Nelayan Kalianda masih Manfaatkan Bengkel Perahu Tradisional

Seorang pekerja bengkel sedang memperbaiki kerusakan badan kapal nelayan
LAMPUNG — Nelayan tradisional yang berada di Lampung Selatan Provinsi Lampung masih menggantungkan hidup mereka dengan peralatan dan perlengkapan tradisional. Dalam mencari nafkah, mereka menggunakan perahu kayu, cadik serta menggunakan penggerak dari mesin.
Dalam keseharian, nelayan yang menjalankan aktifitas menangkap ikan di Perairan Selat Sunda dan Teluk Lampung rata rata menyandarkan perahunya di beberapa Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Lampung. Diantaranya, Muara Piluk di Bakauheni, Dermaga Boom di Kalianda, TPI Ketapang di Kecamatan Ketapang, TPI Way Muli.
Seorang nelayan di Kalianda, Adiyana (34) menyebutkan, Usia kapal yang sudah relatif lama mencapai 5 tahun membuat sebagian bagian kapal miliknya memerlukan perawatan khusus. 
Salah satu cara melakukan perawatan diantaranya dengan memanfaatkan jasa bengkel kapal yang berada tak jauh dari dermaga boom Kalianda. Bengkel sekaligus tempat pembuatan kapal tradisional menjadi salah satu tujuan nelayan yang kapalnya mengalami masalah atau kerusakan.
“Sebagian besar nelayan pemilik kapal tradisional memiliki jadwal sendiri untuk memeriksakan kondisi kapal dan itu harus di docking apalagi jika kerusakan di bagian yang sulit dijangkau misal di bagian bawah kapal, bengkel kapal satu satunya harapan kami,”ungkap Adiyana kepada Cendana News, Selasa (22/09/2015).
Sementara itu nelayan lain, Somad (35) mengaku perawatan kapal tradisional memang membutuhkan penanganan khusus karena kapal merupakan alat untuk mencari penghasilan dan harus diperlakukan dengan baik. 
Baginya kapal yang dimilikinya merupakan penyambung hidup dan ketika harus menjalani perawatan merupakan jalan untuk lebih memperkuat kondisi kapal sekaligus mempercantik kondisi kapal. 
Perahu yang dimiliki Somad merupakan jenis perahu bermesin yang proses pembuatannya bisa menghabiskan uang sekitar 200 juta rupiah lebih. Sementara perahu perahu lain meski masih tradisional harga maupun proses pembuatannya bisa mencapai Rp.500juta.
“Perahu sudah menyerupai mobil dalam artian harganya menyamai mobil namun perahu di sini sebagai alat angkut barang, manusia dan untuk mencari ikan,”ungkap Somad.
Meskipun mengeluarkan uang rata rata hampir Rp.5juta -Rp.15juta sekali perbaikan, diakui Somad merupakan hal yang wajar, terutama untuk perbaikan interior kapal maupun bagian penting di kapal. 
Perbaikan akan lebih mahal lagi tergantung bagian yang diperbaiki. Pemilihan kayu untuk pembuatan kapal, serta perbaikannya memang harus dipilih yang cukup baik diantaranya kayu Lembasug/Bengkirai yang memiliki karakteristik kayu keras, ulet, tahan air dan mudah dibentuk untuk bagian lunas/badan kapal. Sementara untuk bagian dinding kayu Meranti atau kayu jenis lain bisa digunakan.
Somad mengaku rata rata perahu di wilayah setempat memiliki ukuran 12,5 meter-15,5 meter. Sementara jika ditambah dengan buritan dan haluan bisa menjadi 14,5 meter hingga 18,5 meter dengan ketinggian 1,5 meter-2,5 meter dan lebar mencapai 1,5meter-3,5 meter. Sementara untuk kapasitas muatan perahu miliknya yang diberi nama “Dewi Fortuna” memiliki kapasitas 6,5 ton (6500kg) dengan mesin pendorong tempel sebanyak 2 unit masing masing 20 pk.
Butuh waktu sebulan hingga dua bulan untuk reparasi bagian bagian perahu, sementara untuk pembuatan perahu baru bisa memakan waktu berbulan bulan tergantung ukuran. Kepercayaan dan saling membutuhkan terjalin antara pemilik perahu serta pemilik bengkel yang memiliki pekerja beberapa orang. 
Kepercayaan tersebut sangat diperlukan karena keberhasilan nelayan saat melaut salah satunya tergantung dari faktor keamanan kapal yang bisa dilihat dari kekuatan dan merupakan hasil dari pembuat kapal maupun perbaikan di bengkel.
Tak mengherankan saat ada kesepakatan kapal siap menjalani docking, perbaikan si empunya perahu tak segan segan memberikan uang muka sebagai tanda jadi serta menyerahkan proses perbaikan kepada tim bengkel kapal. Somad dan Adiyana mengaku bos bos nelayan biasanya memiliki perahu lebih dari satu sehingga saat salah satu perahunya diperbaiki maka bisa mengoperasikan perahu lainnya.
“Rata rata nelayan di sini tergabung dalam kelompok nelayan dan perahu dimiliki oleh bos sehingga nelayan ada yang sebagai pekerja, juru mesin dan kami melaut menggunakan sistem bagi hasil dari penjualan ikan di dermaga Boom Kalianda,”ungkap Somad.
Keberadaan bengkel kapal, tempat pembuatan kapal baru, tempat pelelangan ikan menurut Somad merupakan sebuah mata rantai pendukung pekerjaan mereka sebagai nelayan.  Ia mengungkapkan tidak semua nelayan merupakan nelayan yang memiliki modal tetapi hanya nelayan yang bekerja di bos bos pemilik perahu. Namun di tengah situasi tersebut nelayan setempat mulai merasa berbesar hati sebab Stasiun Pengisian Bahan Bakar khusus Nelayan (SPBN) sedang dalam tahap penyelesaian sehingga nelayan tak perlu lagi membeli bahan bakar minyak terlalu jauh dari dermaga Boom Kalianda.
Kapal Nelayan

SELASA, 22 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...