada giok yang tersusun tiga, itu filosofinya adalah sebagai penolak musibah, ada juga gambar pastike yang seperti lambang nasi, itu filosofinya katanya untuk permohonan datangkan hujan.
Pengurus takmir Masjid Jamik ingin sekali membedah dan mengetahui sejarah ornamen-ornamen yang ada, baik peninggalan yang berupa prasasti maupun tulisan yang ada di masjid tersebut, namun sayang mereka terkendala ahli dari kepurbakalaan untuk mengetahui arti dari tulisan yang ada.
Predi berharap dari pemerintah daerah ada kepedulian dan perhatian yang lebih serius, karena ini merupakan situs bersejarah yang mungkin kalau di Jawa Timur sebagaimana yang telah dihimpun informasi, orisinalitas pada Masjid Jamik Sumenep ini masih 90 persen.