![]() |
| program penghijauan dengan melakukan penanaman sekitar 2.000 batang pohon Nangka Hibrida |
CENDANANEWS (Lampung) – Pemberdayaan masyarakat pedesaan biasanya berangkat dari program instansi terkait, namun bagi masyarakat di Desa Kaliwungu Kecamatan Kalirejo Lampung Tengah Provinsi Lampung, pemberdayaan masyarakat berangkat dari keinginan warga untuk memanfaatkan potensi yang ada di desanya. Inisiatif geliat keaktifan warga terlihat dengan adanya kegiatan aktif warga yang memanfaatkan potensi di desanya untuk meningkatkan taraf hidup.
Salah satu kelompok tani di Desa Kaliwungu diantaranya adalah Forum Komunikasi Petani Organik (Forkomtanik) LENTERA yang diketuai oleh Teguh Singgih Widodo. Kelompok tani tersebut terbentuk dengan banyaknya warga yang menjadi petani sekaligus menjadi peternak.
“Rata rata warga di sini adalah petani, peternak sehingga untuk mengintegrasikan pertanian dan peternakan supaya memberi nilai ekonomi lebih kami membentuk forum komunikasi ini,” ujar Teguh Singgih Widodo kepada media ini, Minggu (10/5/2015).

Beberapa petani diantaranya memiliki peternakan sapi, kambing, yang diintegrasikan dengan pertanian jagung, padi. Setelah mengikuti berbagai pelatihan, Teguh mengaku ia dan kelompoknya mulai bisa mengolah produk pupuk organik, memanfaatkan hasil dari pertanian untuk pakan ternak dan limbah ternak tersebt digunakan untuk pupuk organik.
“Kami sedang mengupayakan transisi dari penggunaan pupuk kimia ke program pupuk organik yang bisa kami produksi dari bahan bahan di sekitar kami,” ungkap Teguh.
Bahkan belum lama ini, ia mengaku masyarakat di sekitar Desa Kaliwungu yang ada dalam keanggotaan Forkomtanik membuat biogas dari limbah peternakan yang dipergunakan untuk memasak serta untuk penerangan. Ia berharap masyarakat bisa pelan pelan melakukan bio trans atau berpindah dari sistem kimiawi ke penggunaan bahan bahan organik.
Pemberdayaan masyarakat petani tidak hanya dalam hal pengolahan limbah pertanian, peternakan. Bahkan kelompok ini menurut Teguh sekitar seminggu lalu melakukan program penghijauan dengan melakukan penanaman sekitar 2.000 batang pohon Nangka Hibrida serta puluhan Durian Montong. Pembagian bibit melalui kelompok yang anggotanya mencapai puluhan tersebut akhirnya ditanam di lahan warga unruk penghijauan.
“Awalnya sempat berfikir daun daun dari pohon nangka tersebut bisa untuk pakan ternak, tapi atas kesepakatan dan komitmen pada fungsi maka tanaman nangka tidak boleh untuk pakan ternak,”ujar Teguh yang juga menekuni usaha budidaya perikanan air tawar dengan memelihara ikan lele tersebut.
Tak hanya pertanian, peternakan, Teguh mengungkapkan pemberdayaan masyarakat di desanya tak hanya didominasi kaum laki laki. Bahkan Teguh mengungkapkan kelompok wanita juga ikut aktif dalanm kegiatan pemberdayaan.
Kaum wanita ungkap Teguh memiliki Kelompok Pengolah dan Pemasar (Pokhlasar) yang bernama Mina Manfaat. Kelompok tersebut bahkan merupakan peluang untuk memanfaatkan potensi perikanan air tawar dan peternakan yang ada di Desa Kaliwungu.
Menurut Bendahara Poklahsar Mina Manfaaat,Emi Ernawati kepada Cendananews.com, usaha tersebut merupakan program pemberdayaan yang menggandeng kaum Ibu Rumah Tangga dalam upaya mengolah hasil perikanan menjadi produk yang bernilai ekonomi.
Produk tersebut merupakan salah satu kebutuhan masyarakat yang ingin makan hasil olahan ikan yang sudah berupa makanan jadi berbahan dasar ikan.
“Kami mendapat pelatihan dari dinas bersama kelompok kami yang anggotanya sekitar 20 orang dan membuat produk hasil olahan ikan yang hasilnya kami tabung untuk kemajuan kelompok kami,” ungkap Emi Ernawati.
Untuk memudahkan usaha berbasis hasil perikanan untuk pemberdayaan para IRT dan kaum wanita tersebut kini Poklahsar Mina Manfaat yang diketuai oleh Sukaesih dan berdiri sejak tahun 2013 kini sudah memiliki kios untuk memasarkan produknya.
Menurut Emi, bangunan untuk pemasaran produk hasil olahan kaum ibu berupa Kios berukuran 3×3 meter tersebut terletak di Jalan Jenderal Sudirman Kaliwungu Kalirejo. Menurut emi memasarkan produk hasil olahan ikan diantaranya kerupuk ikan lele (kerpil),bakso lele,brownis lele,cendol lele serta produk makanan olahan berbahan dasar ikan lele. Selain itu juga ada produk olahan bernama Kotahe (Mahkota Dewa Jahe) yang bermanfaat untuk kesehatan.
Sementara untuk meningkatkan keterampilan kelompok dalam mengelola produk olahan hasil perikanan dan peternakan kelompok ini menurut Emi, anggotanya juga rajin mengikuti pelatihan pengolahan hasil perikanan dan perikanan seperti yang mereka ikuti sehari sebelumnya selama dua hari pelatihan.
Hasil dari penjualan produk makanan olahan ikan tersebut selanjutnya dikelola dalam satu kelompok untuk modal usaha. Selain itu hasil dari usaha tersebut bisa dipergunakan untuk pengembangan usaha yang akan berguna untuk keperluan anggota kelompok.
Sejalan dengan Teguh dan Emi, warga lain Nasrudin (45) mengaku pemberdayaan bagi warga di desa benar benar memberi manfaat bagi warga. Sebab selama ini sebelum mendapat pelatihan terkait tekhnik budidaya perikanan, peternakan hingga pengolahan limbah peternakan, pertanian, warga hanya melakukan tata cara budidaya secara konvensional.
“Kini kami memiliki kelompok tani bagi para bapak bapak, juga kaum ibu memiliki kelompok pengolahan sehingga saling bersinergi, hasilnya tentu bagi kemajuan di desa kami,” ungkap Nasrudin.

Nasrudin mengaku berbagai uaya pemberdayaan tersebut diharapkan murni untuk pemberdayaan warga agar bisa meningkatkan taraf kehidupan ekonomi masyarakat yang berbasis pada pertanian, peternakan sehingga tidak banyak warga yang melakukan urbanisasi melainkan membangun desa.
————————————————-
Minggu, 10 Mei 2015
Jurnalis : Henk Widi
Foto : Dokumentasi pribadi Teguh Singgih Widodo (Forkomtanik)
Editor : ME. Bijo Dirajo
————————————————-