What is History (Apa itu Sejarah)

CENDANANEWS – Edward Hallett Carr adalah salah seorang sejarawan terkemuka yang memberikan kontribusi besar bagi revolusi penulisan sejarah. Dilahirkan pada tahun 1892 E.H Carr menempuh pendidikan di Trinity Colledge, Cambridge Inggris. Dalam buku ini beliau seperti memberikan sebuah metodologi bagi sejarawan sekaligus pisau bedah dalam melakukan pembedahan sejarah. Buku yang terdiri dari 256 halaman ini menjadi referensi penting dalam perdebatan topik-topik sejarah seperti apakah sejarah masuk dalam kategori sains, unsur apa saja yang terdapat dalam sejarah, apakah sejarawan dapat memberikan penilaian nilai/moral terhadap sejarah yang ditulisnya serta kritik pada teori-teori sejarah.
Pada bagian I buku ini Carr membahas tentang Sejarah dan Faktanya. Sejarah terdiri dari fakta yang telah dipastikan melalui dokumentasi ataupun catatan, namun apakah semua fakta yang terdokumentasi dalam sejarah bisa dimasukkan sebagai kategori fakta sejarah lalu bagaimana sejarawan memperlakukan fakta sejarah tersebut. 
Carr mengkritik Lord Acton yang memperlakukan fakta sejarah hanya sebagai fakta seperti sebuah dokumentasi belaka. Padahal fakta sejarah harus diolah dan ditafsirkan, dalam menafsirkan sejarah diperlukan suatu interpretasi yang dinamis sehingga diperlukan kebijaksanaan sejarawan sendiri. Sehingga fakta sejarah dapat dimunculkan oleh sejarawan sebagai fakta sejarah untuk selanjutnya mendapat dukungan dari sejarawan lain apakah sejarah tersebut valid dan signifikan. Kemampuan sejarawan diperlukan dalam hal menemukan sekaligus memilah fakta apa saja yang bisa dikategorikan sebagai fakta sejarah. Beliau mengatakan fakta dan dokumen tidak membentuk sejarah sendiri, keduanya memberikan jawaban yang belum siap pakai.
Mengutip pendapat Benedetto Croce “Semua sejarah pada dasarnya tidak melihat dari proses masalalu melalui mata masakini dan mengingat masalh-masalahnya namun juga mengevaluasinya berdasarkan kekinian”. Senada dengan pendapat R.G Collingwood sejarah merupakan upaya rekonstruksi pemikiran masalalu dalam pandangan pemikiran kekinian, jadi menulis sejarah merupakan satu-satunya cara menciptakan sejarah. Jadi fakta sejarah tidak pernah datang secara murni namun dibiaskan melalui pikiran pencatat sejarah barulah dikatakan orang tersebut sebagai sejarawan. Sehingga sejarah sangat bergantung pada latar belakang si penulis sejarah sendiri sehingga memiliki opini yang bisa saja berbeda bagi tiap sejarawan. Mengutip kata Nietzche “Kesalahan suatu opini bukan karena adanya keberatan terhadap opininya, namun apakah opini tersebut dapat meningkatkan kehidupan, menyelamatkan kehidupan bahkan menciptakan kehidupan spesies” karena sejarah adalah kemajuan.
Pada bagian II buku ini Carr membahas tentang Individu dan Masyarakat. Beliau mengkritik filosopis individualistik yang memisahkan individu dari masyarakat sosial. Setelah lahir manusia langsung diubah oleh dunia tempatnya berada dari sebagai unit biologis menjadi unit sosial seperti bahasa, karakter pemikiran serta gagasan-gagasan yang didapat dari lingkungannya. Fenomena kultus individu dalam penulisan sejarah mendapat kritik dari Carr sebagai mitos sejarah modern yang paling mudah menyebar. Padahal tokoh/individu yang dikultuskan dalam penulisan sejarah merupakan produk dari masyarakat, tokoh yang dikultuskan dalam sejarah bertindak sebagai hasil dari impuls pemikiran masyarakatnya.
Sesungguhnya sejarawan merupakan bagian dari sejarah, titik dalam prosesi tempat ia menemukan dirinya sendiri akan menentukan sudut pandangnya terhadap masalalu. Sejarah besar ditulis tepat ketika pandangan sejarawan terhadap masalalu diterangi oleh pandangan masakini. Sejarawan akan mengalami perubahan radikal dalam pandangannya, hal ini merupakan implementasi dari kedekatan sejarawan dengan keadaan kekinian masyarakatnya. Sejarawan yang paling menyadari situasinya adalah yang paling mampu melampauinya dan mengapresiasi sifat alami perbedaan didalam masyarakatnya baik pada priode saat ini maupun masalalu dan juga dari negara lainnya.
Mendalilkan individu jenius sebagai kekuatan kreatif dalam sejarah adalah tahapan primitif dalam kesadaran sejarah. Lebih mudah bagi kita menyebut komunisme merupakan buah pemikiran Karl Marx daripada membahas asal usul dan karakternya. Mitos yang berkembang ini analog dengan kebodohan Nicholas II sebagai penyebab Revolusi Bolshevik atau menyalahkan Wilhelm II dan Hitler sebagai penyebab perang dunia daripada membahas masalah rusaknya Hubungan Internasional pada saat itu.
Individu secara harfiah adalah anggota dari suatu masyarakat, kelas, kelompok atau bahkan lebih dari itu. Kenyataan inilah yang dikritik Carr ketika psikolog gagal mempelajari kondisi lingkungan sosial dari individu yang diperiksanya. Lenin berkata “Politik dimulai ketika terdapat massa, bukan dalam jumlah ribuan melainkan jutaan dan saat itulah politik yang serius dimulai”. Pada dasarnya kekuatan impersonal mahabesar ini dilakukan secara tidak sadar dengan bersama-sama membentuk kekuatan sosial. Dalam bahasa Sigmund Freud motivasi tindakan individu dipengaruhi oleh alam bawah sadarnya. Mengutip pendapat Marx: “Dalam sarana produksi sosial, manusia memasuki hubungan yang definitif dan diperlukan terlepas dari kehendaknya”. Selanjutnya Tolstoy mengatakan “ manusia secara sadar hidup untuk dirinya sendiri tetapi itu merupakan instrumen tidak sadar dalam pencapaian tujuan kemanusiaan yang bersejarah dan universal”. Jadi sudah merupakan sifat alamiah sejarah ketika sejarah berbelok arah ke tempat dimana tak seorangpun mengharapkannya. Inilah yang menjadi fenomena sejarah dimana fakta sejarah bukan merupakan tindakan oleh individu-individu yang dilakukan secara terisolasi, bukan pula berisi motivasi nyata maupun imajiner yang berakibat individu menganggap dirinya telah bertindak. Sehingga proses sejarah merupakan interaksi bolak-balik antara sejarah dan fakta-faktanya bukan dengan individu-individu yang abstrak dan terisolasi melainkan antara masyarakat masa kini dengan masyarakat masa lalu.
Selanjutnya pada bagian III buku ini Carr membahas tentang apakah sejarah masuk sebagai kategori sains, dan bagaimana penilaian moral terhadap sejarah. Sejarah memiliki karakter yang berbeda dengan sains/ilmu pengetahuan, hal ini didasarkan pada: 1. Sejarah secara eksklusif berurusan dengan hal-hal unik, sementara sains dengan hal-hal umum. Dalam sejarah kita tidak dapat menggenaralisir secara kronik, sebab observasi pada sejarah dengan menggunakan konteks yang dikenal dengan baik Cuma berlaku pada masanya sendiri. 2. Tidak ada hal yang bisa dijadikan acuan pelajaran apapun dalam sejarah. Fungsi dari sejarah adalah meningkatkan pemahaman yang mendalam baik terhadap masalalu maupun masa depan melalui hubungan timbal balik. 3. Sejarah tidak dapat memprediksi masa depan tidak seperti sains. Karena tidak ada validitas bersyarat yang berfungsi sebagai pemandu tindakan dan pemahaman bagaimana suatu hal terjadi. 4. Subjek dan objek sejarah berada dalam kategori yang sama. Manusia mengobservasi sejarah manusia sendiri dari jenis spesies yang sama, hal ini berbeda dengan sains. Sejarah jarang terulang karena manusia sudah sadar terhadap masa lalu sehingga dapat mencegah terjadinya sejarah yang sama. 5. Adanya faktor agama dan moralitas, dimana keadaan ini membuat penilaian dari priode ke priode bersifat relatif tergantung dari penilaian kekinian.
Penilaian moral terhadap fakta sejarah bukanlah konsen utama sejarawan ketika sisi lain objek sejarah lebih menonjol. Selain itu memberi penilaian moral bukan kepada individu, tetapi kepada peristiwa, lembaga, atau kebijakan masa lalu. Sejarawan yang memberikan penilaian moral pada individu akan menciptakan alibi bagi masyarakat atau kelompok secara tidak sah. Sebagi contoh, orang Jerman menyambut baik pengutukan kekejaman Hitler sebagai penebus untuk menghakimi masyarakat Jerman pada masa itu. Begitu juga halnya penghakiman terhadap Stalin, Neville Chamberlain, McCharty bahkan Soeharto kalau di Indonesia akan menciptakan alibi penebusan bagi kelompok yang terlibat didalamnya, karena sesungguhnya sejarah merupakan hasil tindakan kelompok sosial dan bukan individu.
Sejarah merupakan proses perjuangan dimana hasilnya dapat dinilai dan dicapai oleh beberapa kelompok (secara langsung ataupun tidak) dengan mengorbankan/merugikan orang lain. Inilah inti sejarah dimana ada kelompok korban yang terjadi pada setiap priodeisasi sejarah. Dalam sehari-haripun dapat terjadi kita melakukan keburukan demi kebaikan lain, istilah ini sering disebut sebagai “biaya revolusi” atau “harga bagi kemajuan”. Menarik mengutip kata-kata Frederich engels: “Sejarah adalah tentang dewi yang paling kejam, ia mengarahkan kenderaan kejayaannya di atas tumpukan mayat, tidak hanya dalam perang tapi juga dalam perkembangan ekonomi. Kita pria dan wanita sayangnya begitu bodoh sehingga kita tidak pernah mengumpulkan keberanian bagi kemajuan sejati, kecuali terdorong oleh penderitaan yang sepertinya hampir tidak proporsional”.
Pada bagian IV buku ini membahas tentang kausa atau penyebab terjadinya sejarah. Sejarawan sejati yang dihadapkan pada daftar penyebab yang dibuatnya sendiri akan merasakan dorongan profesional untuk menatanya, membuat hirarki hubungan antara satu penyebab dengan penyebab lain lalu memberi prioritas diantara daftar penyebab sejarah tersebut.
Ada dua hal yang menjadi penganggu penyebab terjadinya sejarah yakni determinisme dan faktor kebetulan. Karena determinisme atau pengaruh tertentu tidak akan menjadi masalah bagi sejarah dan perilaku, sebab determinisme dan kehendak bebas tidak muncul dalam kehidupan nyata. Signifikansi dalam penentuan fakta sejarah memiliki standar dimana apakah fakta tersebut mampu dijelaskan dan diinterpretasi dengan baik. Begitu juga dengan faktor kebetulan dalam sejarah tidak dapat digeneralisasi karena unik sehingga tidak bisa dijadikan pelajaran serta tidak mengarah kepada kesimpulan. Sejarah dimulai dengan mewarisikan tradisi, dan tradisi berarti meneruskan kebiasaan dan pelajaran dari masalalu ke masa depan.
Bagian terakhir buku Apa itu Sejarah, E.H Carr merangkum tesisnya dengan pembahasan pendapat-pendapat filosopis  seperti Marx, Freud, Hegel, Adam Smith sebagai memperkaya pemahaman sejarawan dalam menuliskan sejarah.
Selasa, 11 Maret 2015
Resensi : Gani Khair 
Lihat juga...