![]() |
| Tampak depan Yayasan Humania di Polimak II Asri, Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua |
CENDANANEWS (Jayapura) – Liputan khusus yang dilakukan cendananews mendapatkan respon dari Dinas Sosial Kota Jayapura. Pihaknya mengklaim secara rutin memberikan bantuan kepada seluruh Panti dan Yayasan yang ada di ibukota Provinsi Papua. Baca [Kami Tunanetra, tapi Kami Hidup bukan dari hasil Mengemis Bagian II ]
“Tiap tahun kami menyiapkan bantuan-bantuan, tapi bukan untuk yayasan itu saja, tapi semua panti asuhan yang ada di Kota Jayapura. Bantuan makanan itu ada sembilan bahan pokok, hanya saja tidak semua memenuhi kriteria penerima bantuan,” kata Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Irawadi, kepada CND, Kamis (30/04/2015).
Tahun lalu (2014) sebenarnya barang yang kami berikan itu berupa peralatan-peralatan seperti kasur, bahan-bahan makanan, kemudian yang kedua itu kami berikan satu alat orgen kepada mereka. Penerimanya saat itu, tunanetra itu sendiri.
“Untuk diketahui bahwa saat ini Dinas Sosial ataupun SKPD lain dilarang berikan bantuan berupa dana tunai, karena itu sesuai dengan peraturan keuangan yang ada. Oleh karena itu wujud pemberian bantuan itu berupa barang,” ujarnya.
Untuk tahun ini, dikatakan Irawadi, pihaknya telah memprogramkan pemberian bantuan yang wujudnya berupa bahan pokok makanan atau berupa barang ke seluruh panti asuhan dan yayasan yang ada di wilayah Kota Jayapura.
“Syarat utama yang pertama mereka penyandang cacat, kedua pihak yayasan wajib melaporkan secara rutin kondisi yayasan tersebut ke pemerintah. Mereka juga harus rutin menyampaikan ke pemerintah jikalau ada penghuni yang sakit, kewajiban-kewajiban itu yang harus dijaga,” katanya.
Yayasan di Kota Jayapura, dikatakan Irawadi, pada umumnya jarang sekali melapor kondisi terkini yayasan tersebut. “Kalau yang yayasan Humania ini saya belum tahu persis mereka dapat laporan dari pusat atau tidak, karena beluma ada laporannya. Ada beberapa panti-panti asuhan seperti Hidayatullah dan lainnya melaporkan secara rutin. Sebenarnya laporan perbulan, tapi bagi kami disini berikan waktu triwulan, hanya untuk lihat aktifitas mereka. Tidak seenaknya itu gunakan bantuan dari pemerintah,” katanya.
Disinggung soal modal bahan dasar pembuatan keset kaki sabuk kelapa? Bantuan dari Dinsos Kota Jayapura tidak menutup kemungkinan dari satu atau dua jenis bantuan saja. Melainkan, menurutnya, tergantung dari kebutuhan dari Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).
“Salah satunya itu tunanetra, Kami sudah menyiapkan penerima bantuan. Tiap tahun kami menganggarkan bantuan itu, Cuma mungkin ada yang kurang, tidak terpenuhi, tidak semua yayasan atau panti asuhan dapat dipenuhi,” ujarnya.
Ia mengaku, di Kota Jayapura sedikitnya ada 15 Panti asuhan dengan total huni kurang lebih 500 orang. Sedangkan tuk Yayasan yang ada, diungkapkan Irawadi, kurang lebih sebanyak 50 yayasan.
“Selama saya disini yang mendaftar ya sekitar itu saja, tapi kan provinsi papua juga mengeluarkan surat keterangan bagi yayasan yang mempunyai wilayah di di luar Kota Jayapura. Tapi kalau dia (yayasan) beroperasi di Kota Jayapura, wajib laporan kegiatannya ke kami juga. Supaya kami juga memantau apakah masih aktif atau tidak,” tuturnya.
![]() |
| Yuliana Sapioer |
Seperti yang ditelusuri CND beberapa waktu lalu, pihak Yayasan Humania mengklaim belum mendapatkan bantuan dari pihak pemerintah daerah setempat. Yuliana Sapioer (56) salah satu penghuni Yayasan Humania mengatakan dirinya pernah minta bantuan ke Dinas Sosial Kota Jayapura, namun tak kunjung disetujui.
“Kami minta jangan terlalu besar, berikan bantuan Rp 1 atau Rp Rp 2 juta saja, supaya kami hasilkan sesuatu dari keterampilan kami. Itu kami minta bantuan tahun 2014 lalu dan sampai sekarang belum ada jawaban,” kata ibu yang mempunyai tiga orang anak dan dua orang cucu.
Sementara, Yos Rumsaro, salah satu pengurus Yayasan Humanis menuturkan dari 65 jiwa penghuni Yayasan Humania ini terdiri dari 13 Kepala Keluarga yang terdiri dari 18 laki-laki, 14 perempuan dan anak-anak sekitar 33 orang, kalau di total semuanya ada 65 jiwa.
“Disini sifatnya menampung para tuna netra dan memberikan ruang kepada mereka untuk berkreatif demi meneruskan hidup mereka,” kata Yos.
Di yayasan ini, lanjut Yos, ada satu penyumbang atau donator yang setiap bulannya berikan bantuannya kepada seluruh penghuni yayasan. “Bukan berupa uang, tapi berupa sembako ke setiap kepala keluarga. Donatur itu seorang pengusaha Papua, namanya Melky Suebu, beliau lakukan itu secara rutin tiap bulan, seperti beras setiap kepala keluarga 15 kilogram, kadang setiap tahun saat jelang hari raya Natal, penghuni yayasan juga diberikan sejumlah uang walaupun sedikit,” ujarnya.
Saat di singgung sumbangan rutin dari Pemerintah Daerah (Pemda), Yos dengan mata sedikit berkaca-kaca mengungkapkan sampai saat ini tidak ada secara rutin yang diberikan Pemda ke penghuni maupun yayasan.
“Para tuna netra akan mendapatkan bantuan, jikalau Yayasan mereka di kunjungi instansi-instansi yang ada di Kota Jayapura. Itupun, sangat jarang sekali, kadang setahun hanya sekali, malah kadang tidak ada sama sekali,” keluhnya.
Tamat
——————————————————-
Kamis, 30 April 2015
Jurnalis : Indrayadi T Hatta
Fotografi : Indrayadi T Hatta
Editor : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
%2Bsaat%2Bmenyapu%2Buntuk%2Bmenerima%2Btim%2BCND%2Bberkunjung%2B-%2BIndrayadi%2BTH.jpg)