Sangat Dangkal Jika Penemuan Candi Hanya Dijadikan Tempat Wisata

JUM’AT, 8 JANUARI 2016
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Charolin Pebrianti

SURABAYA—Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya menggelar Seminar ‘Bencana dan Punahnya’ di Gedung Rektorat, Jumat (8/1/2016). Di dalam seminar dibahas mengenai peradaban dan perkembangan yang ada di Indonesia.

Seminar ‘Bencana dan Punahnya’ di Gedung Rektorat

Ketua Dewan Ikatan Geologi Indonesia, Andang Bachtiar mengatakan sebenarnya perkembangan dan peradaban di Indonesia jika dilihat melalui sisi geologi polanya tidak linier (garis lurus).
“Indonesia sebenarnya hebat namun sering tergerus akibat bencana. Indonesia memiliki seismik (garis bumi) yang rawan bencana alam, seperti gempa bumi, gunung berapi dan tsunami,” terangnya.
Menurut Andang, Indonesia memiliki 129 gunung api aktif dan juga memiliki garis pantai sepanjang 90 ribu kilometer persegi rawan tsunami. Oleh karenanya pola peradaban dan perkembangan Indonesia yakni purba 1 – modern 1, purba 2 – modern 2, purba 3 – modern 3 dan seterusnya.
“Seharusnya kita ini bisa memulai dari purba menuju modern, dan kita generasi penerusnya bisa melanjutkan teknologi atau temuan yang sudah ada. Namun, karena Indonesia rawan bencana penemuan-penemuan sebelumnya terkubur dan hilang, dan kita harus memulai lagi dari awal,” ujarnya.
Andang menambahkan, teknologi pembangunan di Indonesia seperti Candi Borobudur sangat hebat., meskipun pernah tertutup abu vulkanik akibat letusan Gunung Merapi, bentuk arsitekturnya tidak berubah meski sudah ribuan tahun lalu.
“Yang luar biasa bahkan beberapa candi ada relief orang yang menggunakan helm, relief helikopter. Namun, ahli arkeolog candi kurang terbuka dan tidak menelusuri soal itu,” katanya.
Bumi, utamanya Indonesia dibentuk berdasarkan pola pertumbuhan-penghancuran. Hal inilah yang harus kita gali lebih dalam, bagaimana pertumbuhan yang sudah ada dan bagaimana pengembangannya.
“di Indonesia bisa ada 3 – 4 gunung api setiap harinya meletus. Para pendahulu bangsa Indonesia hebat, sudah digempur berkali-kali namun bisa bertahan sejauh ini,” tegasnya.
Ia juga menyayangkan jika ada temuan candi, biasanya oleh pemerintah hanya dijadikan tempat wisata demi menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Seharusnya dengan adanya temuan itu, kita bisa mengembangkan dan memajukan teknologi yang ada. Kalau hanya dijadikan tempat wisata sangat dangkal saya rasa,” pungkasnya.
Lihat juga...