Hujan Langka, Irigasi Mampet, Petani Susah

JUMAT, 22 JANUARI 2016
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Koko Triarko

YOGYAKARTA—Memasuki musim penghujan, para petani di dusun Karanglo Tapan, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, mulai menyiapkan lahan padi. Namun, hujan saat ini ternyata langka dan irigasi sawah tak lancar akibat debit air berkurang dan menumpuknya sampah.


Sejumlah sawah milik petani di Desa Purwomartani, merupakan kawasan persawahan yang berada di jalur irigasi besar yang terkenal di Yogyakarta, Selokan Mataram. Namun, sekarang ini keberadaan selokan itu tak serta-merta membuat para petani mudah mengairi sawahnya. Pasalnya, sumber air dari irigasi Selokan Mataram yang dibangun sejak zaman Sultan HB IX itu, kini lebih banyak tersedot untuk mengairi ratusan kolam ikan yang berada di desa lain. Akibatnya, Selokan Mataram yang kini sudah diubah namanya menjadi Sungai Mataram itu debit airnya sangat berkurang setelah sampai di areal persawahan Desa Purwomartani.
Hal demikian diungkapkan Waldiyono (60), petani padi di Dusun Karanglo Tapan, Purwomartani, Kalasan, Sleman, ketika ditemui Jumat (22/1/2016). Ia mengatakan, sudah sejak dua kali musim tanam ini, debit air Selokan Mataram sangat sulit didapatkan. Hal itu, menurutnya, air Selokan Mataram yang mengalir dari Sungai Progo di kawasan desa Nglipar, Magelang, Jawa Tengah itu sudah lebih dahulu habis di tengan jalan sebelum sampai di desanya.
Sementara itu, musim hujan kali ini ternyata cukup langka, sehingga Waldiyanto mengaku sangat kesulitan air. Kendati berada di jalur irigasi Selokan Mataram, Waldiyanto tak bisa bermewah-mewah dengan sumber air. 
Waldiyanto menuding, kelangkaan sumber air dari Selokan Mataram itu akibat sekarang ini marak dibuat kolam ikan yang membutuhkan air melimpah dan terus-menerus. Tidak jarang, kata Waldiyanto, ia terpaksa harus mengalirkan sendiri air dari Selokan Mataram tersebut, kendati hal itu mengakibatkan cek-cok mulut dengan sesama pengguna irigasi.
Selain menurunnya debit air, kelangkaan air di Selokan Mataram, menurut Waldiyanto, masih diperparah lagi dengan kondisi selokan yang dipenuhi sampah. Hampir setiap hari, petugas pengamat selokan harus membersihkan sampah dengan alat sekedarnya. Namun, hal itu tidak banyak membantu karena saking banyaknya sampah yang dibuang di selokan. Apalagi, katanya, banyak warga pula yang sengaja membendung aliran sungai dengan batu untuk kebutuhan sendiri secara sewenang-wenang. “Adanya batu-batu itu semakin memperparah sumbatan air”, jelas Waldiyanto.
Sementara itu, Pengamat Sungai Mataram II yang membawahi aliran Sungai atau Selokan Mataram dari desa Karangjati, Ngemplak, Sleman sampai desa Randugunting, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Hari Subandriyo, mengatakan, sumber air dari Selokan Mataram di daerah Maguwoharjo sekarang ini memang lebih banyak tersedot untuk kolam ikan sehingga mengganggu kualitas debit bawah air. Apalagi, katanya, sejak tahun 2010 debit air Selokan Mataram memang sudah menyusut drastis. Banyaknya kolam ikan saat ini memang sangat berdampak terhadap berkurangnya debit air. Belum lagi masalah sampah yang sekarang ini juga sangat parah.
Hari mengatakan, pihaknya selama ini setiap tahun sekali melakukan pengerukan sampah dengan alat berat. Namun, hal itu belum cukup menyelesaikan masalah sampah, yang setiap harinya terus bertambah. Dengan keadaan itu, Selokan Mataram yang berada di kawasan desa Purwomartani, memang termasuk daerah paling ujung, sehingga paling sedikit menerima aliran air. 
Lihat juga...