Seminar Nasional Dalam Rangka Peringatan 49 Tahun Supersemar

Kelompok Musik Anggota TNI AD sebagai pembuka acara

CENDANANEWS (Jakarta)  – Seminar Nasional dalam rangka peringatan 49 tahun Supersemar 1966 dengan tema Kembalikan Pancasila sebagai Jati Diri Bangsa diselenggarakan di Menara Universitas Mercu Buana, Meruya Selatan, Kebun Jeruk, Jakarta Barat Lantai 7, Kamis(19/3/2015)

Seminar Nasional dibuka dengan penampilan kelompok musik dari Anggota TNI AD yang menyanyikan lagu penyemangat bagi para peserta seminar yang diikuti oleh ratusan mahasiswa Mercubuana dari berbagai fakultas serta ratusan siswa SMA dari Jakarta Barat.

Cosmos Batubara

Dilanjutkan dengan sambutan sekaligus kisah pergerakan mahasiswa “Angkatan 66” oleh  Dr. Cosmos Batubara yang kala itu merupakan aktivis pergerakan mahasiswa. Cosmos Batubara juga menjelaskan tentang awal mula munculnya Tritura yang salah satu tuntutannya adalah Bubarkan PKI, 
Tri Tuntutan Rakyat (atau biasa disingkat Tritura) adalah tiga tuntutan kepada pemerintah yang diserukan para mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Selanjutnya diikuti oleh kesatuan-kesatuan aksi yang lainnya seperti Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Buruh Indonesia (KABI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI), dan Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI).

DR Cosmas Batubara dengn penuh semangat di depan ratusan mahasiswa Mercubuana menceritakan awal mula munculnya Tritura serta demonstrasi mahasiswa di Jakarta dan berbagai daerah

Ketika gelombang demonstrasi menuntut pembubaran PKI semakin keras, pemerintah tidak segera mengambil tindakan. Keadaan negara Indonesia sudah sangat parah, baik dari segi ekonomi maupun politik. Harga barang naik sangat tinggi terutama Bahan bakar minyak (BBM). Oleh karenanya, pada tanggal 12 Januari 1966, KAMI dan KAPPI memelopori kesatuan aksi yang tergabung dalam Front Pancasila mendatangi DPR-GR menuntut Tritura. Isi Tritura adalah:

  1. Pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya
  2. Perombakan kabinet Dwikora
  3. Turunkan harga 
Tanpa bermaksud membanding-bandingkan dengan pergerakan mahasiswa masa kini, Cosmos menegaskan bahwa pergerakan mahasiswa pada masa itu merupakan gerakan murni dari para mahasiswa yang ingin memperbaiki keadaan sosial politik. Tetapi, masih menurut Cosmos, pergerakan ini juga tidak luput dari kepentingan lain yaitu PKI yang kala itu menunggangi berbagai organisasi sehingga organisasi mahasiswa yang bertekad melakukan perubahan memutuskan untuk melakukan demonstrasi melawan pemerintah berkuasa kala itu dibawah kepemimpinan Presiden Ir. Soekarno.

Rentetan demonstrasi yang terjadi menyuarakan Tritura akhirnya diikuti keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) oleh Presiden Soekarno yang memerintahkan kepada Mayor Jenderal Soeharto selaku panglima Angkatan Darat untuk mengambil tindakan yang perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.

Cosmas Batubara mengungkapkan, tuntutan ketiga dalam Tritura yaitu Turunkan Harga, oleh Pemerintahan Soeharto diimplementasikan dalam langkah jangka panjang yang dikonkritkan dalam pembuatan waduk untuk pertanian, perumahan dan juga industri

Sulastomo salah satu tokoh HMI menjawab pertanyaan mahasiswa Mercubuana menegaskan sejarah pergerakan harus diketahui yang sebenarnya terjadi

Selain, Cosmos Batubara, Doktor Sulastomo juga menjadi narasumber dalam seminar ini, Sulastomo mewakili HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Sulastomo mengatakan saat menjawab pertanyaan mahasiswa terkait keabsahan Supersemar  bahwa Supersemar berangkat dari situasi bangsa yang kala itu sedang dalam kondisi suasana sosial dan politik yang sedang tidak menentu.

“Supersemar memang selalu dipertanyakan naskah Supersemar yang asli.  Jika selama ini isu naskah tersebut palsu maka bisa dijelaskan bahwa jika dinyatakan palsu maka Bung Karno yang kala itu masih hidup bisa mengatakan bahwa Supersemar itu palsu namun faktanya tidak demikian” Jelas Sulastomo

—————————————-
Kamis, 19 Maret 2015
Jurnalis : Henk Widi
Editor : Sari Puspita Ayu
—————————————

Lihat juga...