Batas RI-PNG, Transaksi Jual Beli Gunakan Dua Jenis Mata Uang

JAYAPURA — Pertama kali bergelut usaha dagang di perbatasan RI-PNG, Skouw, Kota Jayapura. Reni Rumbiak (25) mengaku kebingungan dengan berjualan cara dua mata uang. Perempuan yang tinggal di argapura resimen, Jayapura Selatan yang juga anggota Kelompok kerja Noken Son Awin mengaku baru pertama kali. 
Dirinya sempat bingung untuk menjual asesoris hasil kerajinan tangannya. “Saya belum tahu harga kurs kina ke rupiah, 1 kina 5.000 rupiah, itu yang buat pembeli dari warga PNG yang membuat saya tolak karena belum mengetahui harga rupiah ke kina, tapi setelah 2 jam disini, saya sudah mengerti,” kata Reni kepada Cendana News saat ditemui di perbatasan RI-PNG, Rabu (16/09/2015).
Kerajinan yang ia jual yakni kalung, anting, sisir bambu, tempat tisu, tusuk konde adalah hasil buatan tangan kelompoknya. “Ada rencana jualan, tapi nanti mau dicoba dipasar,” ujarnya.
Sekitar jam 11.00 wit ia telah membuka lapaknya didepan area netral RI-PNG, harga sebagian besar Rp 100 ribu atau 20 kina.
“20 kina paling tinggi, paling 2 kina yang rupiahnya 10 ribu, tadi lumayan ramai. Sekarang saya baru dapat 300 ribuan,”katanya.
Sementara itu, Ate Feri (50) tinggal di Skouw-Wutung yang juga berjualan pinang, dimana satu tumpuk berjumlah 5 pinang dan 2 siri dihargai Rp 5000 atau 1 kina. Sedangkan air mineral ataupun air soda dihargai Rp 10 ribu atau 2 kina.
“Disini hari pasar Selasa dan Kamis. Namun juga ramai pada hari sabtu dan minggu banyak pengunjung,” kata Feri.
Menurutnya, lokasi yang ia tempati sudah bagus, situasi tidak stabil, hanya saja sering kali ada gangguan orang mabuk, pencurian.  “Jangan sampai kami disini dirugikan,” ujarnya


RABU, 16 September 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...