Buka Outlet di Perbatasan, Siasat Menghadapi Persaingan MEA

SENIN, 18 JANUARI 2016
Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Koko Triarko

YOGYAKARTA —Meski belum begitu terasa dampak dari dimulainya Masyarakat Ekomomi Asean (MEA), namun sejumlah pelaku usaha kecil mulai membuat strategi untuk menghadapi persaingan global tersebut. Salah satunya pengrajin sandal kulit di Yogyakarta.


Sejak setahun terakhir, pengrajin sandal kulit di kampung Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta, Sujadi, telah mempersiapkan diri menghadapi persaingan global MEA. Salah satunya dengan mendirikan sejumlah outlet di daerah perbatasan di Indonesia, yang dinilainya mampu menekan biaya pengiriman barang. Ia mengatakan, cara itu mampu menekan ongkos biaya pengiriman barang sampai 80 Persen, dan meningkatkan jumlah keuntungan sebanyak hampir 50 Persen. 
Sujadi mengatakan, sejak setahun lalu ia yang tergabung dalam Koperasi Industri Kerajinan Mandiri Sejahtera Keparakan dan dipercaya sebagai ketua, telah mendirikan outlet di Batam dan Tanjung Pinang, yang ditujukan untuk mendekatkan diri dengan konsumen di Singapura dan Malasyia. Sedangkan satu outletnya lagi berada di Jakarta. Dengan membuka sejumlah outlet di daerah perbatasan, menjadi tidak terkena biaya pengiriman barang ke luar negeri yang cukup besar. Namun hanya terkena biaya pengiriman barang dalam negeri yang besarannya tidak sampai Rp. 10 Juta. 
Sujadi menjelaskan, sistem kerja outlet tersebut sebenarnya sama dengan outlet kebanyakan. Pembeli datang dan memilih secara langsung aneka kerajinan kulit yang ditawarkan. Jika merasa cocok, katanya, pembeli dari luar negeri biasanya akan memborong dan membawanya ke negaranya masing-masing. Dalam satu hari, masing-masing outlet mampu meraup omset sebesar Rp 5-10 Juta perhari. Sedangkan pengiriman barang dilakukannya sebulan sekali.
Dengan cara membuka outlet di perbatasan negara, menurutnya, juga bisa menekan tingkat resiko dari ulah pembeli nakal. Pasalnya, dari pengalaman eksport langsung yang pernah dilakukannya, seringkali justru bertemu dengan pembeli nakal yang berdalih barang tidak sesuai mutu. Padahal, kata Sujadi, alasan itu hanya sekedar ingin mangkir dari pembayaran.
Selama ini, Sujadi menjalin relasi dengan rekan bisnis dan konsumennya saat mengadakan pameran di sejumlah daerah. Fungsi jaringan, menurutnya, sangat penting diperluas dan terus dibina kedekatannya dengan komunikasi yang baik sehingga muncul rasa saling percaya. Bahkan, hubungan baik dengan konsumen yang terbangun bisa semakin memperluas pasar.
Selain dengan mendekatkan diri dengan membuka outlet di daerah perbatasan, Sujadi juga memanfaatkan broker atau perantara sebagai distributor yang mengeksport produknya ke sejumlah negara lain seperti Amerika.
Dengan berbagai cara dan keunggulan bahan serta pengalaman, Sujadi mengaku tidak takut bersaing. Kendati banyak barang serupa dari China, Sujadi pun tak beringsut, lantaran ia yakin jika bahan baku kulit yang digunakan adalah kulit nabati yang hanya ada di Indonesia.
Koperasi Industri Kerajinan Mandiri Sejahtera Keparakan, terdiri dari 41 pengrajin dengan jumlah tenaga kerja sekitar 200 orang. Tak hanya berasal dari kampung setempat, tenaga kerja juga banyak yang dari daerah lain seperti Bantul dan lainnya. Sebenarnya, kata Sujadi, di kampung Keparakan ada sekitar 70-an pengrajin kulit. Namun dari jumlah itu tidak semua bergabung ke dalam koperasi. Namun demikian, pengrajin di luar koperasi juga bisa menitipkan barang di koperasi untuk dipasarkan.
Sujadi mengatakan, omset yang diperoleh perkelompok mencapai Rp 50-60 Juta perbulan, dengan rata-rata produksi sebanyak 5.000-10.000 pasang sandal. Keparakan, kata Sujadi, memang sudah terkenal sebagai sentra kerajinan kulit sejak tahun 1970-an. Jumlah pengrajin dari tahun ke tahun terus bertambah, karena omset yang menjanjikan. 
Lihat juga...