Titiek Soeharto : “Pancasila itu Dasar Negara Bukan Pilar”


Sesaat setelah memasuki aula Ibu Titiek Soeharto didampingi rektor Universitas Mercu Buana dan peserta seminar menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya

CENDANANEWS (Yogyakarta) – Reses atau Masa Reses adalah masa dimana DPR melakukan kegiatan di luar masa sidang. Misalnya untuk melakukan kunjungan kerja, baik yang dilakukan anggota secara perseorangan maupun secara berkelompok.

Tidak banyak anggota Dewan yang menyampaikan secara detail kepada publik tentang kegiatannya di masa reses, hal ini tidak berlaku untuk salah satu putri Presiden RI ke-2 ini, Titiek Soeharto termasuk anggota dewan yang sangat tahu bagaimana mengimplementasikan janji-janji kampanyenya kepada rakyat yang memilihnya.

Komitmen Titiek Soeharto ketika terpilih sebagai wakil rakyat adalah melanjutkan program-program yang telah dirintis dan sukses dijalankan oleh ayahanda tercinta, HM. Soeharto, salah satunya yaitu mewujudkan kedaulatan pangan karena menurut Titiek Soeharto kedaulatan pangan merupakan kebutuhan strategis suatu bangsa. 

Menyadari bahwa Indonesia terus berkembang mengikuti era globalisasi yang memiliki potensi menggerus jati diri para generasi muda Bangsa, Titiek Soeharto konsisten mem-Pancasila-kan kembali seluruh rakyat Indonesia karena sebagaimana yang diamanatkan oleh HM.Soeharto ““Tidak ada bangsa yang dapat mencapai kebesaran, kecuali bangsa itu percaya kepada sesuatu, dan sesuatu yang dipercayainya itu memiliki dimensi-dimensi moral guna menopang peradaban yang besar” 


Wasiat Presiden Soeharto diatas bukanlah sekedar himbauan normatif, akan tetapi merupakan cerminan pandangan kesejarahan bahwa sebagaimana syarat tegaknya peradaban bangsa-bangsa lain,  tegaknya kembali peradaban Nusantara memerlukan keteguhan masyarakatnya memegang teguh spirit dan nilai-nilai bangsanya sendiri. Spirit dan nilai-nilai itu dalam format Indonesia Merdeka terelaborasi kedalam Pancasila.

Keteguhan dan konsistensi Titiek Soeharto diwujudkan dalam beberapa kegiatan yang dijalankan di masa reses, salah satunya adalah sebagaimana yang disampaikan melalui akun media sosialnya bahwa hari Rabu, 11 Maret 2015 Titiek menghadiri Seminar Sosialisasi Empat Pilar yang diadakan di Auditorium Agronomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Sadar betul akan munculnya kontroversi dari beberapa pihak tentang kehadirannya di acara tersebut, terlebih dahulu Titiek menyampaikan melalui akun yang sama pada hari dan tanggal yang sama pula bahwa kehadirannya dalam seminar yang membahas tentang Empat Pilar bukanlah sama dengan Ia meng-amin-i Pancasila sebagai pilar.

“Pancasila itu Dasar Negara, bukan pilar. Kesalahkaprahan soal ini perlu waktu meluruskannya. Perlu waktu untuk pembenahan alam berfikir kebangsaan kita. Segenap Pancasilais perlu upaya lebih kuat meluruskan pemahaman dan kesadaran kebangsaan kita” demikian tulis Titiek Soeharto.

Seminar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang dibuka oleh Rektor Universitas Mercu Buana Yogyakarta DR. Alimatus Sarah,M.Si.,MM ini sengaja mengundang beberapa siswa tingkat Sekolah Menengah Atas yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Nuryadi,S.Pd,M.Pd, berbaju merah.

Sesi pertama Seminar Empat Pilar Kebangsaan yang diselenggarakan di Universitas Mercu Buana dibuka oleh narasumber Nuryadi,S.Pd,M.Pd. Nuryadi yang diberi kesempatan menjadi pembicara pertama membahas pentingnya nilai nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bahkan Nuryadi menegaskan bahwa komitmen para founding father bangsa ini untuk menjadikan Pancasila sebagai pemersatu bangsa sudah sangat matang dipikirkan.  Untuk itu sebagai generasi penerus semua warga Indonesia harus bisa menghidupkan kembali semangat dan bara api Indonesia yang ada di masa lalu.

“Jangankan kita, negara lain pun ingin mengadopsi nilai nilai yang dimiliki bangsa Indonesia dalam Pancasila, ” tegas Nuryadi di Aula Agronomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Rabu (11/3/2015).

Nuryadi lebih lanjut mengungkapkan, dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bertanah air, segenap elemen bangsa Indonesia tidak boleh melupakan hal hal mendasar antara lain: Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 sebagai konstitusi negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bntuk negara, Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan Bangsa Indonesia.

Ketika dikonfirmasi tentang amar Keputusan MK yang menolak Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara pada 3 April 2014 salah satu staf khusus Titiek Soeharto menyampaikan “Empat Pilar memang dibatalkan MK, tapi nama program MPR Sosialisasi 4 Pilar disetujui MK, tapi ini juga mengundang penolakan dari para idiolog Pancasila” 
Mengenai Program MPR yang dimaksud, hal tersebut juga disampaikan oleh Rektor Universitas Mercu Buana dalam rangkaian kata sambutan yang disampaikannya “sosialisasi empat pilar diselenggarakan sesuai dengan Undang Undang Nomor 17 tahun 2014 mengenai MPR, DPR, DPD, DPRD dimana tugas anggota MPR 2014-2019 diantaranya: Memasyarakatkan ketetapan MPR, Memasyarakatkan Pancasila, UUD RI 1945, NKRI, Bhineka Tunggal Ika. Mengkaji Sistem Ketatanegaraan, UUD RI, serta pelaksanannya.Menyerap aspirasi masyarakat berkaitan dengan pelaksanaan Undang Undang Negara Republik Indonesia tahun 1945”.
Menutup kegiatan pertama di Yogyakarta selama masa reses, Titiek Soeharto menegaskan bahwa “Pancasila adalah dasar negara, bukan pondasi. Titiek Soeharto juga mengajak segenap Pancasilais untuk melakukan upaya lebik kuat meluruskannya. 
Foto siswa siswi dari beberapa sekolah yang menghadiri Seminar Sosialisasi Empat Pilar

————————————————-
Rabu, 11 Maret 2015
Jurnalis : Bang Nasir/Henk Widi
Editor : Sari Puspita Ayu
————————————————-
Lihat juga...