Dibalik Proses Belajar SDN Inpres Tobati Kota Jayapura Papua

Usai jam sekolah, murid kelas I berpose bersama
JAYAPURA — Aktifitas kegiatan belajar dan mengajar sekolah di Sekolah Dasar (SD) Negeri Inpres Tobati, Kota Jayapura masih jauh dari harapan. Berbagai kekurangan didapati didalam sekolah tersebut, mulai dari guru produktif hingga perangkat sekolah yang masih minim dimiliki oleh anak didik.
Sekolah yag memiliki 83 murid yang terdiri dari 46 laki-laki dan 37 perempuan dengan rincian masing kelas I berjumlah 17 murid; kelas II, 8 murid; kelas III, 8 murid; kelas IV 28 murid; kelas V, 12 murid dan kelas VI berjumlah 11 murid hanya didampingi oleh 4 guru produktif.
“Bahkan 1 guru terpaksa harus mengajar di dua kelas sekaligus,”kata Kepsek SDN Inpres Tobati, Kota Jayapura, Tunggul Ompusunggu.
Disebutkan, secara administratif terdapat 11 guru aktif, namun karena berbagai alasan, seperti absen maupun ijin membuat kegiatan belajar mengajar tidak berjalan semestinya.
“Kalau dilihat secara administrasi memang guru disini ada 11, tapi dari penilaian saya hanya empat guru yang produktif,” kata Kepsek SDN Inpres Tobati, Kota Jayapura, Tunggul Ompusunggu.
Sistim mengajar guru itu sendiri, gunakan pola wali kelas, dimana setiap kelas terdapat satu guru yang menjadi wali, diluar dari pelajaran pendidikan agama dan pendidikan jasmani (olahraga) serta dua guru honor lainnya.
Kekurangan guru tersebut juga ditambah dengan titik fokus pembelajaran murid-murid di sekolah tersebut sering terpecah, lantaran masih adanya guru-guru yang memanfaatkkan anak muridnya dengan menjual dagangan berupa Es Lilin, buah segar Pepaya dan lain-lainnya.
“Iya saya jual ini buat teman-teman, semuanya harga Rp 1000. Ini ibu guru punya, nanti kalau sudah pulang sekolah, saya dapat uang dari ibu guru,” kata seorang anak murid kepada media ini.
Tak hanya itu, memanfaatkan tenaga seorang anak untuk bekerja layaknya seorang buruh bangunan pun menjadi lumrah disekolah tersebut. Faktanya, media ini melihat belasan bahkan puluhan anak dipekerjakan gurunya yang notabene saat itu sedang jam pelajaran pendidikan jasmani (Penjas), murid-murid ini pastinya senang melakukan hal tersebut, namun apakah yang didapat dari tugas seperti itu dan apakah orang tua mereka mengetahui hal itu.
“Pak guru suruh kami bantu buat untuk olahraga lompat jauh. Kami bantu pak guru gali tanah dan buang tanah ke halaman sekolah. Itu teman-teman ada pecahkan batu pake martil besar,” kata seorang murid sambil mendorong gerobak berisikan tanah dan bebatuan.
Tidak hanya itu, masih ada anak didik yang tidak menggunakan alas kaki, adapun yang gunakan sepatu dan sandal dapat dihitung dengan jari. 
“Sepatu saya sudah rusak, makanya saya tidak pakai. Malas pake sendal, mama mereka belum belikan sepatu,” kata Kris salah satu murid disekolah tersebut.
Saat ditanyakan ke Kepala terkait murid-murid kerja buruh, mengatakan murid-murid itu senang kalau bantu pak gurunya kerja. “Itu kan jam olahraga, gurunya mau buat satu fasilitas olahraga, mungkin daripada murid-murid main tidak benar, gurunya suruh bantu kerja,” tampik Tunggul yang diangkat menjadi kepala sekolah pada tahun 2000 silam.
Menurutnya, yang menjadi kesulitan sekolah, murid-murid terlalu sering absen untuk kesekolah. 
“Orang tua murid pergi ketempat lain, kadang-kadang membawa anaknya, jadi anak itu tidak bisa masuk sekolah atau absen, alangkah bagusnya kalau anak-anak ini tiap hari hadir disekolah,” harapnya.
Bukan hanya itu, menurutnya, bukan hanya anak murid saja menjadi alasan lambatnya proses belajar mengajar disekolah yang ia pimpin, guru-guru juga yang mengakibatkan terhambatnya proses mengajar kepada anak didik mereka.
“Kita kan tahu di Kota Jayapura sudah lima hari masuk sekolah, hari Senin sampai Jumat saja. Tapi itu belum bisa saya terapkan disekolah ini, saya lihat guru-guru belum bisa mengikuti program yang 5 hari sekolah,” ungkap Kepala Sekolah yang sudah mengajar di sekolah tersebut sejak tahun 1989 hingga diangkat menjadi kepala sekolah tahuan 2000-an.
Dijelaskannya, sebagian besar guru-guru tidak fokus mengajar, ia mencontohkan satu kurikulum yang harusnya dicapai 100 persen, sama sekali tak mencapai target, bahkan ia menilai hanya dapat 10 persen saja.
“Jadi kalau mau dilihat, target yang dicapai saja belum bisa. Kalau 30-40 persen itu sudah termasuk bagus. Ini kurikulum sudah mau habis, belum sampai segitu. Seandainya setiap guru dapat mencapai 60 persen mendekati target, sudah pasti murid-murid ini telah menguasai pelajaran mereka,” tuturnya.
Melihat kondisi ini, dirinya sudah susah mengambil tindakan tegas kepada guru-guru yang ada. Dirinya hanya melaporkan hal tersebut kepada dinas terkait, dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Jayapura.
“Saya mau buat apa lagi ya beginilah kondisinya, saya hanya bisa buat laporan bulanan kepada dinas. Nanti dinas yang nilai bagaimana. Tahun lalu sudah ada beberapa guru mendapat surat panggilan dari dinas, untuk tahun ini saya lihat belum ada guru-guru dapat panggil dinas terkait laporan saya,” ujarnya.
Keseriusan murid-murid SDN Inpres Tobati  terima pelajaran sekolah

Sejumlah murid melakukan kerja layaknya seorang buruh bangunan
MINGGU, 01 November 2015
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Jurnalis Cendana News wilayah Papua. Gabung dengan Cendana News bulan April 2015. 
Akun twitter : @indrayadihatta
Lihat juga...