Titiek Soeharto : Pesan Pak Harto, Semua Petani Harus Bisa Sejahtera

YOGYAKARTA — Bukan tanpa alasan, jika Siti Hediati Hariyadi mengunjungi sejumlah kelompok petani ikan di wilayah kabupaten Sleman, Yogyakarta. Pasalnya, daerah tersebut selama ini telah menjadi pemasok kebutuhan ikan terbesar di DIY.
Seperti yang diungkapkan, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sleman, Suparmono, petani ikan di Sleman selama ini mensuplai sebanyak 60 persen kebutuhan ikan di DIY. Bahkan untuk kebutuhan bibit ikan, petani memasok hampir 80 persen. Karena itu, sebagai sentra penghasil ikan air tawar, Sleman menjadi kawasan  yang sangat penting. 
Di tengah masa resesnya, Wakil Ketua Komisi IV Bidang Perikanan dan Kelautan DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, mengunjungi sejumlah sentra penghasil ikan air tawar di Yogyakarta. Kali ini, Mbak Titiek (demikian sapaan akrabnya), didampingi sejumlah staf meninjau langsung sentra penghasil ikan air tawar di Desa Sombokerten, Demangan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, Senin (10/7), siang.
Pemberian bantuan kepada Suhardi Ketua Mina 21

Seperti diketahui, pemerintah saat ini tengah menggencarkan bidang produksi perikanan dan kelautan sebagai salah satu sumber kekuatan ekonomi bangsa. Sejumlah program bantuan pemerintah pun dikucurkan untuk bidang perikanan tersebut. Karena itu, selaku anggota dewan yang membidangi bidang tersebut, Titiek merasa perlu meninjau langsung sejumlah sentra produksi ikan. 
“Kita ingin memastikan apakah selama ini program bantuan pemerintah untuk para petani ikan sudah tepat sasaran,” ujar Titiek, dalam sambutannya di hadapan puluhan warga desa Sombokerten, Senin (10/08/2015).
Hadir dalam acara silahturahmi dan sambung rasa bersama Titiek, sejumlah perangkat desa setempat dan Kepala Bidang Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Suparmono. Dalam paparannya, Suparmono mengatakan jika selama 10 tahun terakhir ini wilayah Sleman menjadi pemasok terbesar untuk kebutuhan ikan di wilayah DIY. Bahkan jika panen raya, ikan hasil para petani ikan di desa Sombokerten dikirim ke sejumlah wilayah di Jawa Tengah, antara lain di Pekalongan dan Semarang.
Tak salah, jika kemudian Titiek merasa sangat perlu memantau langsung perkembangan para petani ikan di wilayah Sleman. Terlebih lagi, kabupaten Sleman menjadi kawasan percontohan mina padi se-Asia Pasifik. 
“Saya ingat pesan mendiang Bapak, bahwa beliau sampai pada saat terakhirnya hanya ingin semua petani di Indonesia itu sejahtera,” cetus Titiek.
Bantuan Pemerintah
Titiek hadir dalam sambung rasa itu tanpa protokoler yang ketat. Bahkan Titiek tampil begitu sederhana. Seorang panitia yang hendak memayunginya untuk menghindari terik matahari saat Titiek hendak meninjau area kolam, ditolaknya. Titiek bahkan tanpa ragu mengambil pakan ikan dan menebarkannya ke kolam. Sejumlah kursi yang disediakan panitia untuk Titiek, tak ditempati. Ia memilih duduk lesehan di atas tikar, di tengah puluhan anggota Kelompok Mina 21 Sombokerten. Dengan sabar, Titiek mendengarkan keluhan warga petani ikan.
Memberi makan ikan
Sukidi, petani ikan mengharap kepada Titiek agar turut menjaga keberadaan tanah kas desa yang selama ini menjadi lahan kolam ikan agar tak beralih fungsi. Selama ini, kata Sukidi, banyak tanah kas desa telah beralih fungsi menjadi hotel dan bangunan lain. Sementara itu, keberadaan sumber air yang melimpah di desa Sombokerten merupakan lahan milik perorangan. Sukidi dan para petani khawatir, jika lahan yang memilki sumber air tersebut dialih fungsi. Karenanya, warga pun berharap kepada Titiek agar sekiranya tanah milik perorangan itu bisa ditukar guling.
Terhadap semua keluhan warga, Titiek mengatakan jika selama ini pemetaan tanah dan alih fungsi sudah aturannya. Tanpa menyalahkan pihak lain, Titiek menuturkan jika pembangunan hotel sebenarnya juga demi pembangunan ekonomi warga sekitar. Namun demikian, diakuinya memang perlu lebih diperhatikan manfaatnya. 
“Kalau tanah itu sudah memberikan manfaat besar di bidang pertanian dan perikanan, semestinya tidak dialihfungsikan,” tegas Titiek.

Kelompok Petani Ikan Mina 21 Sombokerten, selama ini telah telah terhitung berhasil dalam pengelolaan kolam ikan jenis nila dan bawal. Namun, para petani juga tak luput dari persoalan klise yang meliputi permodalan dan pemasaran. Titiek pun menadaskan jika selama ini ada program bantuan pemerintah pusat sebesar Rp 60 Juta. Jika selama ini para petani ikan belum semua mendapatkan bantuan, kata Titiek, karena bantuan itu memang ada persyaratannya. Apalagi, sambungnya, Sleman sendiri telah mendapat bantuan cukup besar untuk bidang mina padi. Yaitu, Rp 1 Milyar untuk program percontohan mina padi se-Asia Pasifik. 
Tak ingin hanya sekedar bersambung rasa dan memberi sejumlah bantuan langsung kepada para petani ikan di desa Sombokerten, Titiek pun langsung mengintruksikan kepada pemerintah desa setempat untuk memikirkan cara mengamankan lahan milik perorangan yang selama ini menajdi sumber perairan kolam ikan Kelompok Ikan Mina 21 Sombokerten. 
“Saya minta pemerintah desa segera memkirkan cara untuk tukar guling. Karena air itu manfaat sebesar-besarnya untuk kepentingan umum. Itu sesuai undang-undang,” tegas Titiek, disambut tepuk meriah puluhan warga. 
Didampingi Kadinas Perikanan Sleman, Suparmono
SENIN, 10 Agustus 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : Sari Puspita Ayu
Lihat juga...