CENDANANEWS (Cerpen) – Hari itu hari Jumat. Paginya menawan. Sinar mentari bersinar dengan cerah. Cahayanya hantarkan para kaum muslimin menyambut hari yang fitri, Hari kemenangan. Pertarungan melawan hawa nafsu telah menghantarkan kaum muslimin kepada asa dan harapan baru untuk menyambut datangnya Idul Fitri.
Mareka berjalan dengan wajah sumringah. Kebagian menghantar derap langkah mareka menuju mushola untuk lafazkan takbir dan tahmid sebagai bentuk kerendahan hati mareka kepada Sang maha pencipta. Suara takbir dan tahmid bergema. Sakralkan langit. Religiuskan jagad raya.
Belum usai sholat Idul Fitri dilaksanakan kaum muslimin, tiba-tiba api mendekati mushola. Tak pelak para jamaah pun terkesima. Lantas menyelamatkan diri. Sementara suara gema Allahu Akbar terdengar menggema. Sakralkan jiwa-jiwa yang tak menuntaskan Sholat. Religiuskan alam dan jagad raya.
Hanya dalam hitungan menit, mushola pun menjadi puing-puing. Bau asap menusuk hidung. Aparatur keamanan pun langsung turun tangan. Amankan situasi. Lokalisir keadaan untuk amankan situasi yang mulai menggelisahakan hati para penduduk.
Suara speaker kini menjadi salah satu trend topik di areal kebakaran. Speaker dari toa menjadi pembicaraan. bahkan speaker toa menjadi penyebab kebakaran.
” Mana mungkin suara speaker toa membuat mushola ini terbakar. Itu tak masuk akal sehat,” sanggah seorang tokoh masyarakat.
” Berpuluh tahun suara speaker toa ini bergema di mushola ini. Tak ada tanda-tanda yang aneh. Dan tak ada tanda -tanda yang menjadi dalih suara dari speaker toa ini membuat mushola ini terbakar,” sela tokoh yang lain.
” Apa ini tanda-tanda kiamat akan datang?,” Tanya warga yang lain. Semua terdiam sebagiamana telah terdiamnya kobaran api yang menyambar mushola.
Di ibukota negara, para pemimpin saling menggemakan narasi. Sang Presiden meminta semua warga untuk saling hormat menghormati dan memperkuat toleransi sesama warga yang majemuk. Sementara aparat kemanan berjanji untuk mengusut tuntas pelaku perusakaan tempat ibadah sesuai dengan hukum yang berlaku serta akan menindak tegas siapa pun orang ketiga yang berada dibelakang pembakaran yang tergolong sebagai kejahatan kemanusian.
Demikian pula dengan para tokoh-tokoh agama yang berada di negeri majemuknya. Semuanya meminta negara untuk menuntaskan kasus kejahatan kemanusian ini tanpa pandang bulu. Tak terkeculai para tokoh LSM dan penggiat kemanusian pun menarasikan diksi yang senada.
“Tuntaskan kasus yang tergolong kejahatan kemanusian ini,” teriak mareka di depan kamera televisi.
“Dan tak ada tempat bagi mareka pelaku kejahatan kemanusian ini di bumi cinta damai ini,” ungkap mareka dengan nada berapi-api bak para politikus yang sedang kampanye di panggung terbuka.
Warga yang menghuni kampung sudah diwanti-wanti oleh para pemuka agama dan pemuka kampung untuk berhati-hati dan waspasa sehubungan dengan adanya selebaran gelap yang dikirimkan oleh kelompok tertentu yang berada di kehidupan warga Kampung. Dan selebaran gelap itu pun telah disampaikan kepada pihak yang berwajib.
Para penghuni Kampung tak terlalu risau dengan adanya selebaran gelap itu mengingat para aparat dan pimpinan pemerintahan telah siap mengantisipasi terhadap adanya surat selebaran gelap yang telah tersebar hingga menusuk nurani masyarakat.
” Kebebasan menjalani ibadah adalah hak paling hakiki bagi setiap warganegara dan negara bertanggungjawab atas hak itu,” ungkap Pimpinan pemerintahan.
” Dan tak ada seorang pun yang boleh dan bisa menghalangi hak azazi warga negara itu,” ujar Pimpinan aparatur kemanan. Dan warga pun bahagia mendengar jawaban dari para petinggi daerah.
Usai pembakaran itu, kini para petinggi itu hilang entah kemana. Suaranya pun lenyap dibawa angin selatan yang hilang diperadaban nurani yang telah terkikis naluri berbalut kebinatangan dalam rimba yang makin tak bertuan. Suara mareka pun kini berganti menjadi suara speaker toa yang menjadi sumber malapetaka. Ya, suara speaker dari toa yang kini menjadi trending topik pembicaraan.
Toboali, Bangka Selatan malam ketiga bulan syawal
——————————————————-
SENIN, 20 Juli 2015
Penulis : Rusmin Toboali
Editor : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-