Penulis: Rustam / Editor: Gani Khair / Sumber foto; Rustam
CATATAN JURNALIS—Pemerintah Indonesia, khususnya Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara harus mengambil kebijakan yang lebih konkrit untuk melestarikan musik daerah yang kini mulai tenggelam ditengah arus modernisasi dibidang musik.
Salah satu alat musik yang populer d Provinsi Sultra, adalah musik bambu yang sudah mulai jarang dimainkan. Padahal musik bambu ini biasa dimainkan oleh masyarakat, pada acara adat atau keramaian.
Tetapi saat ini, musik bambu hanya dimainkan pada saat festival musik bambu,atau acara resmi pemerintahan. Misalnya peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) pemerintah kabupaten dan kota.
Musik bambu sangat populer di Kendari, Konawe, Kolaka, Konawe Selatan, Konawe Utara. Kemudian di Kabupaten Kolaka Timur dan Kabupaten Bombana.
Alat musik bambu ini terbuat dari jenis bambu tebal. Musik ini dimainkan dengan cara ditiup untuk menghasilkan suara. Tangga nadanya sama dengan alat musik lainnya, yakni tangga nada do-re-mi-fa-so-la-si-do.
Secara garis besar, alat musik bambu mengeluarkan jenis suara tenor dan bass yang dipadukan dengan suara suling dan gendang. Khusus untuk jenis suara tenor, ada dua jenis alat musik bambunya, yakni tenor berbadan satu dan tenor berbadan dua.
Untuk menghasilkan suara yang baik, bambu yang digunakan adalah bambu harus pilihan. Jenis bambu yang umum dipakai adalah bambu betung, atau lebih dikenal kowuna bonda (bahasa daerah Tolaki). Jenis bambu ini diameternya antara 10 sampai 17 Cm, dengan ketebalan bambu mencapai 40 mm.
Untuk menghasilkan nada yang benar, dibutuhkan waktu untuk membuat alat musik bambu ini. Bambu harus dikeringkan secara merata. Kemudian diraut menggunakan pisau yang tajam. Membutuhkan waktu paling cepat 15 hari untuk proses perakitannya.
Musik bambu Sultra mulai populer di kalangan masyarakat pada tahun 1975 hingga 1990. Setelah itu, alat musik ini tergerus seiring dengan berkembangnya alat musik modern.
Menurut sejarah, alat musik bambu ini pertama kali diperkenalkan masyarakat etnis Tolaki Mekongga dari Kabupaten Kolaka. Hanya saja sampai sekarang, jejak sejarah siapa penemu alat musik bambu ini belum diketahui.
Dengan berkembangnya alat musik modern, kini musik bambu lebih banyak dimainkan anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) dan SMP. Sedangkan untuk kalangan orang dewasa, hampirt tidak pernah terlihat lagi.
Bahkan generasi muda, mulai cenderung tidak menyukai mendengar musik bambu. Alasan mendasar adalah jenis lagu yang dibawakan grup musik bambu, lebih senang dan sering membawakan lagu daerah.
Hanya ada beberapa grup musik bambu mampu membawakan lagu-lagu Indonesia populer. Ini terjadi karena sangat tergantung kemampuan pelatih musik bambu mentransformasi lagu dengan menggunakan alat musik modern ke musik tradisional.
Apalagi alat musik bambu ini dimainkan antara 20 orang sampai 40 orang. Sehingga orang Kendari biasa menyebutnya “orkestra tradisional”. Untuk menyelaraskan nada musik yang dimainkan, dibutuhkan pelatih yang mempunyai kemampuan tingkat tinggi dibidang musik.
Untuk melestarikan “Orkestra tradisional” ini, termasuk alat musik tradisional lain yang ada di Indonesia, pemerintah Indonesia harus membuat strategi atau program yang lebih konkrit.
Strategi atau program yang dimaksud, adalah Kementerian Pariwisata, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Badan Ekonomi Kreatif, sebaiknya membuat program yang lebih rill, untuk mempertahankan alat musik tradisional.
Badan Ekonomi Kreatif berperan memberikan pelatihan kepada produsen alat musik bambu, untuk memproduksi alat secara massal. Artinya musik bambu sudah diarahkan masuk ke industri musik tradisional.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerapkan kurikulum kesenian. Kesenian yang dimaksud adalah wajib kepada seluruh sekolah di Indonesia, mulai tingkat SD, SMP dan SMA atau setingkatnya untuk belajar musik tradisional di masing-masing daerah. Seluruh siswa dan guru kesenian harus bisa memainkan musik tradisional.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus bisa membina secara khusus kepada guru kesenian. Guru kesenian sebaiknya diikutkan pelatihan khusus untuk memahami perkembangan musik.
Bila guru diikutkan pelatihan khusus memahami musik modern, maka diharapkan guru kesenian ini dapat memberikan inspirasi untuk melahirkan perpaduan alat musik tradisional dengan musik modern.
Kemudian Kementerian Pariwisata harus mempromosikan alat musik tradisional kepada wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Pementasan kesenian tradisional Indonesia di luar negeri, jangan hanya seni tradisional tertentu saja tapi harus ada pemerataan, termasuk musik bambu asal Sultra.
Bukan membiarkan musik bambu bertahan ditengah derasnya arus musik modern yang masuk hingga ke pelosok desa. Dampak midernisasi musik, perlahan-lahan musik bambu mulai ditinggalkan. Anak-anak sudah dijangkiti musik Disk Joki (Dj).
Peran pemerintah pusat, pemerintah, pelaku seni, dan masyarakar harus terpadu membesarkab alat musik bambu, bila tidak ingin alat musik tradisional ini lenyap ditelan zaman. Mari kita cintai musik kita sendiri, seperti halnya mencintai diri sendiri.