![]() |
| Permainan Gasing |
LAMPUNG – Kumpulan anak anak terlihat bermain di bawah pohon ketapang dengan membawa gasing yang dipegang dengan tangan kanan. Gasing gasing tersebut telah dililit dengan tali dan siap diadu dengan gasing milik anak anak lain yang bersiap untuk mengadu gasing.
Permainan gasing kembali menjadi permainan yang disukai oleh anak anak di Desa Tridharmayoga Kecamatan Ketapang Lampung Selatan Provinsi Lampung. Menurut salah satu anak yang bermain gasing Made Sugita (21) permainan tersebut kembali menjadi permainan yang diminati anak anak di desanya karena gasing merupakan permainan yang murah meriah.
Menurutnya selain karena murah, pembuatan gasing pun bisa dilakukan oleh anak anak kecil sehingga tak perlu mengeluarkan uang untuk memiliki alat permainan tradisional jenis gasing tersebut. Berbeda dengan permainan lainnya yang membuat para orangtua harus mengeluarkan uang ekstra untuk anak anaknya membeli permainan.
“Saya diajarkan sejak kecil oleh kakak kakak saya cara membuat gasing kemudian kebetulan adik adik saya sekarang ikut membuat, murah meriah dan tak perlu membeli, bahannya juga ada di sekitar rumah,” ungkap Made Sugita kepada media ini, Minggu (14/6/2015).
Made dan anak anak di sekitar rumahnya mengaku terkadang bersama sama membuat gasing mulai dari memotong kayu yang berasal dari pohon kelengkeng. Kayu pohon kelengkeng biasanya diperoleh dari batang kemudian digergaji dan dirimbas dengan menggunakan golok.
Sebagian besar pembuatan gasing masih menggunakan kayu karena cukup kuat serta mudah diperoleh. Sementara itu dalam permainan tradisional adu gasing, para peserta akan saling mengadu gasing mereka dengan cara menabrakkannya. Maka dalam hal ini bahan yang kuat merupakan syarat yang mutlak.
“Saya ajari anak anak di sini membuat permainan yang tak harus beli tapi bisa dimainkan oleh berbagai kalangan, tak hanya anak anak orang dewasa juga senang bermain gasing,” ungkap Made.
Selain sebagai permainan setelah anak anak tersebut bosan “musim” mainan mobil mobilan dan juga layang layang kini mereka beralih bermain gasing, selain sebagai mainan namun fungsi utama dari permainan tradisional gasing adalah sebagai wahana bersosialisasi. Dengan bersama-sama bermain gasing di waktu senggang anak anak, remaja dan orangtua secara tidak langsung bersosialisasi dan saling mempererat hubungan persaudaraan.
Hal ini terjadi antara lain karena permainan tradisional gasing tidak hanya dimainkan oleh anak-anak semata, namun kalangan orang dewasa pun banyak yang memainkan permainan tradisional ini, terutama para laki-laki dewasa.
“Di sini selama musim gasing bahkan sampai malam anak anak berkumpul di lapangan untuk aduan gasing. Ya anggaplah saling mempererat persahabatan daripada melakukan hal negatif,” ujar Made Sugita.
Salah satu anak yang sedang asik bermain gasing Wayan Subawe (14) mengaku jenis jenis gasing ada berbagai macam bentuknya, namun yang umum di desa Tridhramayoga dan dimainkan oleh anak anak berbentuk lonjong yang diberi paku sebagai poros utama saat berputar. Ia mengungkapkan ada juga yang membentuk gasing yang berbentuk bulat, kerucut, lonjong, oval, pipih, dan lain sebagainya.
Menurut Wayan Subawe, cara kerja gasing sebenarnya sangat sederhana, yaitu hanya dengan melilitkan tali secara teratur pada tangkai atau leher gasing, kemudian melempar gasing itu dengan keras sembari menarik talinya. Maka kemudian gasing akan jatuh ke tanah dan berputar dengan kencang.
“Kalau ada pertandingan atau aduan biasanya dibuatkan lingkaran,pemenangnya yakni pemilik gasing yang berputar lebih lama dan tak keluar dari lingkaran saat berputar,”ungkap Wayan.
Sementara itu salah satu orangtua yang anaknya ikut bermain gasing tetap was was jika anaknya terkena lemparan gasing meskipun belum pernah ada anak yang terluka akibat bermain gasing. Ketut Samlah (40) mengaku senang permainan yang pada masa kecilnya tersebut marak kini masih ada, bahkan masih lestari.
“Sekarang kan bermunculan mainan modern bahkan ada game game dari handphone yang membuat anak anak sukar bersosialisasi, nah gasing ini membuat anak anak berkumpul di lapangan dan gerak secara aktif sekalian olahraga,” ungkap Ketut.
Ia mengungkapkan setiap daerah pasti memiliki permainan gasing dan dilakukan pada musim musim tertentu. Sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang Ketut berharap permainan serta cara pembuatan gasing perlu diturunkan ke generasi berikutnya.
“Apalagi sekarang ini kita sudah semakin jarang melihat permainan tradisional gasing. Untuk itu kita juga berharap agar banyak pemuda yang peduli pada permainan ini,”ujar Ketut.
Keceriaan jelas terpancar dari wajah wajah anak anak tersebut saat gasing gasing tersebut berputar dan mulai berhenti. Rasa bangga muncul saat gasing gasing tersebut mampu berputar lebih lama dan persahabatan diantara anak anak selama bersosialisi tersebut tercipta selama melakukan permainan tradisional tersebut.


——————————————————-
Minggu, 14 Juni 2015
Jurnalis : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-