
CENDANANEWS – Malam makin melarut. Alam raya pun merenta. Bintang masih benderang. Sinarnya terangi jagad raya. Desahan liar anjing hutan masih mendengus mencari mangsa. Susuri hutan kecil yang menggundul. Suara jangkrik menghias malam. Ornamen malam.
Jam di dinding terus berputar. Detakkannya sangat terasa di sunyinya malam. Di ruangan isolasi berukuran 3×4, suara zikir terus bergema. Bergema menembus alam raya.Sakralkan langit. Sakralkan alam yang makin menua. Alam semakin kuyu dan pucat. Sepucat wajah para koruptor yang ketangkap tangan oleh KPK.
Wanita muda itu masih terus membaca ayat-ayat suci. Suaranya amat syahdu. Sakralkan alam raya. Wajahnya tenang. Sangat tenang.Setenang gelombang dilautan yang membantu para nelayan mencari ikan.
Di luar gedung yang sarat pengamanan, puluhan personil berpakaian lengkap telah tiba. Berbaris rapi. Siap menunggu perintah. Sementara para awak media sigap dengan segala peralatannya untuk mendapatkan momentum yang sangat berharga malam itu untuk kepuasan pemirsa.
Derap langkah petugas Rutan ditemani petugas berpakaian lengkap dan rohaniawan terdengar dikeheningan malam. Derap langkah teratur mareka membelah malam. Membelah kesunyian. Suara derap sepatu mareka menembus kamar-kamar di Rutan. Derap suara langkah kaki para petugas itu tak menyurutkan wanita muda itu untuk terus membaca ayat-ayat suci. Suaranya amat merdu dan mensakralkan langit dan alam semesta. Mendamaikan hati. Mententeramkan jiwa-jiwa.
Derap langkah kaki para petugas itu terhenti di kamar wanita muda itu saat jam didinding menunjukan pukul 00.00. Ketukan tangan petugas Rutan di pintu kamar seakan memberikan tanda kepada wanita muda itu. Ketukan petugas di kamarnya belum menghentikan suara wanita muda itu untuk menyelesaikan ayat terakhirnya yang amat mententeramkan hati.
Dan ketika pintu kamar terbuka, petugas Rutan mendapati wanita muda sedang menyiapkan segalanya.” Mohon maaf, Mbak. Waktu telah tiba,” ujar petugas lapas dengan diksi ramah. ” Iya Pak. Izinkan saya mengambil air wudhu dahulu,” ujar wanita muda itu dengan diksi suara yang tenang.
Dalam waktu singkat, wanita muda itu berjalan dengan langkah sangat heroik ditengah pengawalan ketat para petugas. Malam makin kuyu. Rembulan tersenyum getir. Bintang-bintang tak terlihat kerlipnya seakan merasakan derita wanita muda itu.
Dan ketika hendak menuju mobil, wanita muda itu meminta sesuatu kepada para petugas.” Apakah saya boleh minum obat,” pintanya dengan nada santun.” Oh, silahkan Mbak. Asalkan ada rekomendasi dari Pak Dokter,” jawab petugas masih dengan diksi ramah. Dengan sigap petugas medis menyiapkan sebutir obat. Dan langsung diberikan kepada wanita muda itu yang langsung menelannya tanpa bantuan air. Mengalir menembus jantung. Dan mengaliri dalam darah tubuhnya yang sangat cantik.
Wanita muda itu seakan ingat derita yang akan dihadapinya malam ini. Obat yang diasumsikan dirinya sebagai obat kesehatan sebagaimana yang diungkapkan temannya telah membuatnya harus menerima kenyataan pahit ini. Dirinya dituduhkan sebagai pengedar obat-obatan terlarang yang oleh negara dianggap sebagai musuh paling berbahaya, selain korupsi.
Wanita muda itu ingat bagaimana dia dengan sekuat tenaga melawan petugas yang menciduknya saat turun dari pesawat karena dianggap sebagai gembong narkoba. Apologinya tak digubris. Pembelaan para pengacaranya pun tak membuahkan hasil. julukan sebagai gembong narkoba kelas wahid kini telah dialamatkan kepada dirinya oleh media.
Wajah dan suaranya kini amat akrab ditelinga rakyat. Hampir dalam sepekan ini wajahnya selalu menghias ruang-ruang istirahat para keluarga dimana pun berada. Apakah di Desa atau di Kota.
Keluarganya yang tinggal jauh dipelosok Desa pun menjadi incaran media untuk diberitakan terkait akan dieksekusi mati dirinya.
Rumah tua yang hampir roboh itu kini menjadi tempat para pewarta mewartakan liputan secara langsung. Tak pelak rumah peninggalan Ayahnya yang hanya buruh tani itu kini seakan menjadi barang berharga bagi para pemburu warta.
Ibunya yang telah renta pun tak luput dari incaran para pekerja media untuk sekedar wawancara sebagai penambah sisi lain kehidupannya. Tak terkecuali para tetangganya pun kini seakan menjadi selebritis karena wawancara mareka sering muncul di media televisi.
Dan yang amat menggagetkan para pendengar dan pembaca media tak satu pun diksi dari tetangganya yang mengatakan bahwa dirinya gembong narkoba. Tak ada satu kalimat pun. Semuanya membela dirinya.
” Dia orang baik,” ujar tetangganya.
” Dia dijerumuskan kawannya,” sela tetangganya yang lain dengan nada emosi.
” Lho kalau dia gembong tentunya rumahnya tak layak kayak ini,” ujar yang lain.
” Pasti kehidupan keluarganya berkecukupan,” kata tetangganya yang lain.
Mobil yang membawa wanita muda itu ke tempat eksekusi segera berangkat dari lapas. Hantarkan wanita muda itu ke tempat eksekusi. Sirene mobil membelah malam. Susuri jalanan yang tak mulus. Menembus kegelapan malam yang makin pekat. Kejutkan kerlip bintang malam yang sedang menggoda rembulan. Ada rasa sesal dari malam yang akan menyaksikan adegan maut dinihari itu. Ada rasa sesal dari rembulan yang akan menjadi saksi peristiwa maut itu.
Dan ketika hendak diturunkan di lokasi eksekusi, para petugas terkejut ketika mendapati wanita muda itu terdiam. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Dengan sigap petugas medis memeriksa nadi wanita muda itu. Hanya satu kalimat yang keluar dari mulut paramedis itu kepada Pimpinannya bahwa wanita muda itu telah tiada. Nafasnya terhenti. Kehidupannya terengut. Narasi sakral Innalillahi Wa innalillahi Rojiun pun menggema.Sakralkan langit dan alam raya. Regu tembak pun batal mengeksekusi seorang manusia. Seuntai kebahagian pun terselip dari relung nurani para penembak maut malam itu. Pengeksekusi atas nama hukum.
Rembulan tersenyum. Ada seuntai kebahagian yang terselip disinarnya. kerlap kerlip bintang hiasi panorami malam dengan mesranya. Tak ada lagi rasa sesal. Dengusan anjing hutan pun kembali terdengar. Mengincar mangsanya dijalanan kecil di hutan yang makin menggundul ulah tangan-tangan kuasa yang jahil dengan mengatasnamakan untuk kesejahteraan rakyat.
——————————————————-
Minggu, 3 Mei 2015
Penulis : Rusmin Toboali
Editor : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-